• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Menyesatkan: Cegah Korupsi, Dana Parpol Naik 10 Kali Lipat

fusilat by fusilat
July 17, 2024
in Feature, Pojok KSP, Politik
0
Aturan Sudah Tak Berlaku, Bamsoet Harus Menunda Ambisinya Jadi Guru Besar
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Karyudi Sutajah Putra

Jakarta, Fusilatnews – Menggelitik apa yang disampaikan Bambang Soesatyo. Saat bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono di Jakarta, Selasa (16/7/2024), Ketua MPR RI itu mewacanakan penambahan dana bantuan pemerintah untuk partai politik sebanyak 10 kali lipat dari Rp1.000 menjadi Rp10.000 per suara sah. Tujuannya: mencegah korupsi!

Ada dua motif korupsi, yakni kebutuhan atau “corruption by need”, dan keserakahan atau “corruption by greed”.

Nah, di Indonesia mayoritas kasus korupsi motifnya adalah keserakahan. Jadi, penambahan dana bantuan parpol hingga 10 kali lipat dengan tujuan mencegah korupsi seperti yang diwacanakan Bamsoet sungguh “missleading” atau menyesatkan.

Saat ini besaran anggaran bantuan pemerintah untuk parpol adalah Rp1.000 per suara sah yang diraih dalam Pemilu Legislatif DPR RI. Hal itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2018 tentang Bantuan Keuangan kepada Partai Politik.

Berdasarkan PP tersebut, partai politik di tingkat pusat yang mendapatkan kursi DPR RI berhak menerima bantuan keuangan senilai Rp1.000 per suara sah.

Dengan demikian, pada tahun 2024 ini dana bantuan parpol terbesar diberikan kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) selaku jawara Pemilu 2019.

Saat itu, PDIP berhasil meraih sekitar 27,05 juta suara sah nasional, paling banyak dibanding partai lainnya. Capaian ini membuat PDIP berhak menerima bantuan senilai Rp27,05 miliar.

Dikutip dari sebuah sumber, berikut rincian partai politik yang menerima bantuan keuangan pada tahun 2024 ini, seperti dinyatakan dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) No.900.1.9-146 Tahun 2023:

  1. PDIP: Rp1.000 x 27.053.961 suara sah = Rp27,05 miliar.
  2. Gerindra: Rp1.000 x 17.594.839 suara sah = Rp17,59 miliar.
  3. Partai Golkar: Rp1.000 x 17.229.789 suara sah = Rp17,23 miliar.
  4. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): Rp1.000 x 13.570.097 suara sah = Rp13,57 miliar.
  5. Partai Nasdem: Rp1.000 x 12.661.792 suara sah = Rp12,66 miliar.
  6. Partai Keadilan Sejahtera (PKS): Rp1.000 x 11.493.663 suara sah = Rp11,49 miliar.
  7. Partai Demokrat: Rp1.000 x 10.876.507 suara sah = Rp10,88 miliar.
  8. Partai Amanat Nasional (PAN): Rp1.000 x 9.572.623 suara sah = Rp9,57 miliar.
  9. Partai Persatuan Pembangunan (PPP): Rp1.000 x 6.323.147 suara sah = Rp6,32 miliar.
    Total: Rp1.000 x 126.376.418 suara sah = Rp126,38 miliar

Adapun menurut PP No 1 Tahun 2018, pemberian bantuan keuangan partai ini bertujuan untuk mendukung pendidikan politik bagi anggota partai dan masyarakat, serta mendukung operasional sekretariat partai.

Artinya, pemberian dana bantuan parpol bukan untuk mencegah korupsi seperti dinarasikan Bamsoet dan disetujui AHY.

Apalagi korupsi di Indonesia, sekali lagi, mayoritas motifnya adalah keserakahan. Lihat saja, mereka yang melakukan korupsi kebanyakan adalah orang-orang kaya, baik pejabat di eksekutif, legislatif maupun yudikatif, serta pengusaha.

Dus, harta memang bak air samudera. Makin banyak diteguk justru makin membuat dahaga.

Contoh korupsi yang motifnya keserakahan adalah Syahrul Yasin Limpo. Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat baru-baru ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) terang-terangan menyebut motif korupsi bekas Menteri Pertanian itu adalah ketamakan. Politikus Partai Nasdem itu akhirnya divonis 10 tahun penjara, namun JPU menyatakan banding.

Lihat pula para mantan pejabat lain yang kini meringkuk di penjara karena korupsi. Mereka adalah orang-orang kaya, nyaris tak ada yang miskin.

Sebut saja bekas Bupati Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rita Widyasari. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru-baru ini menyita puluhan mobil mewah dari penguasaan politikus Partai Golkar itu.

Jadi, asumsi penambahan dana bantuan parpol demi mencegah korupsi, sekali lagi adalah “missleading” alias menyesatkan. Sebab, pengaruhnya tak signifikan, karena korupsi di Indonesia motifnya mayoritas adalah keserakahan.

