Oleh: Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd. & Dr. Aries Musnandar
Kesadaran bahwa dunia pendidikan Islam sedang mengidap penyakit akut akibat dikotomi ilmu sebenarnya bukanlah barang baru. Sejak pertengahan abad ke-20, para cendekiawan Muslim sejagat telah mengendus ancaman sekularisasi ini. Gelombang kegelisahan intelektual tersebut memuncak dalam Konferensi Dunia tentang Pendidikan Islam Pertama di Mekah pada tahun 1977. Dari sanalah rahim sejarah melahirkan berbagai proyek besar untuk meruntuhkan tembok pemisah antara sains dan agama.
Namun, setelah hampir setengah abad berbagai konsep digulirkan, mengapa institusi pendidikan kita masih kerap melahirkan “manusia terbelah”? Mengapa umat Islam belum juga bangkit dari keterpurukan inovasi global? Jawabannya terletak pada cara kita mengeksekusi jalan keluar tersebut, yang sering kali terjebak dalam romantisme teoretis, labelisasi formal, atau bahkan berakhir menjadi sebuah sintesa semu.
Gelombang “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”
Salah satu respons paling masif terhadap krisis dikotomi ini adalah gerakan Islamization of Knowledge (Islamisasi Ilmu Pengetahuan). Gagasan yang dimotori oleh pemikir besar seperti Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan dimasyarakatkan secara global oleh Prof. Ismail Raji al-Faruqi ini berangkat dari premis yang sangat kuat: sains modern tidaklah netral; ia telah disusupi oleh pandangan hidup Barat (Western worldview) yang sekuler, materialistik, dan mengeliminasi Tuhan dari realitas alam.
Bagi Al-Attas, masalah utama umat Islam adalah loss of adab (hilangnya adab/keadaban) yang bermuara pada kekacauan ilmu (confusion of knowledge). Oleh karena itu, solusinya adalah melakukan dewesternisasi terhadap ilmu pengetahuan modern, kemudian menginfusinya dengan elemen-elemen kunci pandangan hidup Islam (Islamic worldview).
Gerakan ini sempat menyalakan api optimisme yang luar biasa di seantero dunia Islam. Berbagai universitas Islam internasional didirikan dengan cetak biru yang megah. Namun, ketika gagasan tinggi ini diturunkan ke level praktis persekolahan dan perkuliahan, ia sering kali kehilangan daya dobraknya. Mengapa? Karena penafsiran di tingkat akar rumput kerap kali menyederhanakan esensi “Islamisasi” itu sendiri.
Jebakan “Islamisasi Tempelan” (Ayatisasi)
Dalam realitas instruksional di ruang-ruang kelas, proyek Islamisasi ilmu pengetahuan sering kali terjebak pada apa yang disebut sebagai “Ayatisasi”. Ini adalah sebuah reduksi metodologis di mana ilmu umum tetap diajarkan dengan paradigma Barat yang sekuler, namun di awal atau di akhir pelajaran sekadar ditempeli atau dicari-carikan legitimasi ayat Al-Qur’an atau Hadis yang dirasa cocok.
Mari kita kritisi praktiknya:
- Dalam pelajaran biologi, materi tentang anatomi tubuh manusia dijelaskan secara murni mekanistik, lalu di akhir sesi guru membaca surat At-Tin untuk mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
- Dalam pelajaran ekonomi, teori pasar bebas Adam Smith diajarkan secara mutlak, kemudian guru menambahkan catatan kaki bahwa Islam juga mengatur tentang kejujuran berdagang.
Ini bukanlah integrasi ilmu, melainkan kosmetik keagamaan. Sains dan agama tidak melebur dalam satu kesatuan epistemologis, melainkan hanya berdiri berdampingan secara canggung. Pola ini tidak mengubah cara berpikir (mindset) siswa dalam melihat alam semesta, sebab dasar logikanya tetap sekuler, hanya dibungkus dengan jubah spiritual.
Sintesa Semu: Integrasi yang Kehilangan Ruh
Selain Islamisasi ilmu, jalan keluar lain yang marak diadopsi belakangan ini adalah model penggabungan kelembagaan. Kita melihat menjamurnya sekolah-sekolah berlabel “Islam Terpadu” (IT) atau transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Model ini mengusung metafora yang indah, mulai dari “pohon ilmu”, “jaring laba-laba”, hingga “roda integrasi”.
