• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Economy

No Thank You Jokowi; Penyebab Deflasi Saat Ini Fenomena Ekonomi Buruk “Acaman Menyimpan Bahaya di Baliknya”

Ali Syarief by Ali Syarief
October 19, 2024
in Economy, Feature
0
No Thank You Jokowi; Penyebab Deflasi Saat Ini Fenomena Ekonomi Buruk “Acaman Menyimpan Bahaya di Baliknya”
Share on FacebookShare on Twitter

Indonesia kini menghadapi tantangan ekonomi serius, yakni deflasi selama lima bulan berturut-turut. Pada pandangan pertama, deflasi, yang didefinisikan sebagai penurunan harga barang dan jasa secara umum, tampak menguntungkan masyarakat. Dengan harga yang lebih rendah, masyarakat tampaknya bisa membeli lebih banyak barang dan jasa. Namun, fenomena ini justru mengungkap masalah struktural yang lebih dalam. Harga-harga yang murah bukanlah karena peningkatan produktivitas atau inovasi, melainkan karena penurunan daya beli masyarakat. Penurunan ini menandakan bahwa masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan mereka, dan bukan karena mereka tidak ingin berbelanja.

Secara teoritis, deflasi bisa dikaitkan dengan konsep deflationary spiral, sebuah siklus negatif yang terjadi ketika harga-harga turun, yang kemudian mendorong penurunan permintaan karena ekspektasi bahwa harga akan terus menurun. Ini mengurangi pendapatan perusahaan, memicu pemutusan hubungan kerja (PHK), menurunkan daya beli masyarakat, dan pada akhirnya menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Deflasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang karena dapat mengarah pada stagnasi atau resesi yang berkepanjangan.

Ada tiga penyebab utama deflasi yang berlangsung di Indonesia selama lima bulan ini.

1. PHK Massal dan Penyempitan Lapangan Kerja

Salah satu penyebab terbesar dari deflasi ini adalah tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Data dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat bahwa lebih dari 50.000 orang telah kehilangan pekerjaan hingga 1 Oktober 2024. Angka ini sangat signifikan dan menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang semakin tidak stabil. Dalam teori ekonomi, peningkatan pengangguran akan menurunkan aggregate demand atau permintaan agregat, yaitu total permintaan terhadap barang dan jasa dalam perekonomian. Ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, pendapatan mereka hilang, dan mereka tidak lagi mampu berbelanja barang dan jasa, yang pada akhirnya menekan harga-harga turun.

Lebih jauh lagi, dalam lima tahun terakhir, lapangan kerja di sektor padat karya hampir tidak berkembang. Sektor ini, yang sering dianggap sebagai penggerak bagi kelas menengah, kini terpinggirkan oleh kebijakan ekonomi pemerintah yang lebih fokus pada investasi di sektor padat modal, seperti industri pertambangan dan teknologi. Sektor padat modal cenderung menggunakan teknologi canggih dan lebih sedikit tenaga kerja, yang berbeda dengan sektor padat karya seperti manufaktur tekstil yang dapat menciptakan banyak pekerjaan. Alhasil, nyaris 10 juta warga kelas menengah mengalami kemunduran ekonomi dan turun ke kelas ekonomi yang lebih rendah selama lima tahun terakhir, menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

2. Penurunan Pendapatan dan Konsumsi Masyarakat

Penyebab kedua dari deflasi adalah turunnya pendapatan masyarakat secara signifikan. Ketika pendapatan berkurang, banyak masyarakat menahan diri untuk berbelanja. Dalam kondisi ini, rumah tangga cenderung memprioritaskan kebutuhan pokok dan menunda pembelian barang-barang yang dianggap tidak mendesak. Sebagian besar masyarakat bahkan mulai menggunakan tabungan mereka untuk menutupi pengeluaran harian, yang mencerminkan hilangnya aliran pendapatan reguler akibat PHK dan sulitnya mencari pekerjaan baru.

Dalam teori ekonomi, ini dikenal sebagai efek income substitution, di mana ketika pendapatan turun, konsumen akan mengubah pola konsumsi mereka, memilih barang-barang yang lebih murah atau menahan diri dari pembelian sama sekali. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya permintaan barang dan jasa di pasar, yang pada akhirnya menekan harga menjadi lebih rendah.

