• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

PDIP Harus Berbuat Sesuatu untuk Bangsa Ini

Ali Syarief by Ali Syarief
August 4, 2026
in Feature, Politik, Tokoh/Figur
0
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ali Syarief

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam kehidupan sebuah bangsa. Dalam kurun 2014–2024, Indonesia dipimpin oleh Presiden Joko Widodo yang sejak awal pencalonannya merupakan kader dan petugas partai dari PDI Perjuangan. Terlepas dari dinamika politik yang kemudian membuat hubungan keduanya memburuk di akhir masa jabatan, fakta sejarah tidak dapat dihapus: Jokowi naik ke tampuk kekuasaan melalui mandat politik PDIP.

Karena itu, apabila hari ini berbagai persoalan nasional muncul sebagai akibat dari kebijakan selama satu dekade tersebut, PDIP tidak bisa sekadar mengambil posisi sebagai penonton atau bahkan oposisi yang seolah tidak memiliki hubungan dengan masa lalu. Ada tanggung jawab moral dan politik yang melekat pada partai yang mengusung dan menopang pemerintahan selama dua periode.

Selama sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang relatif stabil pada kisaran lima persen. Namun, angka itu jauh dari lompatan besar yang pernah dijanjikan. Indonesia gagal keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Industrialisasi tidak berkembang secara signifikan, daya saing manufaktur melemah, dan ketergantungan terhadap ekspor komoditas masih tinggi.

Di sisi lain, utang pemerintah meningkat tajam. Pemerintah beralasan bahwa utang digunakan untuk membangun infrastruktur, namun hingga kini masih menjadi perdebatan apakah manfaat ekonominya benar-benar sebanding dengan beban fiskal yang harus ditanggung generasi berikutnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah meningkatnya ketergantungan terhadap pembiayaan utang di tengah penerimaan negara yang belum tumbuh secara optimal.

Persoalan ekonomi itu hanyalah satu sisi dari masalah yang lebih besar.

Kerusakan paling serius justru terjadi pada fondasi demokrasi dan negara hukum. Selama satu dekade terakhir, banyak kalangan akademisi, aktivis, dan organisasi masyarakat sipil menilai bahwa terjadi kemunduran demokrasi. Ruang kritik semakin menyempit, aparat penegak hukum dinilai semakin sering digunakan untuk kepentingan politik, sementara prinsip checks and balances melemah.

Pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi simbol paling nyata. Revisi Undang-Undang KPK pada 2019 mengubah wajah lembaga yang sebelumnya menjadi harapan publik dalam memberantas korupsi. Independensi KPK dipertanyakan, sejumlah penyidik berintegritas tersingkir, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga antirasuah itu terus menurun.

Bagi banyak pengamat, ini merupakan salah satu titik balik kemunduran pemberantasan korupsi di Indonesia.

Namun, klimaks dari seluruh rangkaian peristiwa itu terjadi menjelang Pemilu 2024.

Putusan Mahkamah Konstitusi yang membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden memunculkan kontroversi terbesar dalam sejarah politik Indonesia pasca-Reformasi. Perubahan syarat usia pencalonan yang terjadi ketika Ketua Mahkamah Konstitusi dijabat oleh paman Gibran sendiri menimbulkan persepsi kuat tentang adanya konflik kepentingan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Walaupun secara formal putusan tersebut memiliki kekuatan hukum, secara etik dan moral keputusan itu menimbulkan luka mendalam terhadap kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan. Banyak pihak memandang proses tersebut sebagai bentuk penyimpangan dari semangat konstitusi dan prinsip meritokrasi dalam demokrasi.

Ironisnya, semua itu terjadi ketika Jokowi masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

Hari ini PDIP memang telah mengambil posisi yang berseberangan dengan Jokowi. Konflik politik antara keduanya terbuka lebar. Namun persoalannya bukan sekadar konflik elite. Bangsa ini membutuhkan lebih dari sekadar saling menyalahkan.

PDIP memiliki tanggung jawab historis untuk melakukan refleksi yang jujur. Mengakui bahwa ada kebijakan yang keliru bukan berarti mengkhianati sejarah partai. Sebaliknya, keberanian mengoreksi diri adalah ciri partai politik yang dewasa.

Bangsa ini memerlukan penjelasan kepada publik mengenai apa yang sebenarnya terjadi selama satu dekade pemerintahan yang mereka usung. Bagaimana proses pengambilan keputusan berlangsung? Mengapa berbagai pelemahan institusi demokrasi dibiarkan? Mengapa praktik-praktik yang dinilai bertentangan dengan semangat reformasi tidak dihentikan ketika partai masih memiliki pengaruh politik yang besar?

