Di sepanjang abad ke-20, dua ideologi besar mengguncang dunia dengan janji utopia. Yang satu membawa nama Tuhan, menawarkan keadilan ilahiah dan kehidupan akhirat yang damai. Yang lain mengusung panji manusia, bertekad menghapus kelas dan membangun surga di bumi. Islam dan komunisme, dalam banyak hal, bagai dua kutub yang tak bersentuhan—namun di sisi lain, keduanya juga memiliki titik temu yang mengejutkan.
Persamaan paling mencolok antara Islam dan komunisme adalah gagasan kesetaraan. Islam sejak awal menolak kasta dan privilese berdasar garis keturunan. Dalam khutbah perpisahannya, Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Tak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, kecuali karena takwanya.” Komunisme pun memiliki seruan yang serupa: tak ada hak istimewa bagi pemilik modal atas kaum buruh. Karl Marx dan Engels menuliskan dengan penuh semangat, “Kaum buruh tidak memiliki tanah air… mereka hanya memiliki rantai yang harus dipatahkan.”
Di sini, kedua sistem menjanjikan dunia yang bebas dari penindasan. Dalam Islam, zakat dan larangan riba menjadi cara mengatur ulang ketimpangan ekonomi. Dalam komunisme, nasionalisasi alat produksi dan penghapusan kepemilikan pribadi menjadi senjatanya.
Namun perbedaan keduanya tak kalah mencolok. Islam berakar pada wahyu dan ketundukan kepada Tuhan. Hukum-hukumnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, serta tak bisa dinegosiasikan dengan suara mayoritas. Sementara komunisme menempatkan manusia sebagai pusat semesta: materialisme dialektis adalah dasar filsafatnya, dan sejarah dianggap sebagai konflik kelas semata, tanpa campur tangan ilahi.
Islam melihat manusia sebagai makhluk spiritual dan sosial. Komunisme hanya memandang manusia sebagai bagian dari struktur ekonomi. Maka, dalam negara komunis ortodoks, agama dianggap candu, seperti kata Marx. Di banyak rezim komunis, termasuk Uni Soviet dan Tiongkok di bawah Mao, para pemuka agama dibungkam dan tempat ibadah diratakan. Sebaliknya, dalam negara Islam, agama adalah jantung masyarakat dan pusat hukum.
Ada pula perbedaan mencolok dalam metode perubahan. Komunisme mengamini revolusi berdarah: kekuasaan dirampas dari kaum borjuis lewat kekerasan. Sementara Islam, meski juga pernah mengambil jalan perang, lebih menekankan dakwah dan reformasi sosial yang bertahap. Bahkan dalam peperangan, Islam mewajibkan aturan etika: larangan membunuh warga sipil, merusak tanaman, atau mencederai tawanan.
Tentu, sejarah memperlihatkan bahwa baik Islam maupun komunisme tidak steril dari penyimpangan. Dalam praktiknya, sistem Islam pun tak luput dari oligarki, dan negara-negara komunis berubah menjadi negara otoriter. Namun akar ideologinya tetap jelas: Islam percaya pada moralitas transenden, sedangkan komunisme bertumpu pada rasionalitas historis-material.
Kini, komunisme sebagai sistem negara telah runtuh di banyak tempat. Tapi semangatnya hidup dalam narasi keadilan sosial di banyak gerakan kiri modern. Islam pun terus mengalami reaktualisasi, mencoba berdialog dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan pasar bebas.
Di tengah dunia yang terpolarisasi, refleksi atas dua ideologi ini bukan semata akademik. Ia mengajarkan satu hal penting: bahwa pencarian manusia akan keadilan adalah abadi. Namun jalan menuju keadilan itu, entah lewat wahyu atau teori, akan selalu bergantung pada siapa yang berjalan, dan dengan nilai apa ia melangkah.


















