Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Sung Yong Kim, menemui pimpinan PKS di Markas Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahterah (PKS) Rabu (15/2).
Kehadiran Dubess AS Sung Yong Kim diterima langsung Presiden PKS, Ahmad Syaikhu itu memicu banyak spekulasi dikalanga.para pengamat dan komentator politik terkait Pemilihan Presiden 2024.
Apa yang mendorong Dubes AS menemui PKS? Apa yang menjadi tujuan HM Duta Besar? Apakah hanya terbatas untuk silaturrakhmi atau ada pembahasan permasalahan lainnya? Ini yang harus kita galih dari Presiden PKS Akgmad Saikhu dan YM Dubes sendiri.
Presiden PKS Ahmad Syaikhu mengatakan, kunjungan Dubes AS itu adalah sebagai bentuk silaturahim. Syaikhu mengatakan, sebagai salah satu partai politik (parpol) di Indonesia, PKS mendorong kemitraan strategis antara kedua negara.
Sedangkan Dubes Sung menegaskan tentang , kunjungannya ke PKS untuk membangun dan memperkuuat komitmen Pemerintahan AS dalam mengedepankan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Sung menegaskan, ia melakukan diskusi terbuka mengenai sejumlah permasalahan yang berkaitan dalam memperdalam hubungan AS dan Indonesia.
“Dalam diskusi tadi dengan Presiden PKS Ahmad Syaikhu, kami membicarakan tentang bagaimana cara kedua negara memperdalam hubungan kita untuk menjawab tantangan-tantangan permasalahan global yang ada di dunia,” kata Sung
Tentu saja jawaban yang sifatnya normatif baik itu dari Duta besar AS maupun dari presiden PKS memicu banyak tanda tanya terkait agenda politik diantara kedua pihak. Terutama tentang permasalahan dalam pemilu tahun depan dan pencalonan Anies Baswedan untuk kontestasi pemilihan Presiden mendatang.
Menurut Fusilatnews tidak tertutup kemungkinan dubes AS bersama PKS membahas berbagai permasalahan strategis terkait kedekatan pemerintah Indonesia dengan China.
Karena tentu saja AS tidak happy dengan terlalu dekatnya Indonesia dengan China baik itu secara politik maupun bisnis.
Kemungkinan AS berharap pemerintahan mendatang pasca pemilu dan pilpres Indonesia membangun hubungan internasional yang seimbang antara Indonesia dengan China dan Indonesia dengan AS.
























