Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Desakan Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar telah diletupkan. Peletupnya: Ridwan Hisjam!
Kader senior Golkar asal Jawa Timur itu mengaku setuju dengan munaslub. Pasalnya, Bahlil Lahadalia lebih fokus sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral daripada sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Akibatnya: suara Golkar turun!
Ridwan mengklaim desakan munaslub itu datang dari kader-kader teritorial Golkar yang ada di “grass roots” (akar rumput). Suara Beringin di desa-desa dan kampung-kampung, katanya, menurun. Sebab itu, mereka mendesak munaslub untuk mendepak Bahlil.
Sejumlah nama pun ia sebut sebagai calon pengganti Bahlil. Antara lain Agus Gumiwang Kartasasmita dan Bambang Soesatyo.
Sebelumnya, Bahlil membantah ada desakan munaslub. Katanya, saat ini Golkar justru sedang solid-solidnya mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bantahan Bahlil ini sepertinya normatif belaka. Seperti yang dilakukan Airlangga Hartarto sebelum akhirnya digantikan Bahlil tahun lalu.
Sejauh ini Golkar adalah partai politik yang relatif paling berhasil dalam kaderisasi. Akibatnya, siapa pun kader siap menjadi ketua umum. Berbeda dengan parpol-parpol lain yang masih mengandalkan kepemimpinan kharismatik. PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Nasdem dan Partai Demokrat, misalnya. Bahkan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono mendapat warisan kursi ayahandanya, Susilo Bambang Yudhoyono.
Kita sedang menunggu apakah Megawati Soekarnoputri juga akan melakukan hal yang sama, mewariskan kursinya kepada anak-anaknya: Puan Maharani atau Prananda Prabowo.
Sebab itu, munaslub adalah hal biasa di Golkar. Bahkan kepengurusan kembar pun lazim di partai Beringin. Sebut saja saat di Golkar ada dua ketua umum, yakni Aburizal Bakrie dan Agung Laksono.
Kini, letupan itu tinggal menunggu sambutan dari para pemilik suara. Yakni Dewan Pengurus Daerah (DPD) I di provinsi-provinsi dan DPD II di kabupaten-kabupaten dan kota-kota di Indonesia. Juga organisasi sayap Golkar.
Kalau ada sambutan dari mereka, niscaya desakan munaslub akan menjadi bola salju yang makin lama makin membesar. Bahlil pun tak akan mampu mengadang.
Apalagi konon Bahlil sudah tidak dikehendaki Istana. Pasalnya, Bahlil lebih loyal kepada Jokowi dripada Prabowo.
Kini, kondisi Golkar bak api dalam sekam. Meski di permukaan tampak adem-ayem saja, namun di dalamnya ada bara. Bara itu sewaktu-waktu bisa meletup. Dan Bahlil bisa terpental!

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)





















