By Paman BED
Sore itu, langit tidak sedang muram. Matahari turun perlahan, meninggalkan semburat jingga yang hangat. Namun di serambi rumah sederhana itu, seorang pemuda duduk termangu. Di tangannya, gawai menampilkan berita yang tak ingin ia baca—namun terlanjur menancap di benaknya.
Seorang tokoh yang ia kagumi, ustadz yang suaranya kerap mengisi ruang dengarnya, tersandung kasus korupsi. Media memberitakannya masif; fakta berbicara, data tak bisa mengelak. Bibirnya bergerak lirih, “Astaghfirullah… astaghfirullah…”
Ada sesuatu yang runtuh di dadanya: kepercayaan yang selama ini ia sandarkan pada manusia. Dari kedalaman hati, meluncur sebuah kalimat pelan,
“Na‘udzubillāhi min dzālik.”
Ketika Kekaguman Menjadi Ketergantungan
Kita sering lupa bahwa garis antara kekaguman dan pemujaan sangatlah tipis. Figur yang awalnya memberi inspirasi, perlahan kita angkat ke singgasana yang tak semestinya. Padahal sejarah Islam telah menancapkan peringatan tegas: yang maksum hanyalah Rasulullah ﷺ.
Selain beliau, semua manusia bisa tergelincir—betapapun indah kata-katanya, betapapun panjang jubahnya. Kesalahan si pemuda—dan mungkin juga kita—adalah menjadikan manusia sebagai poros kebenaran mutlak.
Zaman yang Licin dan Jerat Wahn
Kita hidup di era VUCA: dunia yang bergejolak, tak pasti, rumit, dan ambigu. Dalam keadaan seperti itu, manusia mudah lapar akan figur penyelamat. Setan tak selalu datang bertanduk; kadang ia hadir lewat proposal manis, jargon religius, atau dalil yang dipelintir.
Banyak keburukan hari ini dibungkus kemasan kesalehan: sedekah instan, jalan pintas pahala, atau proyek “amal” yang ternyata menyimpan manipulasi. Inilah wajah baru wahn—cinta dunia yang mengenakan jubah agama. Ketika kepercayaan dijadikan komoditas, nalar sering dipadamkan atas nama sam’an wa tha’atan yang salah tempat.
Memisahkan Intan dari Lumpur
Lalu muncul pertanyaan: jika sang tokoh terperosok, apakah ilmunya ikut gugur?
Di sinilah kedewasaan umat diuji.
Ali bin Abi Thalib RA berpesan,
“Lihatlah apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakannya.”
Jika ilmu yang disampaikan bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia tetap intan—meski keluar dari lisan yang sedang berlumpur. Namun bila perilaku buruknya bersumber dari penyimpangan ajaran, di situlah kewaspadaan wajib dikedepankan. Ambil kebenaran, tinggalkan kesalahannya. Jangan jadikan perilaku tokoh sebagai dalil pembenaran.
Na‘udzubillāhi min dzālik sebagai Benteng Akal
Ungkapan itu bukan sekadar refleks lisan. Ia adalah deklarasi sikap: menolak larut dalam fanatisme buta. Ia adalah rem agar kita tak menukar nalar dengan kekaguman.
Iman tak pernah meminta kita mematikan akal. Justru iman menuntut kejernihan berpikir: membedakan mana pesan Tuhan, mana ambisi manusia.
Penutup: Menjadi Umat yang Dewasa
Jatuhnya seorang tokoh adalah pengingat bahwa manusia rapuh. Pelajaran terbesarnya bukan pada runtuhnya sang figur, melainkan pada kembalinya kita kepada satu-satunya teladan mutlak: Rasulullah ﷺ.
Catatan bagi kita semua:
- Hormat itu perlu, kultus itu bencana.
- Jangan letakkan beban kesempurnaan pada pundak manusia biasa.
- Jadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai filter utama, bukan pesona personal.
- Waspadai kemasan; lihat substansi dan integritas.
- Teruslah belajar, tetapi jangan pernah menitipkan iman sepenuhnya kepada manusia.
Sore itu, si pemuda bangkit dari duduknya. Kegaduhan di kepalanya perlahan reda. Ia memahami satu hal: manusia bisa salah, tetapi Allah tidak pernah salah dalam memberi pelajaran.
Cahaya jingga tenggelam di ufuk, berganti dengan cahaya kesadaran yang baru.

By Paman BED





















