• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Ketika Ilmu Dipisahkan Dari Agama (bagian 2 dari 3 tulisan) Mencari Jalan Keluar: Dari Islamisasi Ilmu hingga Sintesa Semu

fusilatnews by fusilatnews
May 28, 2026
in Feature, Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd. & Dr. Aries Musnandar

Kesadaran bahwa dunia pendidikan Islam sedang mengidap penyakit akut akibat dikotomi ilmu sebenarnya bukanlah barang baru. Sejak pertengahan abad ke-20, para cendekiawan Muslim sejagat telah mengendus ancaman sekularisasi ini. Gelombang kegelisahan intelektual tersebut memuncak dalam Konferensi Dunia tentang Pendidikan Islam Pertama di Mekah pada tahun 1977.  Dari sanalah rahim sejarah melahirkan berbagai proyek besar untuk meruntuhkan tembok pemisah antara sains dan agama.

Namun, setelah hampir setengah abad berbagai konsep digulirkan, mengapa institusi pendidikan kita masih kerap melahirkan “manusia terbelah”? Mengapa umat Islam belum juga bangkit dari keterpurukan inovasi global? Jawabannya terletak pada cara kita mengeksekusi jalan keluar tersebut, yang sering kali terjebak dalam romantisme teoretis, labelisasi formal, atau bahkan berakhir menjadi sebuah sintesa semu.

Gelombang “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”

Salah satu respons paling masif terhadap krisis dikotomi ini adalah gerakan Islamization of Knowledge (Islamisasi Ilmu Pengetahuan). Gagasan yang dimotori oleh pemikir besar seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan dimasyarakatkan secara global oleh Prof. Ismail Raji al-Faruqi ini berangkat dari premis yang sangat kuat: sains modern tidaklah netral; ia telah disusupi oleh pandangan hidup Barat (Western worldview) yang sekuler, materialistik, dan mengeliminasi Tuhan dari realitas alam.

Bagi Al-Attas, masalah utama umat Islam adalah loss of adab (hilangnya adab/keadaban) yang bermuara pada kekacauan ilmu (confusion of knowledge). Oleh karena itu, solusinya adalah melakukan dewesternisasi terhadap ilmu pengetahuan modern, kemudian menginfusinya dengan elemen-elemen kunci pandangan hidup Islam (Islamic worldview).

Gerakan ini sempat menyalakan api optimisme yang luar biasa di seantero dunia Islam. Berbagai universitas Islam internasional didirikan dengan cetak biru yang megah. Namun, ketika gagasan tinggi ini diturunkan ke level praktis persekolahan dan perkuliahan, ia sering kali kehilangan daya dobraknya. Mengapa? Karena penafsiran di tingkat akar rumput kerap kali menyederhanakan esensi “Islamisasi” itu sendiri.

Jebakan “Islamisasi Tempelan” (Ayatisasi)

Dalam realitas instruksional di ruang-ruang kelas, proyek Islamisasi ilmu pengetahuan sering kali terjebak pada apa yang disebut sebagai “Ayatisasi”. Ini adalah sebuah reduksi metodologis di mana ilmu umum tetap diajarkan dengan paradigma Barat yang sekuler, namun di awal atau di akhir pelajaran sekadar ditempeli atau dicari-carikan legitimasi ayat Al-Qur’an atau Hadis yang dirasa cocok.

Mari kita kritisi praktiknya:

  • Dalam pelajaran biologi, materi tentang anatomi tubuh manusia dijelaskan secara murni mekanistik, lalu di akhir sesi guru membaca surat At-Tin untuk mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
  • Dalam pelajaran ekonomi, teori pasar bebas Adam Smith diajarkan secara mutlak, kemudian guru menambahkan catatan kaki bahwa Islam juga mengatur tentang kejujuran berdagang.

Ini bukanlah integrasi ilmu, melainkan kosmetik keagamaan. Sains dan agama tidak melebur dalam satu kesatuan epistemologis, melainkan hanya berdiri berdampingan secara canggung. Pola ini tidak mengubah cara berpikir (mindset) siswa dalam melihat alam semesta, sebab dasar logikanya tetap sekuler, hanya dibungkus dengan jubah spiritual.

Sintesa Semu: Integrasi yang Kehilangan Ruh

Selain Islamisasi ilmu, jalan keluar lain yang marak diadopsi belakangan ini adalah model penggabungan kelembagaan. Kita melihat menjamurnya sekolah-sekolah berlabel “Islam Terpadu” (IT) atau transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Model ini mengusung metafora yang indah, mulai dari “pohon ilmu”, “jaring laba-laba”, hingga “roda integrasi”.

Secara struktural, langkah ini patut diapresiasi karena mencoba meruntuhkan sekat administrasi antara Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan. Namun, pada tataran substansi kurikulum, yang sering kali terjadi barulah sebatas sintesa semu atau penggabungan yang bersifat mekanik-akumulatif.

Integrasi model ini di lapangan kerap kali berarti “menambah beban jam pelajaran”. Siswa sekolah umum dibebani dengan tambahan hafalan Al-Qur’an, bahasa Arab, dan fikih yang padat. Sebaliknya, mahasiswa di universitas Islam dituntut menguasai sains murni, namun mata kuliah agamanya terisolasi di sudut mata kuliah dasar umum (MKDU).

