Sejak muda, saya suka dengan kata “jelantik”. Terkesan cantik, menawan. Baru ngeuh, setelah saya sering ke Bali, bahwa itu adalah nama seorang tokoh. Juga saat mendengar kata Niluh Jelantik, saya teringat sebuah jalan terkenal di daerah Kuta, Bali. Disitu ada restoran, yang menyajikan menu, roti dengan isi bayam (spinac). Saya sering singgah, untuk menikmatinya, dan tentu saja partnernya dengan secangkir black coffee.
Belakangan nama Niluh Jelantik yang lain, tiba-tiba viral, tak lama usai pencapresan Anies Baswedan oleh Nasdem. Dialetika muncul, bahwa itu pasti bukan dia, yang namanya populer di Kuta itu. Banyak diberitakan bahwa Niluh Jelantitk, hengkang dari Nadem. Ia memprotest keputusan Nasdem, mencalonkan Anies Baswedan. Pro dan kontra mulai muncul. Nasdem kehilangan beberapa kader bersama Kadek Niluh. Tetapi di klaim, juga sejak Anies Baswedan dicapreskan, Nasdem diserbu ribuan kader baru.
Setelah menjadi veteran Nasdem, Kadek Niluh, tidak tinggal diam. Di akun medosnya, mulai nyerocos, yang banyak memicu pertikaian. Perseteruan semakin memuncak, ketika Kadek Niluh sering menyerang adhominin terhadap Anies Baswedan. Hingga implisit ia ingin mengatakan Anis Baswedan itu sebagai BAB. Postingan itu, banyak ditentang oleh nitizen.
Tak terima di kik balik oleh nitizen, akhirnya ditemui Kadek Niluh rencana ingin melaporkan ke polisi akun penyerangnya, Kimberley Rebeca.
Saya tak tega, menuliskan berbagai perseteruan itu, apa adanya disini. Perseteruan menanggapi kicauan Kadek Niluh itu, teramat subjektif, kasar dan tak beradab. Tulisan ini pun didorong oleh suatu pernyataan “bukan harus lapor polisi, tapi lapor ke dokter kulit”.
Untuk rata-rata orang Indonesia, saya mengklaim sendiri, terlalu sering saya pergi ke Bali. Setiap momen penting, saya ingin berada di Pulau seribu Dewa itu. Saat nyepi atau upacara besar lainnya, selalu hadir. Bahkan usai Bom Bali, dimana Bali nyaris tak ada tamu yang berkunjung, saya mengundang teman saya dari Australia (sesama sebagai Pembicara dan Jurnalis), untuk turut merasakan bagaimana Bali dalam keheningan.
Saya mempunyai banyak catatan wisdom, yang didapat dari inspirasi Bali. Mudah-mudahan ini di baca Kadek Ngiluh.
Ketika seluruh Pendeta Hindu di Bali berkumpul, dalam rangka perenungan setelah Bom Bali meledak, disaksikan oleh para kepala negara asing waktu itu, PM Australia John Howard, juga hadir dan disiarkan keseluruh pelosok dunia, Pendeta tertinggi Bali saat itu, dalam mengawali do’anya, Ia berkata seperti ini; “Alam Bali sudah kotor, marilah kita bersihkan kembali oleh kita semua, dengan masing-masing membersihkan diri”.
Kemudian salah seorang keluarga korban Bom JW Mariot, dalam mengantar mendiang Mokodompis (korban Bom Mariot) keliang lahatnya, beliau berkata; “jangan membalas kekerasan dengan kekerasan, marilah kita balas dengan kebaikan”.
Saya mengajak Kadek Niluh, untuk memaknai kebiasaan adat Bali, mandi menjelang purname, nyepi dan upacara-upacara lainnya, yang intinya adalah untuk mensucikan hati dan pikiran.
Ingat dek, orang Bali tidak takut kehilangan mu, mereka pada umumnya takut kehilangan pengunjung ke Bali. Karena merekalah Bali hidup, ribuan upacara ritual semarak, tari kecak hingar bingar ditiap Banjar, ogoh-ogoh makin meriah dan nyepi makin syahdu.
Matur Suksesma


























