• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

MENGGUGAT ETIKA KELUARGA DALAM RUANG NEGARA

fusilat by fusilat
April 27, 2026
in Birokrasi, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Dalam sebuah ruang remang yang dipenuhi aroma kertas tua dan kepulan asap pipa, kita barangkali bisa membayangkan Hergé dan Gan KL duduk berhadapan. Di atas meja mereka, terhampar sketsa-sketsa petualangan: Tintin yang melintasi kemacetan Jakarta menuju Sydney, dan para pendekar berbaju ringkas yang terbang di atas genteng-genteng kota raja. Sekilas, mereka hanya bercerita tentang hiburan. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke balik setiap goresan pena dan pilihan diksi saduran, kita sedang menyaksikan sebuah teater moral tentang bagaimana kekuasaan dikelola, bagaimana kesalahan diingat, dan bagaimana sebuah bangsa memilih untuk merahasiakan lukanya.

Di Indonesia, kita memiliki sebuah frasa yang sering kali diucapkan dengan nada takzim, seolah-olah ia adalah puncak dari segala kearifan: Mikul Duwur Mendem Jero. Secara harfiah, ia berarti memikul setinggi-tingginya jasa dan menanam sedalam-dalamnya aib. Dalam lingkungan domestik, ini adalah bakti yang luhur. Seorang anak tak perlu mengumumkan keburukan ayahnya di pasar; seorang murid selayaknya menjaga marwah gurunya di depan umum.

Namun, tragedi komunikasi politik kita bermula ketika etika ruang tamu ini dipindahkan secara paksa ke Istana Negara. Ketika Mikul Duwur Mendem Jero berubah menjadi doktrin publik, negara berhenti berfungsi sebagai sistem hukum dan berubah menjadi sistem kekerabatan yang kolusi. Kita melihatnya dalam sejarah panjang transisi kekuasaan kita—sebuah rangkaian “balas budi” dan “perlindungan reputasi” yang membuat publik kehilangan haknya untuk belajar dari kegagalan.

Cermin dari Dunia Persilatan

Mari kita menengok sejenak ke arah timur, melalui jendela-jendela cerita silat (Cersil) yang begitu populer di tangan Gan KL. Mengapa kisah-kisah ini tetap relevan? Barangkali karena mereka menyajikan sebuah antitesis yang tajam terhadap kebisuan politik kita.

Dalam cersil, “Budi” adalah mata uang moral yang paling berat. Seorang tokoh bisa berhutang nyawa, dan utang itu harus dibayar, bahkan dengan nyawa pula. Namun, para maestro seperti Jin Yong atau Liang Ie Shen—yang disadur dengan begitu lincah oleh Gan KL—selalu menempatkan sebuah pagar api bernama Hiap (Keadilan/Kepahlawanan). Ketika Budi bertabrakan dengan Keadilan, sang pendekar dipaksa memilih. Dan dalam dunia ini, pilihan yang paling agung bukanlah menyembunyikan kesalahan sang penolong, melainkan menegakkan kebenaran meskipun itu berarti menjadi “anak durhaka”.

Ambil contoh Tio Tan Hong dalam Pedang Kayu Harum (Ping Zong Xia Ying). Ia memikul beban sejarah keluarganya yang dianggap sebagai antek pengkhianat. Secara personal, ia punya seribu alasan untuk membenci Dinasti Ming dan “menanam dalam” dendam keluarganya demi memulihkan martabat trah Tio. Namun, Tio Tan Hong adalah seorang sistemis dalam caranya yang paling murni. Ia melihat bahwa jika ia mengejar dendam personal, sistem sosial yang lebih besar (negara dan rakyat) akan hancur oleh invasi Mongol. Ia memilih untuk “memikul tinggi” kepentingan rakyat di atas sentimen keluarganya. Ia tidak menutupi sejarah; ia melampauinya.

Atau lihatlah Yo Ko dalam Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali. Yo Ko menghabiskan masa mudanya dalam bayang-bayang sosok ayah yang tidak ia kenal, Yo Kang. Di kepalanya, sang ayah adalah pahlawan yang dizalimi. Namun, ketika kebenaran terungkap bahwa ayahnya adalah seorang kolaborator musuh yang tewas karena kejahatannya sendiri, Yo Ko tidak memilih untuk mendem Jero fakta tersebut demi kehormatan nama belakangnya. Ia menelan pahitnya kebenaran. Ia mengakui kesalahan ayahnya, dan dengan itu, ia memutus kutukan sejarah. Ia berhenti menjadi tawanan masa lalu.

