Gaza Tengah, 25 Juni 2025 – Fusilatnews – Sebuah tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Gaza tengah. Sedikitnya 44 warga Palestina dilaporkan tewas, dan lebih dari 200 orang luka-luka, setelah pasukan Israel menyerang kerumunan warga sipil yang tengah menunggu bantuan makanan di dekat jalur Netzarim, selatan Wadi Gaza, Selasa pagi waktu setempat.
Dua rumah sakit utama—Al-Awda di Nuseirat dan Al-Aqsa Martyrs di Deir al-Balah—kini kewalahan menangani gelombang korban luka yang terus berdatangan. Tim medis menyebut situasi sebagai “bencana kemanusiaan yang terus berlangsung tanpa jeda.”
“Itu Pembantaian”
Saksi mata menggambarkan insiden ini sebagai “pembantaian.” Menurut Ahmed Halawa, salah satu penyintas, tank dan drone Israel menembaki warga yang telah berkerumun untuk mendapatkan bantuan pangan. “Mereka tidak bersenjata. Mereka hanya ingin makan,” katanya sambil menahan tangis.
Rumah sakit Al-Awda menerima 25 jenazah dan lebih dari 140 korban luka-luka, sementara Al-Aqsa menerima 6 jenazah tambahan dari lokasi yang sama. Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Serangan Ganda
Tak hanya di Gaza tengah, serangan serupa juga terjadi di Rafah, Gaza selatan. Di sana, militer Israel dilaporkan menembaki warga sipil di titik distribusi bantuan, menewaskan 19 orang dan melukai sekitar 50 lainnya. Total korban dalam satu hari ini membuat komunitas internasional kembali menyoroti dugaan kejahatan perang yang dilakukan secara sistematis oleh Israel.
Rumah Sakit Tanpa Daya
Menurut laporan organisasi kesehatan internasional, fasilitas medis di Gaza kini berada di titik kritis. WHO menyatakan rumah sakit seperti Al-Awda dan Al-Aqsa kehabisan pasokan dasar seperti oksigen, listrik, dan obat-obatan.
“Kami menangani korban dengan tangan kosong. Beberapa pasien hanya bisa kami rawat di lantai tanpa infus,” kata salah satu dokter di Deir al-Balah kepada media lokal.
Sejak akhir Mei, setidaknya 300 orang tewas dan lebih dari 3.000 terluka dalam serangan yang menyasar lokasi distribusi bantuan—menunjukkan pola kekerasan terhadap warga sipil yang sedang dalam kondisi paling rentan.
Reaksi Militer Israel
Dalam pernyataan singkat, militer Israel mengklaim tengah melakukan penyelidikan. Mereka menyebut adanya “ancaman mencurigakan” dari arah kerumunan warga dan mengaku hanya melepaskan tembakan peringatan. Namun, klaim tersebut dibantah keras oleh saksi mata dan petugas medis.
“Tidak ada tembakan peringatan. Tidak ada peringatan. Yang ada hanya peluru tajam dan ledakan,” ujar seorang relawan medis.
Situasi Semakin Memburuk
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa sejak awal perang telah melampaui 56.000 orang. Mayoritas dari mereka adalah warga sipil.
Organisasi Dokter Tanpa Batas (MSF) dan Palang Merah Internasional menyerukan gencatan senjata segera dan akses tanpa hambatan untuk bantuan kemanusiaan. Mereka menyebut serangan terhadap warga yang kelaparan sebagai “kebiadaban yang tak bisa ditoleransi.”
























