• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Birokrasi

Pemerintahan Prabowo: Serius Berkuasa, Namun Belum Serius Memerintah?

fusilat by fusilat
December 19, 2025
in Birokrasi, Feature
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh Malika Dwi Ana
19 Desember 2025

Pertanyaan yang menggelitik muncul di tengah masyarakat: Apakah Presiden Prabowo Subianto serius dalam memerintah? Jawabannya tampak pahit—serius dalam merebut kursi kepresidenan, tetapi tanda-tanda governing yang efektif masih samar. Di tengah tahun pertama kepemimpinannya, pemerintahan ini lebih tampak fokus pada konsolidasi kekuasaan daripada pengelolaan negara yang substantif, meninggalkan berbagai isu krusial menggantung.

Kabinet Gemuk: Alat Bagi-Bagi Kekuasaan dan Reshuffle Berulang

Kabinet Merah Putih di bawah Prabowo-Gibran dikenal dengan ukurannya yang jumbo, mencapai puluhan posisi menteri dan wakil menteri. Hingga Oktober 2025, reshuffle telah dilakukan hingga empat kali, termasuk pada Februari, dua kali di September, dan satu lagi di akhir tahun. Perombakan ini bukan semata untuk efisiensi, melainkan strategi “dejokowisasi” bertahap—untuk menggeser pengaruh Jokowi sambil menjaga stabilitas koalisi. Akibatnya, birokrasi menjadi lamban, koordinasi antarkementerian mandek, dan fokus pemerintahan lebih pada pembagian jabatan sebagai bayar budi politik pascapemilu.

Analis politik menilai reshuffle berulang ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap arah pemerintahan. Alih-alih membangun tim solid, kabinet justru terlihat sebagai arena akomodasi kepentingan, yang pada akhirnya memperlambat pengambilan keputusan krusial.

Penolakan Kritik: Dari “Nyinyir” hingga Tim Penjilat

Pemerintahan ini menunjukkan reaksi alergi terhadap kritik. Prabowo sering menyebut pengkritik sebagai “nyinyir tanpa kontribusi,” padahal pemimpin besar seperti Abraham Lincoln atau Barack Obama justru merangkul “team of rivals” untuk debat konstruktif guna menemukan solusi terbaik. Di sini, lebih terlihat “team of sycophants”—menteri yang gemar memuji berlebihan, seperti mengklaim presiden sebagai yang “paling cinta hutan” di tengah isu deforestasi masif. Laporan-laporan resmi sering disusun “asal bapak senang,” sementara kunjungan ke lokasi bencana lebih mirip konten mewah daripada aksi nyata.

Di media sosial, kritik terhadap pemerintahan ini marak, termasuk dari tokoh seperti Susi Pudjiastuti yang menyoroti kebutuhan dasar korban bencana seperti nasi dan air bersih, bukan sekadar slogan “negara hadir.” Namun, respons pemerintah cenderung defensif, mengabaikan masukan untuk perbaikan.

Isolasi Presiden: Disaring oleh Lingkaran Dalam

Konon, Prabowo semakin terisolasi, hanya berinteraksi dengan menteri koordinator dan asisten pribadi dari “dinasti masa lalu.” Mereka mengatur segalanya, dari jadwal hingga detail kecil seperti suhu kolam renang. Loyalitas berlebih ini terlihat dari gesture seperti penjemputan asisten di Bengkulu hingga pose santai di Instagram. Informasi krusial, seperti protes massa pada Agustus 2025, sering tak sampai tepat waktu karena penyaringan ketat.

Fenomena ini memperburuk ketidakseriusan governing, di mana keputusan strategis lebih bergantung pada lingkaran sempit daripada data lapangan yang akurat.