Lalu ada Li Jien Nan dalam seri Pisau Kilat (Xiaoyi Enchou Lu). Judul aslinya secara eksplisit memuat kata “Budi” (En) dan “Dendam” (Chou). Li Jien Nan sering kali terjepit di antara orang-orang yang pernah membantunya, namun kini berada di sisi yang salah secara moral. Baginya, menegakkan keadilan terhadap seseorang yang pernah berbudi padanya adalah bentuk penghormatan tertinggi. Sebab, membiarkan seorang penolong terus berbuat zalim justru adalah bentuk pengkhianatan terhadap makna budi itu sendiri.

Dalam cersil-cersil ini, sejarah tidak pernah dikubur. Kesalahan guru, orang tua, atau pemimpin perguruan adalah sesuatu yang harus dihadapi, dibedah, dan jika perlu, dibersihkan. Inilah yang disebut “Pembersihan Pintu Perguruan”. Sebuah organisasi tidak bisa sehat jika ia terus menyimpan bangkai di bawah karpet kehormatan.

Akar Lokal yang Terpinggirkan

Pertanyaannya kemudian: apakah kita harus menjadi “China” untuk memahami ini? Tentu tidak. Tesis yang mengatakan bahwa bangsa kita secara genetis ditakdirkan untuk selalu Mendem Jero adalah sebuah kekeliruan sejarah. Jika kita menggali lebih dalam, Nusantara memiliki tradisi-tradisi yang justru sangat transparan dan egaliter.

Mari kita bicara tentang Tradisi Pepe atau Munggah Watangan. Di pusat kekuasaan Jawa yang sering dianggap feodal, rakyat jelata memiliki sebuah mekanisme protes yang sangat visual. Mereka akan datang ke alun-alun, mengenakan pakaian putih, dan duduk diam berjemur di bawah matahari yang terik. Ini adalah tindakan “menjemur” persoalan. Ketika seorang pejabat atau kebijakan dianggap lalim, rakyat tidak “menanamnya dalam-dalam”. Mereka membawanya ke ruang terbuka, di hadapan Raja dan semesta. Ini adalah bentuk transparansi purba, sebuah bukti bahwa harmoni tidak boleh dibangun di atas kebohongan.

Lalu ada narasi mengenai Minak Jinggo. Dalam versi sejarah resmi yang sering dipentaskan dalam ketoprak, ia adalah pemberontak yang buruk rupa. Namun dalam narasi-narasi rakyat di pesisir atau wilayah yang jauh dari pusat, Minak Jinggo adalah simbol gugatan terhadap janji penguasa yang dikhianati. Ia menolak untuk patuh buta. Ia adalah antitesis dari kepatuhan total. Ia menunjukkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh seberapa pandai ia menutupi aib atasannya, melainkan seberapa berani ia menuntut hak dan kebenaran.

Budaya di luar Jawa bahkan lebih gamblang lagi dalam menyikapi dilema budi vs keadilan. Di tanah Bugis-Makassar, kepatuhan kepada pemimpin adalah kontrak sosial yang berlandaskan pada Siri’ dan kebenaran. Frasa “Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah” adalah sebuah konstitusi moral yang hidup. Tidak ada kewajiban untuk “memikul tinggi” seorang raja yang telah kehilangan kompas moralnya. Kesetiaan adalah hasil dari keadilan, bukan syarat mutlak yang harus diberikan secara cuma-cuma.

Demikian pula dalam filosofi Minangkabau. Prinsip “Mufakat di bawah, benar di atas” secara eksplisit menyatakan bahwa kebenaran objektif memiliki posisi yang lebih tinggi daripada konsensus atau perintah atasan. Jika sebuah keputusan pemimpin bertentangan dengan kebenaran (logika dan etika), maka ia tidak boleh “ditanam” dalam kesepakatan diam. Ia harus digugat.

Tragedi “Budi” dalam Politik Modern Kita

Lalu, apa yang terjadi pada Indonesia hari ini? Hubungan antara Soeharto-Soekarno hingga Prabowo-Jokowi menunjukkan betapa kuatnya cengkeraman Mikul Duwur Mendem Jero dalam merusak sistem belajar bangsa.