Apakah kita mau menyebut Setya Novanto korupsi karena dia kekurangan biaya saat maju sebagai calon legislator dan kemudian terpilih menjadi Ketua DPR RI? Tentu tidak!

Apakah kita akan menyebut Irman Gusman kekurangan biaya saat maju sebagai calon senator dan kemudian terpilih menjadi Ketua DPD RI? Tentu tidak!

“Political Cost vs Money Politics”

Memang, biaya politik di Indonesia itu makin mahal. Hal ini pun disepakati Bamsoet dengan AHY, sehingga ia mewacankan penambahan dana bantuan parpol untuk mencegah korupsi.

Hingga kini, sudah ratusan anggota DPR RI masuk penjara gegara korupsi. Sementara di daerah-daerah, sudah sekitar 3.700 anggota DPRD masuk penjara gegara korupsi.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu juga mengakui, banyak caleg muda populer yang punya kapasitas dan integritas gagal melaju ke Senayan karena “isi tasnya kurang”.

Adapun biaya politik bisa dibagi menjadi dua komponen. Pertama adalah “political cost” atau ongkos politik. Kedua adalah “money politics” atau politik uang yang tentu saja dilarang.

Ongkos politik meliputi biaya pendaftaran, biaya kampanye, biaya cetak dan pasang alat peraga, dan biaya saksi-saksi saat pemungutan suara. Ongkos politik bisa diestimasi besarannya alias “limited” (terbatas).

Adapun politik uang meliputi mahar ke parpol dan amplop untuk serangan fajar. Politik uang ini “unlimited” alias tak terbatas.

Konsekuensi dari “high cost politics” atau politik berbiaya tinggi antara lain begitu seorang caleg terpilih maka yang langsung terpikir di benak mereka adalah bagaimana caranya supaya bisa balik modal dalam waktu lima tahun. Kalau mengandalkan gaji, jelas tidak mungkin.

Jika sudah balik modal, pikiran berikutnya adalah bagaimana cari modal baru untuk pemilu berikutnya. Akhirnya segala cara dihalalkan, termasuk korupsi.

Sebab itu, wacana penambahan dana bantuan parpol masuk akal. Tapi itu tidak signifikan pengaruhnya. Bahkan bisa “missleading” karena motif korupsi di Indonesia mayoritas bukan kebutuhan.

Maka yang sesungguhnya harus diperangi adalah “money politics”. Tapi mana bisa? Rakyat sekarang sudah tidak lugu-lugu amat. Sebab, tak sedikit caleg yang lupa akan janji kampanyenya. Sebab itu, setiap menjelang pemilu, saat itulah kesempatan bagi rakyat memalak calon wakil rakyat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Bahkan ada rakyat yang vulgar dengan memasang spanduk: di sini menerima serangan fajar.

Akhirnya, tercipta lingkaran setan korupsi. Rakyat memalak calon wakil rakyat. Wakil rakyat melakukan korupsi anggaran yang notabene uang rakyat. Uang hasil korupsi wakil rakyat diberikan sebagian kepada rakyat. Begitu seterusnya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pada Serikat Buruh, Setara Institute dan Ditjen HAM Diseminasi Prinsip Bisnis dan HAM

Next Post

Bukan HGU Nyaris 2 Abad, Investor Lebih Butuh “Social Acceptance” dalam Berbisnis di IKN

fusilat

fusilat

Related Posts

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Feature

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026
Economy

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
Next Post
Jokowi Tak Bisa Paksakan Pembangunan IKN Dengan Kondisi BUMN Karya Terlilit Utang

Bukan HGU Nyaris 2 Abad, Investor Lebih Butuh "Social Acceptance" dalam Berbisnis di IKN

Dengan Dalih Bisa Dinikmati Lebih Banyak Orang, Prabowo Berencana Turunkan Anggaran Makan Siang Jadi Rp7500,-

Dengan Dalih Bisa Dinikmati Lebih Banyak Orang, Prabowo Berencana Turunkan Anggaran Makan Siang Jadi Rp7500,-

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi
Feature

Prabowo Mulai Panik!

by Karyudi Sutajah Putra
April 29, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Mungkin merasa terdesak oleh lawan-lawan politiknya. Setelah...

Read more
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Bom Waktu APBN-P 2026: Rupiah Jebol, Subsidi Meledak, Rakyat yang Nanggung

April 29, 2026
HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

HMI–KAHMI Ditegaskan Saling Terikat dalam Pembinaan Kader di Perguruan Tinggi

April 29, 2026
Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

Koperasi vs Ritel Raksasa: Perang yang Sudah Kalah Sebelum Dimulai

April 29, 2026

Tinta Darah dan Garis di Atas Peta: Ketika Dunia Menjadi Kue yang Dibagi Habis

April 29, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026

Antara Pembatasan Gawai dan Pendidikan Digital

April 29, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...