Dalam sejarah panjang pertarungan ideologi, Islam dan Marxisme lebih sering berdiri di dua kutub yang bertentangan. Satu mengagungkan wahyu, satu memuliakan akal. Satu memulai dari iman, satu dari materi. Namun di balik semua dikotomi itu, diam-diam, ada riwayat-riwayat kecil tentang kedekatan—tentang usaha menjahit dua kekuatan besar umat manusia: iman dan keadilan sosial.
Kita bisa mulai dari sosok Ali Shariati, intelektual Iran yang mengawinkan pemikiran Islam Syi’ah revolusioner dengan semangat Marxisme. Shariati berbicara tentang “Islam merah”—Islam kaum mustadh’afin—yang anti-penindasan, menolak teokrasi feodal, dan berpihak pada rakyat. Ia menyebut Musa sebagai revolusioner, dan Firaun sebagai simbol kapitalisme imperialis. Pemikiran ini menjadi fondasi Revolusi Iran 1979—sebelum akhirnya direbut kaum konservatif.
Di belahan dunia lain, Malcolm X dan para aktivis Muslim kulit hitam di Amerika melihat Islam bukan semata jalan spiritual, tapi juga senjata politik untuk melawan supremasi kulit putih dan ketidakadilan struktural. Islam mereka adalah Islam yang membebaskan, bukan membelenggu. Islam yang berkata black is beautiful dan God is not racist.
Di Indonesia, jejak persinggungan ini juga pernah ada. Tahun 1940-an hingga 1960-an, sebagian aktivis Islam dan kiri—meski berbeda haluan—bertemu dalam semangat anti-kolonial dan anti-feodalisme. Sebut saja tokoh seperti Tan Malaka, yang meski berideologi Marxis, mengutip hadis dan menyebut bahwa Islam punya potensi revolusioner jika disandingkan dengan kesadaran kelas. Ia bicara tentang agama sebagai alat pembebasan, bukan perbudakan.
Pertanyaannya kini: mungkinkah persenyawaan itu terjadi lagi di abad ke-21?
Dunia hari ini tengah retak. Kapitalisme digital menciptakan jurang yang makin lebar antara elite dan rakyat. Ketidakpastian iklim, perang, dan otoritarianisme bangkit bersamaan. Di titik inilah, Islam dan kiri sama-sama menolak status quo. Sama-sama memimpikan dunia yang lebih adil. Sama-sama mencari makna hidup yang tak sekadar angka GDP dan clickbait.
Namun tantangannya tidak kecil. Banyak umat Islam curiga pada kiri yang mereka anggap anti-Tuhan. Sementara banyak aktivis kiri skeptis pada agama yang dinilai konservatif, patriarkal, dan mudah dimanipulasi oligarki. Kecurigaan ini adalah warisan sejarah, tapi juga hasil dari propaganda yang terus direproduksi.
Meski begitu, celah tetap terbuka. Di berbagai tempat, kita melihat aktivis Muslim yang menolak kapitalisme global dengan bahasa agama. Kita juga melihat intelektual kiri yang mulai menyapa dunia spiritual sebagai sumber daya moral. Di Palestina, misalnya, aktivis kiri dan pejuang Islam bahu-membahu melawan pendudukan. Di kawasan seperti Latin Amerika, teologi pembebasan—yang mirip “Islam kiri”—masih hidup, menyatukan gereja dan kaum miskin dalam melawan korporasi dan militerisme.
Maka pertanyaan “mungkinkah bersekutu?” bergantung pada satu hal: keberanian untuk melewati tembok warisan ideologis. Jika keduanya mau berhenti saling curiga, dan mulai mendengar: mungkin saja. Sebab, sebagaimana kata Ali Shariati, “Setiap agama yang tidak berpihak pada kaum tertindas, sejatinya telah membelot dari Tuhannya sendiri.”
Dan mungkin, revolusi yang akan datang bukan sekadar menggulingkan sistem, tapi juga menggugah kesadaran: bahwa Tuhan dan keadilan sosial tidak harus bertengkar. Mereka bisa berjalan bersama—asal tidak dipaksa tunduk pada ambisi manusia.





