Ketika Pak Harto memilih untuk “memenjarakan” Bung Karno dalam pengasingan yang sunyi namun secara resmi tetap menyebutnya sebagai Proklamator, di sana ada upaya untuk Mendem Jero konflik ideologis yang seharusnya dibedah secara intelektual oleh publik. Kita tidak pernah benar-benar belajar mengapa Orde Lama jatuh dan apa saja lubang-lubang sistemiknya, karena transisi itu dilakukan dengan cara menyembunyikan luka, bukan mengobatinya.

Pola ini berulang. Hubungan antara pemimpin sering kali tampak seperti sebuah transaksi “perlindungan reputasi”. Siapa yang berkuasa hari ini akan melindungi aib penguasa kemarin, dengan harapan aibnya sendiri akan dilindungi oleh penguasa esok hari. Ini adalah sebuah lingkaran setan. Akibatnya, publik—seperti penonton komik Tintin yang hanya melihat panel-panel tanpa dialog—kehilangan konteks mengenai mengapa sebuah kebijakan gagal atau mengapa sebuah institusi korup.

Dalam istilah Teori Sistem, sebuah sistem yang sehat membutuhkan feedback loop (lingkaran umpan balik) yang jujur. Kegagalan adalah informasi berharga untuk melakukan koreksi. Namun, jika kegagalan itu “ditanam dalam-dalam” (mendem jero), sistem tersebut kehilangan kemampuan untuk belajar (learning disability). Kita ditakdirkan untuk mengulangi kesalahan yang sama karena kita dilarang untuk melihat kesalahan tersebut di masa lalu.

Menuju Etika “Pendekar” Publik

Sebagai penutup, barangkali kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memahami kesetiaan. Kesetiaan sejati tidaklah berbentuk kebisuan. Jika kita belajar dari tokoh-tokoh Gan KL, kesetiaan seorang pendekar kepada negerinya justru dibuktikan dengan keberaniannya menghunus pedang terhadap ketidakadilan, meskipun itu dilakukan oleh sosok yang pernah memberinya kehidupan.

Kita tidak perlu menjadi “anti-budaya” untuk menjadi demokratis. Kita hanya perlu meletakkan filosofi pada tempatnya yang tepat. Mikul Duwur Mendem Jero adalah etika domestik untuk menjaga kehangatan keluarga. Namun di ruang publik, di bawah cahaya matahari alun-alun, etika yang harus berlaku adalah etika “menjemur”.

Apa yang salah harus terlihat, apa yang busuk harus dibedah, dan apa yang gagal harus dicatat.
Pemimpin Indonesia di masa depan haruslah mereka yang berani berkata: “Jangan pikul tinggi kesalahanku, dan jangan tanam dalam kegagalanku. Biarlah sejarah mencatatnya dengan jujur, agar anak cucu kita tidak perlu terjatuh di lubang yang sama.”

Sebab, sebuah bangsa yang besar bukan dibangun di atas tumpukan aib yang dikubur rapi, melainkan di atas fondasi kebenaran yang, meskipun pahit, diterima dengan lapang dada. Kita butuh lebih banyak “Pendekar” dalam politik kita—mereka yang paham bahwa hutang budi pada seorang individu tidak boleh dibayar dengan cara mengkhianati seluruh bangsa. Hanya dengan cara itulah, kita berhenti sekadar menjadi penonton sejarah yang bingung, dan mulai menjadi penulis narasi kita sendiri yang lebih adil dan bermartabat.===

CIMAHI, 26 April 2026

Penulis:
Pendiri Forum Aktivis Bandung
Anggota Komite Eksekutif KAMI
Presidium KAPPAK
Ketua Komite Kajian Ilmiah Forum Tanah Air

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih di Istana Negara

Next Post

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

fusilat

fusilat

Related Posts

Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan
Birokrasi

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026
Cross Cultural

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026
Next Post

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

MENGGUGAT ETIKA KELUARGA DALAM RUANG NEGARA

April 27, 2026
Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih di Istana Negara

Prabowo Lantik 6 Pejabat Baru Kabinet Merah Putih di Istana Negara

April 27, 2026
RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

RPP Manajemen ASN: Karpet Merah Dwifungsi dan Ilusi Resiprokalitas yang “Omong Kosong”

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...