Oleh : Jaya Suprana Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
MUMPUNG kemelut menyingkirkan kesebelasan penyepak bola pada babak awal Piala Dunia 2022 di Qatar sedang mereda akibat masa jeda sebelum masuk ke kemelut babak perenambelas besar untuk lanjut ke babak selanjutnya, saya ajak anda yang sudi diajak merenungi makna sepak-terjang manusia yang disebut sebagai sepak bola tersebut. Bagi yang merasa masih banyak hal di dunia ini yang lebih penting direnungi ketimbang sepak bola, silakan berhenti membaca naskah ini sampai di sini saja. Satu di antara kesimpulan yang sementara ini dapat saya simpulkan berdasar perenungan terhadap sepak bola adalah ternyata matematika memegang peran cukup penting di dalam sepak bola. Bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa matematika mustahil ada sepak bola.
Secara alasanologis cukup banyak alasan untuk menyatakan matematika berperan penting pada sepak bola. Misalnya sang bola yang berbentuk bulat jelas merupakan bentuk geometris sebagai bagian melekat pada matematika. Secara andaikatamologis, jika bentuk bola tidak bulat namun lonjong maka sebutannya bukan sepakbola, tetapi football Amerika Serikat yang boleh dipegang bahkan dibawa dengan tangan selama pertandingan berlangsung. Jika bentuknya pipih maka namanya bukan sepak bola, tetapi hockey. Jika berbentuk kubus jelas bukan sepak bola sebab hanya mereka yang benar-benar kurang kerjaan yang mau repot menendang “bola” berbentuk kubus yang lebih cocok untuk lomba keterampilan kubus Rubik.
Secara andaikatamologis pula jika ada mahluk luar angkasa pertama kali mendarat di planet bumi pasti terheran-heran melihat 22 manusia dewasa sibuk berebut menendang sebuah bola. Bahwa sepak bola merupakan permainan sekular 11 orang dewasa melawan 11 orang dewasa berebut menendang sebuah bola untuk dimasukkan ke sebuah gawang yang selama 45 menit berganti pemilik karena pertandingan sepak bola berlangsung dua kali 45 di mana kedua kesebelasan berganti arah menendang sebuah bola ke dua gawang yang setiap 45 menit berganti pemilik. Setiap pertandingan sepak bola diawasi seorang wasit yang berhak meniup sebuah peluit untuk menentukan awal dan akhir pertandingan sepak bola sambil juga berhak mengacungkan kartu kuning atau kartu merah yang sangat ditakuti para sepakbolawan.
Konon asal muasal peraturan 2×45 menit adalah jumlah bola berada di lapangan sepak bola yang terdiri dari sebuah bola yang ditendang oleh 22 manusia yang masing-masing secara biologis memiliki dua bola (tanpa menghitung bola mata) maka 2 dikali 22 ditambah 1 memang sama dengan 45. Perhitungan aritmatika ini juga berlaku bagi pesepakbola perempuan yang secara ragawi hanya beda letak bola di tubuh dengan pesepakbola lelaki. A propos aritmatika, dapat diyakini bahwa tanpa aritmatika sebagai unsur matematika mustahil peraturan rumit dan ruwet babak awal Piala Dunia dapat disusun sehingga yang menang belum tentu kalah, serta sebaiknya juga sama-sama belum tentu.
Bahwa de facto penyelenggaraan Piala Dunia sudah terbukti kini menjadi industri hiburan yang mampu menggerakkan roda ekonomi secara global. Bahkan potensial menjadi sumber korupsi luar biasa bukan alang kelalang dahsyat bagai para pengurusnya merupakan bukti tak terbantahkan bahwa segenap arus deras gerak peduwitan itu hanya bisa dihitung dan diperhitungkan baik secara halal maupun haram dengan menggunakan ilmu dan seni matematika yang terkandung di dalam statistik, akuntansi, ekonometri, computing bahkan artificial intelligence. Memang berdasar rekam jejak historis dapat dikatakan bahwa sepak bola sebagai hiburan massal di sebuah arena merupakan pengembangan dari tradisi gladiator Romawi serta matador Spanyol. Namun sejarah pula yang kini membuktikan bahwa tontonan sepak bola bisa lebih berkembang menjadi industri global ketimbang tontonan gladiator dan matador berkat dukungan matematika.
Jaya Suprana Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
Diketik Kompas.com, Senin 05 Desember 2022






















