• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menguji “Balas Budi” Jokowi pada Megawati

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
January 11, 2023
in Feature
0
PDIP Semakin Panas, Isu Jokowi Gantikan Megawati??
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Arie Putra

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah kader PDI-Perjuangan paling moncer hari ini. Tanpa ada satu pun kekalahan, karier politik Jokowi sampai ke titik tertinggi. Perjalanan politik dari wali kota menuju presiden hanya ditempuh dalam kurang dari sepuluh tahun.
Kehebatan tersebut agaknya mustahil tanpa dukungan PDI-Perjuangan. Tanda tangan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sangat menentukan capaian Jokowi hari ini.

Awal karier Jokowi di kandang Banteng Surakarta, lalu Megawati ‘berjudi’ untuk mencalonkannya menantang petahana di Jakarta. Puncaknya pada 2014, Megawati merelakan tiket pilpres yang bisa dipakainya sendiri untuk mengantarkan Jokowi ke tampuk kekuasaan tertinggi di negeri ini.

Sebagai seorang politisi, Jokowi tentu harus mengakui jasa besar Megawati. Begitupun sebagai bagian dari etnis Jawa atau lebih spesifik lagi orang Solo, balas budi merupakan prinsip tertinggi dalam kehidupan.

Secara sosiologis, kota Surakarta bukanlah daerah yang sederhana. Pemukiman kelas bawah dan menengah-atas dapat berdiri berdampingan. Ideologi religius kanan sampai kiri sekuler juga bersahut-sahutan di daerah yang tidak terlalu luas tersebut. Selain itu, Keraton Surakarta yang merupakan simbol penguasa tradisional juga masih berdenyut hingga hari ini.

Maka di tengah kompleksitas tersebut, warga hidup saling menjaga satu sama lain untuk memastikan stabilitas, agar terhindar dari berbagai konflik. Oleh karena itu, nilai tertinggi dalam alam kebudayaan orang Solo sangat terkait dengan “tahu budi”.

Sebelum masuk ke “tahu budi”, sepertinya kita perlu kembali membaca teori nilai kebudayaan klasik yang diutarakan oleh antropolog Koentjaraningrat. Nilai merupakan sebuah sikap dan tindakan manusia menuju hal yang baik dan semua yang dianggap ideal dalam tatanan kehidupan.

Nilai kebudayaan terkait dengan hakikat manusia dalam kehidupan, karya, kedudukan, alam, dan sosial. Manusia akan selalu bergerak menuju semua yang dianggap baik.

Budi baik bagi orang Solo merupakan sesuatu yang tidak mungkin dilupakan untuk memastikan eksistensi kemanusiaannya. “Wong kang ora ngerti ing budi, padha karo kewan,” begitu bunyi metaforanya. Manusia hanya akan menjadi manusia bila selalu mengingat balas budi.

Kalau sudah lupa jasa dan kebaikan orang lain, maka tidak ada ubahnya dengan hewan. Selayaknya peribahasa melepas anjing terjepit, yang mana bisa menggigit orang yang sudah bermaksud baik untuk membebaskannya, konon ungkapan metafora Jawa di atas memiliki tambahan. “Maka kalau hewan, tentunya boleh disembelih atau kehidupannya diakhiri paksa.”

Pada zaman Orde Baru, ketegangan internal antara Presiden Soeharto dan orang-orang sekitarnya sering berujung pada “penyembelihan” karier politik atau persona non grata. Setelah mengkritisi keterlibatan keluarga Soeharto dalam mengatur pemerintahan Orde Baru, Jenderal Benny Moerdani yang dikenal setia harus mulai merasakan menjadi pesakitan. Pelan-pelan ia tersingkir, akhirnya menghilang dari lingkar kekuasaan Orde Baru.

Begitu pun dengan Letjend (Purn) Ali Murtopo, awalnya berada beberapa jengkal dari Presiden Soeharto. Kemudian, dia ditendang ke atas menjadi Menteri Penerangan. Tidak cukup di situ, Letjend (Purn) Ali juga didepak dari Menteri Penerangan, kemudian diganti dengan Harmoko yang merupakan objek tertawaan para jenderal ketika itu. Sekali lagi, pengganti Ali Murtopo “hanya” sekelas wartawan yang tidak segagah seorang jenderal militer.

Meskipun bukan lahir di Kota Surakarta, Presiden Soeharto dikenal sangat dengan kultur orang Solo. Bahkan, Ibu Negara Kedua Siti Hartinah atau Tien Soeharto merupakan keluarga ningrat Surakarta.

Kembali ke Presiden Jokowi, sangat mungkin konflik batin terjadi di dalam dirinya. Meskipun kekuasaannya sebagai seorang Presiden akan berakhir, pengaruhnya harus tetap bertahan. Di satu sisi, Presiden Jokowi sangat percaya pada hasil-hasil survei yang meletakkan nama Ganjar Pranowo sebagai kandidat teratas. Namun di sisi yang lain, Presiden sangat paham sulitnya mencalonkan Ganjar lewat PDI-Perjuangan.

