Oleh: Jimmy Jeniarto
VONIS telah dijatuhkan pada lima orang yang dianggap terlibat di dalam pembunuhan Yosua Hutabarat. Palu hakim telah diketokkan ke meja pengadilan. Namun, misteri masih melayang-layang di ruang pengadilan: peristiwa Magelang. Peristiwa Magelang merupakan peristiwa yang dianggap sebagai pemicu terjadinya pembunuhan di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Peristiwa Magelang masih belum terang bagi masyarakat umum. Hanya dugaan-dugaan dan imajinasi-imajinasi yang bertebaran. Ada apa di Magelang? Ada beberapa variasi narasi yang muncul.
Di sini hanya akan dilokalisir pada narasi yang berkaitan dengan sex, dan hanya menyangkut Putri Candrawati dan Yosua Hutabarat saja. Pertama, Putri dilecehkan oleh Yosua, sebagaimana pengakuan Putri. Kedua, Putri dan Yosua berselingkuh, sebagaimana dituduhkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Ketiga, Yosua dilecehkan oleh Putri, sebagaimana asumsi tidak sedikit orang. Putri dan Yosua merupakan dua orang yang terlibat pada peristiwa Magelang. Tidak ada orang lain, di luar dua orang tersebut, yang mengetahui peristiwa yang terjadi di Magelang. Cerita tentang peristiwa Magelang bersumber dari keterangan satu orang, yakni Putri. Hanya saja, bagi orang lain, pengakuan Putri tidak ada pembandingnya.
Berbagai hal yang diungkapkan di persidangan tidak memberi alat-alat yang kuat untuk membuat suatu kesimpulan yang definitif tentang peristiwa di Magelang, semisal CCTV, konten WhatsApp, rekaman audio-video, saksi mata, atau alat-alat lainnya yang bersifat sulit terbantahkan. Hingga hari ini, bagi masyarakat umum (bukan tiga hakim yang mengadili, perusahaan Meta, atau mungkin beberapa staf polisi atau intelijen negara), tidak ada alat-alat lain yang bisa digunakan untuk membantah ataupun membenarkan tiga narasi di atas. Tentang kebenaran ataupun kesalahan di antara tiga narasi tersebut, tidak ada bukti-bukti yang bisa digunakan oleh masyarakat umum untuk menarik kesimpulan secara pasti.
Bukti di sini berarti bukti yang tidak terbantahkan. Jika kemudian dilakukan penarikan kesimpulan secara pasti, maka bisa terjadi argumentum ad ignorantiam fallacy. Kecacatan penalaran kategori induksi lemah. Baik itu yang membenarkan ataupun yang menyangkal salah satu dari tiga narasi. Di pengadilan, di luar pengakuan Putri, tidak ada bukti yang membenarkan bahwa Putri adalah korban pelecehan sexual. Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa Putri tidak mengalami pelecehan sexual? Hanya karena tidak ada bukti yang dihadirkan di pengadilan bahwa Putri telah dilecehkan, maka bukan berarti bisa ditarik kesimpulan secara pasti bahwa Putri tidak dilecehkan. Di pengadilan, tidak ada bukti yang membenarkan bahwa Putri dan Yosua terlibat perselingkuhan.
Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa Putri dan Yosua tidak terlibat perselingkuhan? Hanya karena tidak ada bukti yang dihadirkan di pengadilan bahwa Putri dan Yosua terlibat perselingkuhan, maka bukan berarti bisa ditarik kesimpulan secara pasti bahwa Putri dan Yosua tidak terlibat perselingkuhan. Masih di pengadilan yang sama, tidak ada bukti yang membenarkan bahwa Putri telah melecehkan Yosua. Namun, siapa yang bisa memastikan bahwa Putri tidak melecehkan Yosua? Hanya karena tidak ada bukti yang dihadirkan di pengadilan bahwa Putri melecehkan Yosua, maka bukan berarti bisa ditarik kesimpulan secara pasti bahwa Putri tidak melecehkan Yosua. Tidak ada sesuatu hal yang telah dibuktikan di pengadilan dari tiga narasi di atas. Kebenaran ataupun kesalahannya tidak bisa dibuktikan atau belum dibuktikan.
Dengan demikian, terkait kebenaran ataupun kesalahan narasi-narasi tersebut, maka kesimpulan tidak bisa ditarik secara pasti. Kesimpulan yang ditarik hanya bersifat kemungkinan. Jika narasi pertama memang benar, maka Putri merupakan korban pelecehan sexual. Selain itu, negara tidak melindungi dan tidak memberi keadilan pada Putri. Namun jika narasi pertama tidak benar, maka Yosua merupakan korban pembunuhan sekaligus korban fitnah. Jika narasi perselingkuhan tidak benar, maka jaksa penuntut umum (negara) telah melontarkan tuduhan tanpa bukti kuat yang bisa mengarah pada fitnah. Negara bisa jadi melakukan perusakan nama baik pada Putri dan Yosua. Peristiwa Magelang masih menjadi misteri bagi orang lain.
Namun, bukan misteri bagi Putri dan Yosua. Putri masih hidup, sedangkan Yosua sudah meninggal dunia. Putri masih bisa bersuara. Yosua sudah tidak bisa bersuara. Hakim mengambil jalan hati-hati dengan mengatakan bahwa Putri sakit hati terhadap Yosua. Istilah “sakit hati” bisa bersifat samar. Sakit hati bisa disebabkan oleh apa saja. Termasuk bisa disebabkan oleh hal di luar tiga narasi sex di atas. Peristiwa Magelang. Seperti temaramnya langit fajar, yang berangsur menjadi lebih terang. Atau temaramnya langit senja, yang berangsur menjadi lebih gelap.
Jimmy Jeniarto Dosen freelance pada mata kuliah Logika dan Etika
Dikutip Kompas.com, Jumat 17 Februari 2023