Bukti Nyata: Penanganan Bencana Sumatera yang Lamban

Ketidakseriusan paling kentara terlihat dalam respons terhadap bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera. Hingga 19 Desember 2025, korban jiwa mencapai 1.068 orang, dengan 190 hilang dan ribuan luka-luka. Kerugian ekonomi diperkirakan mencapai Rp51,82 triliun untuk pemulihan, termasuk Rp1,48 triliun di sektor pertanian Sumatera Utara saja. Meski demikian, Prabowo menolak menetapkan status bencana nasional, dengan alasan situasi “terkendali” dan hanya melibatkan tiga provinsi dari 38. Penolakan ini disebut karena “gengsi” dan keinginan menunjukkan kemandirian, meski bantuan asing siap membantu.

Akibatnya, bantuan menumpuk di pusat seperti Halim Perdanakusuma, sementara di lapangan warga berebut nasi dan air. Sementara itu, slogan nasionalisme terus dipompa, tapi tanah dan sumber daya alam sudah “dikapling” oleh elit. Desakan dari masyarakat sipil, seperti YLBHI dan koalisi LSM, untuk tetapkan status nasional belum digubris, bahkan ada somasi terhadap presiden. Di berbagai platform medsos, dukungan untuk pemerintahan ada, tapi kritik tentang keterlambatan juga bergaung.

Memerintah Sejati: Butuh Aksi, Bukan Drama

Dalam bahasa Indonesia, “memerintah” memiliki dua makna: menduduki jabatan dan mengatur negara secara efektif. Di era Prabowo, makna pertama lebih dominan, sementara rakyat membutuhkan yang kedua—kritik didengar, rivalitas demokrasi dibiarkan, dan aksi cepat tanpa konten semata. Jika tidak, kekuasaan ini hanya menjadi drama mahal, dengan rakyat sebagai penonton sekaligus korban.

Pemerintahan ini punya peluang memperbaiki diri. Dengarkan suara rakyat, tangani bencana dengan serius, dan bangun governing yang inklusif. Kalau tidak, pertanyaan awal akan semakin relevan: serius berkuasa, tapi tak serius memerintah?

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bukan Tuhan yang Kejam—Tapi Tafsir Manusia yang Kehilangan Rahman dan Rahim”

Next Post

Bencana Sumatera 2025: Cermin Kegagalan Negara dalam Melindungi Rakyat dan Lingkungan

fusilat

fusilat

Related Posts

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang
Feature

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris
Crime

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya
Economy

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Next Post
Bencana Sumatera 2025: Cermin Kegagalan Negara dalam Melindungi Rakyat dan Lingkungan

Bencana Sumatera 2025: Cermin Kegagalan Negara dalam Melindungi Rakyat dan Lingkungan

Di Balik Ketakutan Jokowi: Ijazah, Aktivis, dan Ancaman Konsensus Nasional

Dijelaskan Roy Suryo: Ijazah Jokowi Ada Empat Versi — Jokowi Diam Saja

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD
Feature

OTT Madiun dan Pati: Angin Segar Kubu Pilkada oleh DPRD

by Karyudi Sutajah Putra
January 21, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Presiden Prabowo Subianto dan partai politik-partai politik pendukungnya, yang mewacanakan...

Read more
LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

LBH Keadilan: Stop Kriminalisasi Warga Tangsel!

January 20, 2026
Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

Muhammadiyah Kritik Operasi Gakkumdu, Sebut Pemkot Tangsel Standar Ganda

January 19, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026
Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

Paradoks Penegakan Hukum: Ketika Aktivis Anti-Korupsi Jekson Sihombing Diperlakukan Layaknya Teroris

January 24, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Di Balik Pernyataan Purbaya: Rupiah dan Rapuhnya Fondasi Ekonomi Indonesia

January 24, 2026
Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

Walau Seblak Menyalahi Kodrat, Tapi Lidah Belajar Berdamai

January 24, 2026
Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

Terjawab Sudah, Orang Besar di Balik Kasus Ijazah Palsu Jokowi adalah Eggy Sudjana

January 24, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Sanae Takaichi dan Tantangan Ekonomi Dua Kecepatan Jepang

Memahami Sistem Politik Jepang: Mengapa DPR Bisa Dibubarkan Kapan Saja?

January 24, 2026
Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura ke Indonesia Belum Tuntas, Proses Hukum Berlanjut

January 24, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...