Kenapa Presiden sangat terikat pada hasil survei? Sebab, Presiden Jokowi bisa mencapai titik ini berkat keimanannya terhadap angka-angka survei. Keberlanjutan pengaruhnya pun dapat lebih terjamin bila mendukung kandidat dengan hasil polling yang meyakinkan.

Namun di sisi yang lain, Presiden Jokowi harus berhadapan dengan skenario milik PDI-Perjuangan. Meskipun tidak memiliki elektabilitas sebesar Ganjar, nama Ketua DPR Puan Maharani masih memiliki dukungan elite yang sangat kuat. Tentu kekhawatirannya, kandidat usungan PDI-Perjuangan bisa kalah, kemudian semua rencana-rencana yang sudah disusun bisa berantakan.

Di tengah keterbelahan antara Puan dan Ganjar, belakangan muncul spekulasi yang mengejutkan soal kemunculan nama Megawati sendiri sebagai salah satu kandidat capres PDI-Perjuangan. Kemunculan nama Presiden Kelima ini merupakan sebuah upaya keluar dari kebuntuan antara Ganjar dan Puan.

Tentunya, pro-kontra tak dapat terhindarkan di kalangan elite PDI-Perjuangan. Situasi yang harus dihadapi oleh Presiden Jokowi juga akan menjadi semakin rumit. Tetapi paling tidak, jika nama Puan Maharani masih bisa ditolak karena alasan hasil surveinya tidak mumpuni, maka Presiden Jokowi tentunya sangat sulit menghindar untuk mendukung Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati.

Kembali lagi, kita bicara soal nilai kebudayaan orang Solo tadi, yakni balas budi. Jika dorongan terhadap pencalonan Megawati sebagai capres menguat, Presiden Jokowi akan menghadapi sebuah ujian kesetiaan. Apakah Presiden tetap bekerja untuk skenarionya sendiri atau mempermudah skenario Megawati sebagai capres?

Sampai pengujung 2024, Presiden Jokowi masih duduk sebagai kepala pemerintahan. Tentunya, pengaruhnya di antara partai pendukung pemerintah sangat kuat. Dukungan Presiden Jokowi terhadap Megawati bukan hanya soal kekuatan pendukung untuk bertarung, tetapi juga dapat sampai menentukan lawan tanding yang relatif sepadan untuk Megawati.

Jika betarung dengan kandidat kuat versi survei, ide pencalonan Megawati tentu tidak masuk akal. Angka survei Megawati tentu tidak semoncer Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto yang sudah sering mengikuti pentas elektoral. Namun jika panggung Pilpres 2024 dihelat untuk mentasnya para ketua partai politik, pencalonan Megawati sangat rasional, hanya Prabowo Subianto Ketua Partai yang punya elektabilitas mumpuni.

Di sini, peran Presiden Jokowi berkontribusi untuk menentukan tema utama dalam pilpres nanti, tarung survei atau organisasi kepartaian. Jika Presiden ingin meninggalkan legacy yang penting buat partai pendukung utamanya, tentu budi baik selama ini mesti terbayar tuntas. Namun, rencana-rencana strategisnya di masa depan seperti Ibu Kota Negara terjamin hanya lewat dukungan terhadap kandidat yang diprediksi berpeluang memenangkan kontestasi.

Di sisi lain, Presiden Jokowi juga masih meninggalkan putranya berkarier di PDI-Perjuangan. Menjaga hubungan baik dengan partai sama pentingnya dengan memenangkan Pilpres 2024. Presiden tentu ingin sebuah akhir yang indah bagi karier politiknya, sekaligus awal yang gemilang bagi trah politik Joko Widodo.

Dikutip dari detikom Rabu 11 Januari 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Menangkap Sinyal Megawati Mengatakan Prihatin ke Jokowi : “Duh Kasian Deh”!!

Next Post

British Airways Luncurkan Seragam Baru Perkenalkan Jilbab Dan Jumpsuit 

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang
Feature

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus
Birokrasi

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik
Feature

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Next Post
British Airways Luncurkan Seragam Baru Perkenalkan Jilbab Dan Jumpsuit 

British Airways Luncurkan Seragam Baru Perkenalkan Jilbab Dan Jumpsuit 

Perang Sungguhan Pernah Terjadi gegara Sepak Bola

Perang Sungguhan Pernah Terjadi gegara Sepak Bola

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia
News

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

by fusilat
April 17, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Awal minggu ini beredar sejumlah laporan media internasional yang mengungkap adanya upaya Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh akses...

Read more
Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

Kekerasan Seksual di Kampus: Urgensi Tranformasi Holistik Lewat “Inclusive University Governance”

April 15, 2026
Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

Tanah dan Bangunan di Jalan Teuku Umar No 2 Menteng Bukan Milik Kemenhan RI, Ini Alasannya!

April 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026
Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

April 17, 2026
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

April 17, 2026
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

April 17, 2026
Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

April 17, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

Rismon Sianipar: Ketika “Ilmiah” Menjadi Senjata, Lalu Berbalik Menjadi Bumerang

April 17, 2026
Pilkada Jakarta Selesai, Inisial S atau Kaesang?

PSI Klaim ‘Borong’ Kader NasDem, Nama-nama Disimpan: Manuver Senyap atau Sinyal Perang Politik?

April 17, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist