Fusilatnews – Sesekali muncul dugaan ekstrem bahwa Nabi Muhammad SAW adalah tokoh fiktif. Dugaan ini sering dikemas sebagai “skeptisisme akademik”, padahal jika diuji dengan standar historiografi yang sama, ia runtuh dengan sendirinya. Perbandingan dengan tokoh-tokoh besar lain—Yesus, Buddha, dan Socrates—justru memperlihatkan bahwa persoalannya bukan kekurangan bukti, melainkan standar ganda dan bias ideologis.
Dalam ilmu sejarah, keberadaan seorang tokoh tidak diukur dengan iman, melainkan dengan sumber, konteks, dan konsistensi kesaksian. Dengan ukuran itu, Muhammad SAW bukan hanya tokoh historis, tetapi juga termasuk salah satu figur pra-modern yang paling terdokumentasi.
Yesus dari Nazaret, misalnya, secara luas diterima sebagai tokoh historis oleh mayoritas sejarawan, termasuk yang non-Kristen. Padahal, Yesus tidak meninggalkan tulisan apa pun. Injil-injil disusun sekitar 40–70 tahun setelah wafatnya, dan sumber Romawi seperti Tacitus atau Josephus hanya menyinggungnya secara singkat. Banyak detail kehidupan Yesus—tanggal lahir, kronologi pelayanan, hingga ucapan-ucapan tertentu—menjadi bahan perdebatan akademik. Namun, hampir tak ada sejarawan serius yang melompat ke kesimpulan bahwa Yesus adalah tokoh fiktif. Penolakan terhadap klaim ketuhanan tidak otomatis berubah menjadi penolakan atas eksistensi historis.
Bandingkan dengan Muhammad SAW. Ia hidup di ruang sosial dan politik yang jauh lebih terbuka. Aktivitasnya tercatat dalam konteks konflik, perjanjian, migrasi, dan pembentukan komunitas politik. Ia memimpin, bernegosiasi, dan berperang. Namanya muncul bukan hanya dalam tradisi internal Islam, tetapi juga dalam catatan non-Muslim abad ke-7 dari Bizantium, Suriah, dan Armenia. Jika standar yang sama diterapkan, menolak Muhammad sebagai tokoh sejarah sambil menerima Yesus adalah posisi yang tidak konsisten secara metodologis.
Perbandingan dengan Buddha bahkan lebih kontras. Siddhartha Gautama diperkirakan hidup pada abad ke-5 SM. Ajaran dan kisah hidupnya baru dituliskan secara sistematis ratusan tahun kemudian dalam tradisi lisan Buddhis. Sumber eksternal sezaman hampir tidak ada, dan banyak detail biografis Buddha masih diperdebatkan hingga kini. Meski demikian, konsensus umum tetap mengakui Buddha sebagai tokoh historis, walau dengan catatan kritis terhadap detail kehidupannya. Jika jarak waktu ratusan tahun antara peristiwa dan penulisan tidak membatalkan historisitas Buddha, sulit dipahami mengapa jarak puluhan tahun dalam tradisi Islam justru dijadikan alasan untuk meniadakan Muhammad.
Gambaran ringkas (sekali lihat langsung kelihatan)
| Tokoh | Waktu hidup | Sumber utama | Ditulis setelah wafat | Sumber eksternal | Konsensus sejarawan |
|---|---|---|---|---|---|
| Muhammad SAW | ±570–632 M | Sirah, hadis, Al-Qur’an | ±20–80 tahun | ADA (Bizantium, Suriah, Armenia) | Tokoh historis nyata |
| Yesus | ±4 SM – 30 M | Injil | ±40–70 tahun | ADA tapi sangat singkat | Tokoh historis nyata |
| Buddha | ±5 abad SM | Tipitaka | ±300–400 tahun | Hampir tidak ada | Tokoh historis (dengan debat detail) |
| Socrates | ±470–399 SM | Plato, Xenophon | Ditulis murid | TIDAK ada | Tokoh historis |
Kasus Socrates lebih telanjang lagi. Ia tidak menulis apa pun. Seluruh pengetahuan kita tentang Socrates datang dari murid-muridnya, terutama Plato dan Xenophon, yang menulis dengan agenda filosofis masing-masing. Tidak ada sumber independen eksternal yang mencatat Socrates secara rinci. Bahkan, para sejarawan masih memperdebatkan “Socrates yang mana” yang historis dan mana yang merupakan konstruksi Plato. Namun, hampir tidak ada literatur akademik yang menyebut Socrates sebagai tokoh fiktif. Ia diterima sebagai figur nyata, meski datanya terbatas dan sarat interpretasi.
Di titik ini, pertanyaannya menjadi terang: mengapa Muhammad SAW diperlakukan berbeda? Padahal, dibandingkan dengan Yesus, Buddha, dan Socrates, sumber tentang Muhammad lebih banyak, lebih dekat secara waktu, dan lebih beragam. Tradisi Islam mengembangkan sistem kritik periwayatan—sanad dan matan—yang bahkan oleh sebagian sejarawan Barat diakui sebagai metode verifikasi historis yang relatif ketat untuk ukuran dunia pra-modern.
Jawabannya bukan terletak pada sejarah semata, melainkan pada implikasi. Mengakui Muhammad sebagai tokoh historis berarti mengakui bahwa Islam lahir dari peristiwa nyata, aktor nyata, dan proses sosial-politik yang konkret. Bagi sebagian pihak, ini terlalu jauh konsekuensinya. Maka, lahirlah skeptisisme ekstrem: bukan sekadar mengkritik ajaran, tetapi mencoba menghapus tokohnya.
Dengan demikian, klaim bahwa Muhammad SAW adalah tokoh fiktif bukanlah kesimpulan akademik arus utama. Ia adalah sikap ideologis yang dibungkus bahasa ilmiah. Jika standar historiografi diterapkan secara konsisten, maka Muhammad SAW tidak hanya lolos sebagai tokoh sejarah, tetapi justru berdiri di antara figur-figur masa lampau dengan jejak historis paling jelas. Menolaknya sambil menerima Yesus, Buddha, dan Socrates bukanlah skeptisisme, melainkan selektivitas yang sulit dipertahankan secara intelektual.

























