• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

Ir. Prihandoyo Kuswanto by Ir. Prihandoyo Kuswanto
April 28, 2026
in Feature, Politik
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Prihandoyo Kuswanto
Ketua Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila


Pendahuluan

Dalam sebuah podcast bersama Iwan Piliang, Prof. Saiful Mujani menyampaikan pandangan bahwa Prabowo Subianto dianggap tidak pro-reformasi dan tidak pro-demokrasi karena Partai Gerindra ingin kembali pada UUD 1945 naskah asli yang disahkan pada 18 Agustus 1945.

Pertanyaannya, benarkah Reformasi 1998 telah menghadirkan perubahan fundamental bagi bangsa ini? Jika merujuk pada enam agenda Reformasi, nyatanya tidak satu pun terlaksana secara utuh. Yang justru terjadi adalah perubahan konstitusi melalui amandemen UUD 1945 (1999–2002) yang dinilai telah menggeser bahkan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.


Demokrasi yang Tidak Demokratis

Indonesia kerap mengklaim dirinya sebagai negara demokrasi dengan sistem checks and balances. Namun, jika ditelaah lebih dalam, terdapat ketimpangan serius dalam representasi rakyat.

Komposisi pendidikan masyarakat menunjukkan bahwa sekitar 94% rakyat berada pada tingkat pendidikan dasar hingga menengah (tidak lulus SD hingga SMA), sementara hanya sekitar 6% yang berpendidikan tinggi (D3 hingga S3).

Dalam praktik politik, kelompok 94% ini nyaris tidak memiliki akses nyata untuk terlibat dalam proses politik, terutama karena tingginya biaya politik yang mencapai miliaran rupiah. Akibatnya, mereka hanya menjadi objek demokrasi—dimobilisasi, bahkan “dibeli” suaranya melalui bantuan sesaat seperti sembako.

Lalu, pertanyaannya: demokrasi ini sebenarnya untuk siapa?


Sistem MPR yang Lebih Representatif

Pada masa sebelum amandemen, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mencerminkan keterwakilan yang lebih luas melalui utusan golongan—petani, nelayan, buruh, tokoh adat, dan lain-lain.

Kini, konsep tersebut dihapus. Representasi rakyat digantikan oleh dominasi partai politik. Negara tidak lagi menjadi milik semua golongan, melainkan cenderung dikuasai oleh elit politik.


Dominasi Elit 6%

Kerusakan sistemik yang terjadi saat ini justru diduga berasal dari kelompok elit berpendidikan tinggi—yang jumlahnya hanya sekitar 6%.

Mereka yang memiliki akses kekuasaan:

  • Menjadi pejabat negara
  • Mengelola sumber daya alam
  • Mengendalikan kebijakan strategis

Kasus korupsi besar, mafia tambang, dan penyalahgunaan kekuasaan hampir pasti tidak dilakukan oleh rakyat kecil, melainkan oleh kelompok elit tersebut.


Pergantian Visi Negara menjadi Visi Personal

Negara Indonesia didirikan dengan tujuan luhur: mewujudkan masyarakat adil dan makmur melalui semangat gotong royong.

Namun, sistem pemilihan langsung telah melahirkan ratusan visi-misi personal—dari presiden hingga kepala daerah. Total terdapat ratusan visi-misi yang dipertarungkan dalam pemilu.

Padahal, ketika dilantik, setiap pejabat bersumpah untuk menjalankan UUD 1945—yang berarti menjalankan visi dan misi negara, bukan visi pribadi.

Visi Negara (Pembukaan UUD 1945 Alinea II):

  • Merdeka
  • Bersatu
  • Berdaulat
  • Adil
  • Makmur

Misi Negara (Alinea IV):

  • Melindungi segenap bangsa
  • Memajukan kesejahteraan umum
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Menjaga ketertiban dunia

Ketika pejabat menjalankan visi pribadi yang berbeda dengan visi negara, di situlah muncul potensi pengkhianatan terhadap sumpah jabatan.


Krisis Pemahaman Konstitusi

Ironisnya, tidak banyak pakar hukum dan tata negara yang mengkritisi persoalan ini secara mendalam. Bahkan Mahkamah Konstitusi dinilai belum mengambil langkah untuk mengoreksi praktik tersebut.

Jika visi-misi personal terus mendominasi, maka pertanyaan mendasar muncul: masih relevankah UUD 1945 sebagai panduan bernegara?


Kesimpulan

Untuk menyelamatkan bangsa, diperlukan langkah mendasar:

  • Kembali kepada UUD 1945 naskah asli (18 Agustus 1945)
  • Menolak hasil amandemen 1999–2002 yang dianggap liberalistik
  • Mengembalikan Pancasila sebagai roh dalam kehidupan bernegara

Amandemen dinilai telah:

  • Mengubah jati diri bangsa
  • Melahirkan demokrasi berbiaya tinggi
  • Memicu konflik sosial
  • Melemahkan kesejahteraan rakyat

Poin-Poin Utama

  1. Penolakan terhadap UUD hasil amandemen
    Dinilai merusak struktur keindonesiaan dan menggantinya dengan sistem liberal.
  2. Kembali ke UUD 1945 asli
    Dipandang sebagai solusi untuk mengembalikan arah bangsa.
  3. Pancasila sebagai dasar utama
    Harus menjadi ruh dalam setiap kebijakan negara.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Next Post

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Ir. Prihandoyo Kuswanto

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Next Post

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...