3. Suku Bunga Tinggi dan Kebijakan Moneter yang Ketat

Faktor ketiga yang memicu deflasi adalah kebijakan moneter yang ketat, terutama suku bunga tinggi yang dipertahankan selama beberapa bulan terakhir. Bank Indonesia (BI) sempat mempertahankan suku bunga acuan yang tinggi dengan tujuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Suku bunga tinggi membuat pinjaman menjadi lebih mahal, baik untuk konsumen maupun perusahaan. Hal ini menekan investasi dan konsumsi, yang pada gilirannya menurunkan permintaan agregat.

Tingginya suku bunga telah mengurangi daya beli masyarakat, yang membuat mereka semakin enggan meminjam uang atau menggunakan kredit untuk pembelian barang-barang yang lebih mahal. Meskipun BI menurunkan suku bunga acuan pada September 2024, dampaknya belum sepenuhnya dirasakan. Penurunan suku bunga bertujuan untuk merangsang permintaan melalui peningkatan likuiditas dan kredit, tetapi efeknya cenderung memakan waktu.

Prospek Ke Depan

Indonesia saat ini menghadapi dilema yang cukup serius. Jika masalah PHK dan kurangnya lapangan kerja baru tidak segera diselesaikan, daya beli masyarakat tidak akan membaik dalam waktu dekat. Tingginya suku bunga dalam beberapa waktu terakhir hanya memperparah situasi, dan meskipun sudah mulai diturunkan, dampak kebijakan tersebut masih akan memerlukan waktu untuk dapat meresap ke dalam perekonomian.

Dalam konteks global, pengalaman Jepang yang dikenal dengan istilah lost decade dapat menjadi pelajaran. Negara tersebut mengalami deflasi yang berkepanjangan akibat stagnasi ekonomi, di mana suku bunga rendah dan stimulus fiskal tidak cukup untuk memulihkan permintaan konsumen yang lesu. Indonesia perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam siklus serupa.

Mengatasi deflasi memerlukan langkah-langkah terpadu, baik dari sisi kebijakan fiskal maupun moneter. Pemerintah perlu lebih proaktif dalam menciptakan lapangan kerja di sektor-sektor padat karya yang dapat menyerap banyak tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, reformasi struktural di sektor investasi dan kebijakan industri juga perlu dipertimbangkan, agar dapat menyeimbangkan antara sektor padat modal dan padat karya.

Tanpa intervensi yang tepat, deflasi dapat memperburuk kondisi ekonomi, memperpanjang periode kesulitan, dan mengancam kesejahteraan masyarakat secara luas.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Siapa Saja yang Tidak Dianjurkan Mengonsumsi Daun Kelor?

Next Post

No, Thank You, Regime Jokowi

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Feature

ilihan yang Bukan Pilihan

April 20, 2026
Feature

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi
Feature

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Next Post
No, Thank You, Regime Jokowi

No, Thank You, Regime Jokowi

Calon Menteri Prabowo Akan Digembleng di Akmil Magelang Pasca Pelantikan

Para Menteri Prabowo Di Gembleng di Akmil Magelang Selama Tiga Hari

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi
Feature

Menunggu Pertarungan Head to Head JK vs Jokowi

by Karyudi Sutajah Putra
April 19, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Jusuf Kalla (JK) sudah membuka front pertempuran....

Read more
JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

JK Buka Front Pertempuran Lawan Jokowi

April 19, 2026
Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

Blanket Overflight Militer AS Ancaman Serius bagi Kedaulatan Indonesia

April 17, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

ilihan yang Bukan Pilihan

April 20, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026
Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

Gelombang Opini dan Senjakala Kepemimpinan: Yahya Cholil Staquf Terancam Tidak Dipilih Lagi

April 20, 2026
Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

Skandal Laptop Siluman BGN: Menguak Korupsi Ratusan Miliar Berkedok Transformasi Digital, Peruri Terlibat

April 20, 2026
MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

MBG: Gagasan Lama, Eksekusi Tergesa, dan Arah yang Kabur

April 20, 2026

Mengelola Risiko DSR 40%: Ketika Negara Seperti Keluarga yang Terlilit Cicilan di Tengah Dunia yang Bergejolak

April 20, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

ilihan yang Bukan Pilihan

April 20, 2026

KETIKA PENDAMAI DITUDUH MENISTA AGAMA

April 20, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist