Ada satu kebiasaan lama dalam politik kita: ketika logika terasa kepayahan, nama Tuhan segera dipanggil sebagai penguat argumen. Seolah-olah langit telah menurunkan keputusan final, dan manusia tinggal mengamini—tanpa perlu lagi bertanya, apalagi mengkritisi.
Pertanyaannya sederhana, tapi sengaja dibuat terasa ganjil: Tuhan yang mana yang menghendaki seseorang menjadi wakil presiden?
Apakah Tuhan yang kita pahami sebagai Maha Adil? Maha Mengetahui? Atau Tuhan versi kepentingan—yang diam-diam “dibisiki” oleh tafsir manusia yang sedang berkuasa?
Dalam narasi yang sering diperdengarkan, kekuasaan kerap dibungkus dengan legitimasi ilahiah. Padahal, jika kita mau jujur, yang bekerja bukanlah kehendak langit, melainkan mekanisme bumi: jejaring kekuasaan, kompromi politik, hingga celah hukum yang ditarik sejauh mungkin tanpa putus.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih menggigit:
Apakah Tuhan tidak memahami konsep “the best among the best”?
Ini tentu bukan pertanyaan teologis, melainkan sindiran terhadap manusia yang gemar mengatasnamakan Tuhan, tetapi mengabaikan prinsip meritokrasi. “Yang terbaik dari yang terbaik” bukanlah slogan kosong; ia menuntut rekam jejak, kapasitas, integritas, dan kematangan. Ia bukan sekadar hasil dari percepatan, apalagi percepatan yang tampak terlalu mulus untuk disebut kebetulan.
Jika standar minimal seorang pemimpin adalah kemampuan memahami kompleksitas negara, pengalaman menghadapi krisis, serta kedewasaan dalam mengambil keputusan, maka pertanyaan berikutnya tak bisa dihindari:
Apakah syarat-syarat itu benar-benar telah terpenuhi, atau sekadar dianggap terpenuhi?
Di sinilah satire menemukan rumahnya. Karena yang tampak bukanlah proses seleksi alam politik yang ketat, melainkan sebuah panggung di mana peran utama sudah dibagikan sejak awal, sementara audisi tetap digelar demi formalitas.
Kita sering diajarkan bahwa Tuhan tidak punya rahasia. Yang ada adalah keterbatasan manusia dalam memahami takdir. Namun dalam politik, “takdir” kerap disusun dengan rapi oleh tangan-tangan yang sangat duniawi. Rahasia bukan milik Tuhan, melainkan milik proses yang sengaja dibuat tidak transparan.
Maka mungkin yang perlu kita luruskan bukanlah kehendak Tuhan, melainkan cara kita menggunakan nama-Nya. Tuhan tidak pernah kekurangan kebijaksanaan. Yang sering kekurangan adalah kejujuran manusia dalam mengakui bahwa keputusan politik adalah hasil pilihan manusia itu sendiri—lengkap dengan segala kepentingannya.
Satire ini pada akhirnya bukan untuk mempertanyakan Tuhan, tetapi untuk mengingatkan manusia: jangan terlalu cepat membawa langit ke dalam urusan yang sebenarnya diselesaikan di bumi. Karena ketika Tuhan dijadikan tameng, kritik menjadi terasa seperti dosa, dan kekuasaan perlahan berubah menjadi sesuatu yang tak tersentuh.
Padahal dalam demokrasi, tidak ada yang sakral selain hak publik untuk bertanya.





