Secara struktural, langkah ini patut diapresiasi karena mencoba meruntuhkan sekat administrasi antara Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan. Namun, pada tataran substansi kurikulum, yang sering kali terjadi barulah sebatas sintesa semu atau penggabungan yang bersifat mekanik-akumulatif.
Integrasi model ini di lapangan kerap kali berarti “menambah beban jam pelajaran”. Siswa sekolah umum dibebani dengan tambahan hafalan Al-Qur’an, bahasa Arab, dan fikih yang padat. Sebaliknya, mahasiswa di universitas Islam dituntut menguasai sains murni, namun mata kuliah agamanya terisolasi di sudut mata kuliah dasar umum (MKDU).
Akibatnya, kurikulum menjadi sangat gemuk, membuat peserta didik lelah secara kognitif, tetapi gagal memicu kesadaran batin bahwa rumus fisika yang mereka hitung dan ayat Al-Qur’an yang mereka hafal berasal dari satu hulu yang sama. Ini adalah kompromi kurikulum, bukan peleburan paradigma.
Mengapa Jalan Keluar Ini Mengalami Stagnasi?
Ada beberapa alasan fundamental mengapa berbagai upaya mencairkan dikotomi ilmu selama ini cenderung berjalan di tempat:
- Sindrom Defensif dan Apologetis
Umat Islam sering kali terjebak pada sikap mental apologetis—merasa puas hanya dengan mengklaim bahwa penemuan sains modern sebenarnya “sudah ada di dalam Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu”. Sikap ini membuat kita menjadi bangsa yang menengok ke belakang secara pasif, alih-alih menjadi produsen ilmu pengetahuan yang aktif melakukan riset di laboratorium.
- Kelemahan Metodologi Penelitian
Sains Barat unggul karena kekuatan metodologi empiris dan eksperimentalnya. Sementara itu, upaya integrasi di dunia Islam sering kali terlalu didominasi oleh pendekatan normatif. Kita pandai berwacana di atas kertas seminar, namun gagap ketika harus menurunkan gagasan tersebut menjadi metodologi sains yang aplikatif di lapangan.
- Dualisme Kompetensi Pendidik
Kita masih mengalami kelangkaan guru atau dosen “dwibahasa secara konseptual”. Guru sains umumnya buta terhadap khazanah pemikiran Islam dan metodologi ushul fikih, sementara guru agama umumnya gagap terhadap perkembangan mutakhir sains modern seperti kecerdasan buatan atau bioteknologi. Bagaimana mungkin integrasi terjadi jika para pengajarnya sendiri masih hidup dalam keterbelahan paradigma?
Menatap ke Depan: Menembus Batas Formalitas
Jika Islamisasi Ilmu Pengetahuan baru menyentuh tatanan filosofis-teoretis dan Sintesa Semu baru menyentuh tatanan struktural-kurikuler, maka dunia pendidikan kita jelas membutuhkan lompatan paradigma yang jauh lebih radikal dan membumi.Kita tidak bisa lagi mempertahankan cara-cara lama yang hanya mengubah label, kemasan, atau sekadar menambah porsi muatan lokal keagamaan.
Sebab, jika kita terus bertahan dalam jebakan sintesa semu ini, kita hanya akan terus melahirkan generasi yang saleh di atas sajadah, namun menjadi penonton yang lumpuh di bawah panggung sejarah. Kita membutuhkan rekonstruksi total—sebuah cetak biru pendidikan yang tidak lagi memadukan ilmu dan agama secara paksa, melainkan mengembalikan keduanya pada fitrah penyatuan yang hakiki.
Profil Penulis
Prof. (Emeritus) Dr. Sunardji Dahri Tiam, M.Pd, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang) merupakan akademisi dan pemikir pendidikan Islam yang aktif mengembangkan paradigma integrasi keilmuan dalam dunia pendidikan tinggi Islam di Indonesia.
Dr. Aries Musnandar, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang) yang aktif menulis terkait pendidikan Islam, pelatihan soft skills, integrasi ilmu, transformasi peradaban Islam di era modern dan aktif pembicara di forum Internasional






















