Sejarah modern dunia Islam dan komunisme bukan hanya cerita tentang ideologi, tapi tentang massa. Tentang bagaimana dua sistem ini berebut hati rakyat kecil: petani yang kelaparan, buruh yang terpinggirkan, dan kaum terjajah yang ingin merdeka. Di sinilah medan persaingan antara Islam dan komunisme menjadi nyata—di lapangan, bukan di buku filsafat.
Pada awal abad ke-20, ketika kolonialisme masih mencengkeram Asia dan Afrika, Islam tampil sebagai kekuatan resistensi. Dari Sudan hingga Indonesia, semangat jihad dan pembebasan dari dominasi asing berjalan seiring. Di Tanah Air, Sarekat Islam memobilisasi rakyat melawan kapitalisme kolonial. Haji Agus Salim, tokoh pergerakan Islam, tak hanya berbicara tentang tauhid, tapi juga nasionalisme dan keadilan sosial.
Namun saat itu pula, komunisme hadir dengan tawaran berbeda: emansipasi melalui kesadaran kelas. Di Hindia Belanda, Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi pelopor perlawanan kaum tani dan buruh. Mereka tidak berbicara tentang surga atau akhirat, melainkan tentang tanah, upah, dan pembagian kekayaan. Bagi rakyat miskin, pidato-pidato mereka terdengar masuk akal.
Di titik inilah muncul benturan. Islam mengajarkan bahwa kepemilikan pribadi itu sah, asalkan tidak berlebihan. Komunisme menuntut penghapusan total kepemilikan atas alat produksi. Islam menyebut “kafir” bagi yang mengingkari wahyu. Komunisme menyebut “kontrarevolusioner” bagi mereka yang menolak kolektivisme. Keduanya punya garis tegas: siapa kawan, siapa lawan.
Namun ironisnya, di banyak negeri Muslim, komunisme justru lahir dari rahim ketimpangan yang tidak diselesaikan oleh elite Islam itu sendiri. Ketika masjid dikuasai kaum feodal dan birokrat, rakyat menemukan harapan pada propaganda Marxis yang revolusioner.
Di Indonesia, antagonisme ini mencapai puncaknya pada dekade 1950–1960-an. Masyumi, partai Islam besar kala itu, berbenturan tajam dengan PKI. Dua kekuatan ini tak hanya bersaing di parlemen, tapi juga di sawah dan pabrik. Ketegangan ideologis berubah jadi permusuhan politik, yang pada 1965 berujung tragedi nasional: pembantaian massal yang menghapus PKI dari sejarah formal Republik.
Tapi sejarah tak sepenuhnya hitam-putih. Di Timur Tengah, justru muncul sosok-sosok yang mencoba mendamaikan keduanya. Gamal Abdel Nasser di Mesir dan Ahmed Ben Bella di Aljazair adalah contoh pemimpin yang mencampur nasionalisme Arab, sosialisme, dan identitas Islam dalam satu paket populis. Sementara di Indonesia, Bung Karno mencoba jalan serupa melalui konsep Nasakom—mempersatukan nasionalisme, agama, dan komunisme.
Namun seperti kata sejarah, kompromi ideologis sering kali berumur pendek. Ketika krisis datang, yang tersisa hanyalah saling curiga. Utopi runtuh, dan rakyat tetap berada di simpang jalan.
Hari ini, komunisme tinggal sejarah kelam di Indonesia, tapi gagasannya bertransformasi dalam bentuk perlawanan terhadap neoliberalisme dan kapitalisme rakus. Di sisi lain, Islam berkembang dalam banyak spektrum: dari gerakan moderat, konservatif, hingga politisasi identitas yang sering kali justru menjauh dari nilai-nilai keadilannya sendiri.
Kisah Islam dan komunisme adalah kisah pertemuan dan perpisahan dua mimpi besar umat manusia: keadilan di bumi dan kebahagiaan di akhirat. Persaingan mereka belum tentu usai. Sebab selama masih ada ketimpangan, selama masih ada yang tertindas, ide-ide ini akan terus hidup. Kadang dalam wujud baru, kadang dalam wacana lama yang diretur ulang.



















