BEKASI–FusilatNews.– Insiden kecelakaan kereta api terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026. Sebuah rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line dilaporkan tertabrak dari belakang oleh kereta jarak jauh KA Argo Bromo Anggrek.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 20.30 WIB saat KRL tengah berhenti di jalur stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Secara tiba-tiba, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah timur tidak dapat menghindari tabrakan dan menghantam bagian belakang rangkaian KRL.
Akibat benturan keras tersebut, beberapa gerbong KRL mengalami kerusakan cukup parah, terutama di bagian belakang. Saksi mata di lokasi menyebut suara benturan terdengar sangat keras dan sempat memicu kepanikan di antara penumpang.
“Suara tabrakannya keras sekali, seperti ledakan. Penumpang langsung berhamburan keluar,” ujar Andi (34), salah satu penumpang yang berada di dalam KRL saat kejadian.
Petugas gabungan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), kepolisian, serta tim medis segera dikerahkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi. Sejumlah penumpang dilaporkan mengalami luka-luka dan telah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Pantauan di lokasi pada Selasa (28/4/2026) dini hari menunjukkan proses evakuasi masih berlangsung intensif. Pada pukul 02.48 WIB, petugas mengeluarkan satu kantong berwarna oranye dari salah satu gerbong KRL. Kantong tersebut kemudian dibopong oleh petugas gabungan untuk dievakuasi ke rumah sakit, mengindikasikan adanya korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah pasti korban luka maupun potensi korban jiwa. Pihak PT Kereta Api Indonesia menyatakan masih melakukan investigasi terkait penyebab kecelakaan, termasuk kemungkinan adanya gangguan sistem persinyalan atau faktor kelalaian manusia.
“Prioritas kami saat ini adalah evakuasi penumpang dan memastikan keselamatan seluruh pihak. Untuk penyebab kejadian masih dalam proses penyelidikan,” ujar perwakilan KAI dalam keterangan singkat.
Insiden ini juga berdampak pada terganggunya perjalanan kereta di lintas Bekasi–Jakarta. Sejumlah perjalanan mengalami keterlambatan, sementara beberapa lainnya dibatalkan untuk sementara waktu guna proses evakuasi dan sterilisasi jalur.
Kecelakaan ini menambah daftar insiden transportasi rel di wilayah padat penumpang seperti Bekasi, yang menjadi salah satu titik krusial pergerakan komuter di Jabodetabek. Publik pun mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.



















