Enrekang-Fusilatnews – Tepat pada Jumat, 13 Februari 2026, kami berkunjung ke Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, untuk menikmati pesona wisata yang ditawarkan daerah ini. Dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, Enrekang memang menjadi destinasi impian bagi banyak wisatawan. Kami baru saja kembali dari kabupaten ini dan ingin berbagi pengalaman seru bersama Anda.
Perjalanan kami awali dengan mengunjungi sebuah perkebunan unik yang tidak hanya menjadi sumber hasil bumi, tetapi juga dirancang sebagai destinasi wisata alam yang memadukan kearifan lokal dan sentuhan modern. Kami sangat terkesan dengan keindahan alam yang dipadukan dengan desain peninggalan para pendahulu. Selama tiga hari di lokasi, kami disuguhi berbagai buah segar seperti semangka, alpukat, stroberi, dan masih banyak lagi.
Samsul Sompa, pemilik kebun, saat berbincang dengan kami menuturkan:
“Awalnya ini terbentuk karena saya sebagai penyuluh pertanian memikirkan banyaknya pihak tidak bertanggung jawab yang merusak alam. Dengan adanya kebun wisata ini, setidaknya saya bisa menyelamatkan alam dari kerusakan lebih lanjut.”
Di Kabupaten Enrekang, khususnya di Kecamatan Anggeraja, hampir tidak ada lagi kawasan hutan yang tersisa. Akibatnya, potensi bencana seperti banjir dan tanah longsor semakin mengintai. Melihat kondisi ini, Samsul yang juga berperan sebagai penyuluh pertanian menangkap peluang besar: mengubah lahan bawang menjadi destinasi wisata dengan menanam buah-buahan bernilai ekonomi tinggi yang tidak kalah menguntungkan dibanding bawang merah.
Selain kebun alpukat dan stroberi, tempat ini juga dilengkapi dengan Screen House—rumah tanaman modern yang berfungsi sebagai sarana edukasi pertanian bagi pelajar dan wisatawan.
“Di era sekarang, orang tidak hanya mengejar hasil produksi, tetapi juga mencari pengalaman dan jasa. Mereka ingin bersenang-senang, berfoto bersama keluarga dan teman dengan latar perkebunan yang asri,” tambah Samsul.
Kehadiran Screen House di Enrekang menjadi daya tarik tersendiri. Teknologi pertanian modern ini memungkinkan tanaman seperti melon dan semangka tumbuh optimal, sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil ditanam di daerah tersebut.
“Waktu pertama kali kami posting di media sosial, banyak masyarakat Enrekang mengira tanaman melon dengan Screen House itu ada di Pulau Jawa. Tapi ternyata di Enrekang bisa diwujudkan dengan metode yang sama,” ujar Samsul bangga.
Seiring waktu, destinasi agro wisata ini mulai dilirik berbagai kalangan, dari instansi swasta hingga pemerintah kabupaten.
“Dengan hadirnya destinasi wisata ini, kami ingin menyampaikan kepada para petani agar mengubah pola pikir bahwa bertani itu kotor, capek, dan panas. Dengan adanya Screen House, para petani tidak perlu lagi mengeluhkan hal itu. Tujuan utamanya adalah mengedukasi petani agar lebih kreatif dan inovatif dalam bertani,” jelasnya.
Di akhir perbincangan, Samsul mengungkapkan asal-usul nama tempat ini. Agro Wisata Kurnia Reski Srikandi (KRS) diambil dari nama ketiga putra-putrinya: Kurnia Ananta Syam, Febi Reski Ananta, dan Srikandi Bela Ananta. Kebun wisata ini berada di bawah naungan Pemberdayaan Penyuluh Pedesaan Swadaya (PEMPAT S) yang menjadi penghubung dengan pemerintah daerah setempat.























