• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menjelang Indonesia vs Jepang – Naturalisasi: Jalan Pintas atau Jalan Terjal Menuju Peningkatan Kualitas?

Ali Syarief by Ali Syarief
June 10, 2025
in Feature, Sport
0
Menjelang Indonesia vs Jepang  – Naturalisasi: Jalan Pintas atau Jalan Terjal Menuju Peningkatan Kualitas?

Hajime Moriyasu

Share on FacebookShare on Twitter

Fusilatnews  – “Level Indonesia meningkat berkat naturalisasi.” Sebuah pernyataan jujur, datar, dan sangat to the point, tapi terasa menggelitik ketika keluar dari mulut Hajime Moriyasu, pelatih timnas Jepang. Seolah menyentil, seolah memuji. Sebuah ungkapan yang bisa dimaklumi, tetapi mengundang banyak tafsir.

Naturalisasi bukanlah istilah baru dalam sepak bola. Namun, ketika sebuah negara yang memiliki populasi lebih dari 270 juta jiwa harus menggantungkan peningkatan kualitas tim nasionalnya kepada pemain-pemain yang “diimpor”, pertanyaannya bukan lagi soal strategi, tapi eksistensi: di mana para talenta lokal?

Moriyasu, dengan elegansi khas pelatih Asia Timur yang jarang bermain dengan kata-kata emosional, menyampaikan hal itu seperti seorang guru yang menyindir muridnya: “kamu pintar, tapi hanya saat mencontek.” Tentu saja, maksudnya bukan sepenuhnya buruk. Indonesia memang meningkat. Dan kita semua bisa melihat itu. Tetapi peningkatan seperti apa?

Ya, Timnas Garuda kini tampil lebih meyakinkan. Ada Jay Idzes yang tenang di lini belakang, Thom Haye yang cerdas di lini tengah, hingga Ragnar Oratmangoen yang lincah menusuk dari sisi sayap. Semua nama itu bukan hasil dari pembinaan usia muda lokal, bukan jebolan kompetisi usia dini nasional, apalagi buah tangan dari sekolah sepak bola milik PSSI. Mereka hasil seleksi genetik dari diaspora, pilihan praktis yang cepat dan efisien—dan barangkali, satu-satunya jalan pintas yang tersedia.

Maka tak heran jika Moriyasu menyebut Indonesia sebagai tim yang “memiliki momentum di Asia.” Momentum, bukan fondasi. Kesan bahwa performa Indonesia tengah naik, tetapi belum tentu berdiri di atas sistem yang kokoh.

Indonesia memang sedang membangun “tim nasional”, tapi apakah sedang membangun “sepak bola nasional”? Dua hal itu tampak mirip, namun berbeda secara fundamental. Tim nasional adalah produk akhir; sepak bola nasional adalah proses panjang, dari lapangan tanah hingga stadion utama.

Naturalisasi, dengan segala pro-kontranya, adalah semacam doping sah. Ia mempercepat kinerja. Tapi seperti doping, ia juga bisa menutupi kelemahan sistemik. Dan di sinilah kritik Moriyasu—yang terbungkus pujian—menjadi relevan. Ketika seorang pelatih dari negara yang membangun sepak bolanya dari sekolah dasar hingga J-League, berbicara soal “peningkatan” Indonesia yang bersandar pada naturalisasi, itu bukan pujian kosong. Itu kaca cermin.

Sebab Jepang bukan tak pernah mencoba naturalisasi. Tetapi mereka memilih membangun dari bawah. Menanam, bukan membeli. Dan hasilnya bukan hanya prestasi di lapangan, tetapi juga budaya sepak bola yang hidup di masyarakat.

PSSI, dalam konteks ini, seperti seorang tukang kebun yang kehabisan pupuk organik, lalu menyiram tanamannya dengan cairan kimia instan. Hasilnya memang cepat, warna daunnya jadi hijau cerah, tetapi tanahnya perlahan mati.

Pertanyaannya kini bukan apakah naturalisasi baik atau buruk. Tapi: apakah kita siap berhenti di situ, atau menjadikannya jembatan menuju sistem pembinaan yang sesungguhnya? Karena jika tidak, maka pujian Moriyasu akan menjadi nisan yang sunyi: “Indonesia memang hebat, berkat pemain luar.”

Dan itu, jika kita jujur, adalah ironi yang mengundang tepuk tangan sekaligus keprihatinan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Mau Dekat Allah, Kosongkan Dirimu!

Next Post

Kapal-Kapal Itu Milik Siapa?

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Kapal-Kapal Itu Milik Siapa?

Kapal-Kapal Itu Milik Siapa?

Bisik-Bisik Pemakzulan: Prabowo dan Dua Wajah Kabinet yang Menyimpan Agenda

Amit-amit, Jangan Sampai Presiden Prabowo Dibunuh

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist