• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

fusilat by fusilat
April 28, 2026
in Feature, Pendidikan
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Aries Musnandar & Mohammad Effendi

Tentang Penulis : Dr. Aries Musnandar adalah dosen di Universitas Islam Raden Rahmat, Malang, dengan pengalaman di dunia akademik dan korporasi multinasional. Ia juga merupakan advisor dan pembicara dalam bidang kebijakan pendidikan dan pengembangan SDM.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah melaju dalam akselerasi birokrasi, membawa janji besar: memperbaiki kualitas sumber daya manusia melalui intervensi nutrisi. Namun, di balik gegap gempita politik itu, tersimpan satu persoalan mendasar yang nyaris luput dari perdebatan publik—potensi terpinggirkannya pilar paling esensial dalam pendidikan, yakni guru. Kebijakan ini, dalam wajah populismenya, berisiko menjadi “tabir asap” yang menutupi problem laten dunia pendidikan: merosotnya martabat, kualitas, dan standar profesi guru.

Gizi, Selera, dan Inefisiensi yang Terlembaga

Pada tataran operasional, MBG menghadapi realitas yang tidak sederhana. Makanan yang terbuang karena tidak sesuai selera anak bukan sekadar persoalan teknis, melainkan indikator awal dari inefisiensi fiskal. Negara, melalui birokrasi dan vendor, mencoba menyeragamkan sesuatu yang pada hakikatnya sangat personal: selera makan anak.

Padahal, secara sosiologis, pihak yang paling memahami kebutuhan gizi sekaligus preferensi anak adalah orang tua di rumah. Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: mengapa anggaran besar ini tidak dialihkan menjadi bantuan tunai bersyarat kepada keluarga, dengan pengawasan standar gizi yang ketat?

Pendekatan semacam itu tidak hanya lebih efisien secara ekonomi, tetapi juga lebih sehat secara psikologis. Ia mengembalikan kedaulatan dapur kepada keluarga. Negara cukup berperan sebagai regulator—bukan operator. Sebab, memberi makan anak pada dasarnya adalah mandat domestik, sementara kewajiban negara adalah memastikan orang tua memiliki pekerjaan yang layak agar mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara mandiri.

Mandat Konstitusi: Mencerdaskan, Bukan Sekadar Mengenyangkan

Jika kita kembali pada amanat konstitusi, tujuan negara jelas: mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan sekadar memastikan perut kenyang. Kecerdasan bukanlah produk instan dari asupan gizi, melainkan hasil dari interaksi pedagogis yang berkualitas antara guru dan peserta didik.

Gizi memang prasyarat biologis, tetapi ia tidak otomatis menjelma menjadi nalar tanpa kehadiran guru yang kompeten. Maka, ketika negara mengalokasikan anggaran besar untuk MBG, sementara sektor pendidikan—terutama kualitas guru—tidak mendapatkan prioritas setara, kita sedang menyaksikan ketimpangan arah kebijakan.

Dengan kapasitas fiskal yang besar, negara seharusnya mampu melangkah lebih jauh: menggratiskan pendidikan hingga perguruan tinggi, memperluas akses, dan memperkuat kualitas pengajaran. Tanpa itu, MBG hanya akan menjadi “bahan bakar” yang melimpah bagi “mesin” pendidikan yang aus.

Standar Profesi Guru: Belajar dari Dunia Medis

Kualitas pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh siapa yang berdiri di depan kelas. Guru harus diposisikan sebagai profesi elit—setara dengan dokter. Dalam dunia medis, kualitas dijaga melalui seleksi ketat, pendidikan panjang, dan sistem remunerasi yang layak.

Sebaliknya, pendidikan guru di Indonesia justru mengalami distorsi sejak transformasi banyak IKIP menjadi universitas umum. Fokus pada pembentukan pendidik profesional menjadi kabur.

Sudah saatnya negara menghidupkan kembali model “Universitas IKIP” yang khusus mencetak guru berkualitas tinggi. Seleksinya harus ketat, pendidikannya mendalam, dan lulusannya dijamin kesejahteraannya. Tanpa itu, peningkatan gizi siswa tidak akan pernah berbanding lurus dengan peningkatan kualitas berpikir bangsa.

Tragedi Guru Honorer dan Ironi Fiskal

Ironi terbesar pendidikan Indonesia terletak pada keberadaan guru honorer. Mereka adalah tulang punggung sistem, namun hidup dalam ketidakpastian dan keterbatasan ekonomi. Di tengah euforia anggaran MBG, kondisi ini menjadi ironi yang sulit dibenarkan.

Dalam perspektif psikologi organisasi, ketidakpastian finansial adalah distraksi serius yang menggerus kreativitas dan fokus kerja. Bagaimana mungkin negara berharap lahirnya generasi unggul, jika para pendidiknya sendiri berada dalam tekanan hidup yang konstan?

Lebih jauh, ini juga menyentuh dimensi etika publik. Apakah adil menggelontorkan triliunan rupiah untuk program makan gratis, termasuk di sekolah-sekolah mapan, sementara guru di daerah 3T masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar?

Di sinilah seharusnya peran parlemen diuji. DPR tidak cukup menjadi legitimasi formal kebijakan, tetapi harus menjadi penjaga moralitas fiskal—memastikan setiap rupiah anggaran berpihak pada keadilan dan prioritas yang tepat.

Penutup: Kembali ke Esensi

Investasi terbaik sebuah bangsa tidak terletak pada apa yang tersaji di piring hari ini, melainkan pada siapa yang berdiri di depan kelas esok pagi.

MBG perlu direkonstruksi—bukan sekadar sebagai program populis, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia yang presisi. Jika negara mampu memberi makan, maka negara juga harus lebih mampu memuliakan guru dan memberdayakan keluarga.

Sudah saatnya kita kembali pada esensi: mencerdaskan bangsa melalui penguatan profesi guru dan kemandirian ekonomi keluarga. Jangan sampai kita menjadi bangsa yang sibuk mengisi piring, tetapi lalai mengisi pikiran—bangsa yang kenyang secara fisik, namun rapuh secara intelektual.

 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Next Post

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan
Birokrasi

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026
Next Post

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026
Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur: KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL dari Belakang

April 28, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

Prabowo Itu Mau Apa? Merampingkan atau Menggemukan Kabinet di Tengah Kinerja yang Dipertanyakan

April 27, 2026

Kejujuran Menang di Jepang, Mungkinkah di Indonesia?

April 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...