Lebih penting lagi, PDIP perlu menjadi pelopor dalam memperbaiki kerusakan institusional yang telah terjadi. Penguatan kembali independensi KPK, reformasi penegakan hukum, pengembalian kewibawaan Mahkamah Konstitusi, serta pemulihan kualitas demokrasi harus menjadi agenda utama. Bukan sekadar menjadi slogan politik menjelang pemilu berikutnya.

Sejarah selalu memberi kesempatan kepada setiap kekuatan politik untuk memperbaiki kesalahannya. Tetapi kesempatan itu tidak berlangsung selamanya.

Jika PDIP benar-benar menganggap dirinya sebagai partai ideologis yang berpihak kepada rakyat dan menjaga konstitusi, maka saat inilah waktunya menunjukkan tanggung jawab tersebut. Bukan hanya dengan mengkritik pemerintahan baru atau menjaga jarak dari Jokowi, melainkan dengan keberanian mengakui bagian tanggung jawabnya atas berbagai kemunduran yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir serta mengambil langkah nyata untuk memperbaikinya.

Sebab, pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama sebuah partai politik, melainkan masa depan demokrasi Indonesia. Bangsa ini membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan, memperbaiki institusi, dan memastikan bahwa penyimpangan serupa tidak pernah terulang lagi. Hanya dengan cara itulah kepercayaan publik dapat dipulihkan dan cita-cita Reformasi kembali menemukan jalannya.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Halal namun Mewah ​(Perspektif Etika Publik, Kepekaan Sosial, dan Dialektika Hedonisme dalam Islam)

Next Post

Nagomi: Seni Menemukan Harmoni dalam Hidup

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

7 Makanan Orang Jepang yang Harus Anda Coba Sekali Seumur Hidup
Cross Cultural

Nagomi: Seni Menemukan Harmoni dalam Hidup

August 4, 2026
Feature

Halal namun Mewah ​(Perspektif Etika Publik, Kepekaan Sosial, dan Dialektika Hedonisme dalam Islam)

August 3, 2026
42.385 Pekerja Jadi Korban PHK Januari-Juni 2025, Jawa Tengah TOP
Economy

PHK Massal: Ketika Angka Ekonomi Menutupi Derita Rakyat

August 3, 2026
Next Post
7 Makanan Orang Jepang yang Harus Anda Coba Sekali Seumur Hidup

Nagomi: Seni Menemukan Harmoni dalam Hidup

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik
News

Alarm 2029: Kang Dedi Salip Prabowo, Dua Survei Besar Bunyikan Sinyal Pergeseran Politik

by Karyudi Sutajah Putra
July 31, 2026
0

Jakarta – FusilatNews.- Peta politik menuju Pemilu Presiden 2029 mulai mengalami pergeseran signifikan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, muncul sebagai...

Read more

Ketika Gaji Kepala Daerah Jadi Kambing Hitam

July 30, 2026
Habis Nanik, Terbitlah Hotman

Habis Nanik, Terbitlah Hotman

July 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
7 Makanan Orang Jepang yang Harus Anda Coba Sekali Seumur Hidup

Nagomi: Seni Menemukan Harmoni dalam Hidup

August 4, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

PDIP Harus Berbuat Sesuatu untuk Bangsa Ini

August 4, 2026

Halal namun Mewah ​(Perspektif Etika Publik, Kepekaan Sosial, dan Dialektika Hedonisme dalam Islam)

August 3, 2026
42.385 Pekerja Jadi Korban PHK Januari-Juni 2025, Jawa Tengah TOP

PHK Massal: Ketika Angka Ekonomi Menutupi Derita Rakyat

August 3, 2026
Pasien Keracunan MBG di Semarang Tak Ditanggung BPJS, Biaya Perawatan Dibebankan ke Dinas Kesehatan

Pasien Keracunan MBG di Semarang Tak Ditanggung BPJS, Biaya Perawatan Dibebankan ke Dinas Kesehatan

August 3, 2026
Disetujui Presiden, Tarif Listrik Pelanggan 3.000 VA naik

Listrik Padam Massal di Jaksel dan Tangsel Sejak Subuh, PLN Selidiki Gangguan Suplai Gardu Induk Gandul

August 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

7 Makanan Orang Jepang yang Harus Anda Coba Sekali Seumur Hidup

Nagomi: Seni Menemukan Harmoni dalam Hidup

August 4, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

PDIP Harus Berbuat Sesuatu untuk Bangsa Ini

August 4, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...