Akibatnya, kurikulum menjadi sangat gemuk, membuat peserta didik lelah secara kognitif, tetapi gagal memicu kesadaran batin bahwa rumus fisika yang mereka hitung dan ayat Al-Qur’an yang mereka hafal berasal dari satu hulu yang sama. Ini adalah kompromi kurikulum, bukan peleburan paradigma.

Mengapa Jalan Keluar Ini Mengalami Stagnasi?

Ada beberapa alasan fundamental mengapa berbagai upaya mencairkan dikotomi ilmu selama ini cenderung berjalan di tempat:

  1. Sindrom Defensif dan Apologetis

Umat Islam sering kali terjebak pada sikap mental apologetis—merasa puas hanya dengan mengklaim bahwa penemuan sains modern sebenarnya “sudah ada di dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu”. Sikap ini membuat kita menjadi bangsa yang menengok ke belakang secara pasif, alih-alih menjadi produsen ilmu pengetahuan yang aktif melakukan riset di laboratorium.

  1. Kelemahan Metodologi Penelitian

Sains Barat unggul karena kekuatan metodologi empiris dan eksperimentalnya. Sementara itu, upaya integrasi di dunia Islam sering kali terlalu didominasi oleh pendekatan normatif. Kita pandai berwacana di atas kertas seminar, namun gagap ketika harus menurunkan gagasan tersebut menjadi metodologi sains yang aplikatif di lapangan.

  1. Dualisme Kompetensi Pendidik

Kita masih mengalami kelangkaan guru atau dosen “dwibahasa secara konseptual”. Guru sains umumnya buta terhadap khazanah pemikiran Islam dan metodologi ushul fikih, sementara guru agama umumnya gagap terhadap perkembangan mutakhir sains modern seperti kecerdasan buatan atau bioteknologi. Bagaimana mungkin integrasi terjadi jika para pengajarnya sendiri masih hidup dalam keterbelahan paradigma?

 

Menatap ke Depan: Menembus Batas Formalitas

Jika Islamisasi Ilmu Pengetahuan baru menyentuh tatanan filosofis-teoretis dan Sintesa Semu baru menyentuh tatanan struktural-kurikuler, maka dunia pendidikan kita jelas membutuhkan lompatan paradigma yang jauh lebih radikal dan membumi.Kita tidak bisa lagi mempertahankan cara-cara lama yang hanya mengubah label, kemasan, atau sekadar menambah porsi muatan lokal keagamaan.

Sebab, jika kita terus bertahan dalam jebakan sintesa semu ini, kita hanya akan terus melahirkan generasi yang saleh di atas sajadah, namun menjadi penonton yang lumpuh di bawah panggung sejarah. Kita membutuhkan rekonstruksi total—sebuah cetak biru pendidikan yang tidak lagi memadukan ilmu dan agama secara paksa, melainkan mengembalikan keduanya pada fitrah penyatuan yang hakiki.

 

Profil Penulis

Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)  merupakan akademisi dan pemikir pendidikan Islam yang aktif mengembangkan paradigma integrasi keilmuan dalam dunia pendidikan tinggi Islam di Indonesia.

Dr. Aries Musnandar, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang) yang aktif menulis terkait pendidikan Islam, pelatihan soft skills, integrasi ilmu, transformasi peradaban Islam di era modern dan aktif  pembicara di forum Internasional

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Papua dalam Sorotan Dunia

fusilatnews

fusilatnews

Related Posts

Papua dalam Sorotan Dunia
Feature

Papua dalam Sorotan Dunia

May 28, 2026
PSN PIK 2 Terindikasi Dugaan Korupsi
Birokrasi

Prabowo Tidak Berani Mengembalikan Ke UU KPK Yg Awal – Mengejar Koruptor Hingga ke Antartika: Omon-Omon Belaka?

May 28, 2026
Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya
Birokrasi

Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya

May 28, 2026

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati
Birokrasi

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

by Karyudi Sutajah Putra
May 25, 2026
0

Jakarta - Fusilatnews -Indonesia dan tujuh negara lain mengutuk keras tindakan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir dan pasukan Israel...

Read more
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

Aliansi Melawan Rezim Deformasi: Militerisme Bangkit, Reformasi Mati

May 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Ilmu Dipisahkan Dari Agama (bagian 2 dari 3 tulisan) Mencari Jalan Keluar: Dari Islamisasi Ilmu hingga Sintesa Semu

May 28, 2026
Papua dalam Sorotan Dunia

Papua dalam Sorotan Dunia

May 28, 2026
PSN PIK 2 Terindikasi Dugaan Korupsi

Prabowo Tidak Berani Mengembalikan Ke UU KPK Yg Awal – Mengejar Koruptor Hingga ke Antartika: Omon-Omon Belaka?

May 28, 2026
Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya

Dari Dwifungsi Menuju Omnipresen: Ketika Tentara Mengurus Semuanya

May 28, 2026
Harapan Rakyat Kandas di Janji Prabowo

Harapan Rakyat Kandas di Janji Prabowo

May 28, 2026
PII DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru 2026–2028, Dorong Inovasi dan Penguatan Kaderisasi Pelajar

PII DKI Jakarta Lantik Pengurus Baru 2026–2028, Dorong Inovasi dan Penguatan Kaderisasi Pelajar

May 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Ilmu Dipisahkan Dari Agama (bagian 2 dari 3 tulisan) Mencari Jalan Keluar: Dari Islamisasi Ilmu hingga Sintesa Semu

May 28, 2026
Papua dalam Sorotan Dunia

Papua dalam Sorotan Dunia

May 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...