Sedangkan KW 9 di wilayah Jakarta memiliki tugas atau misi merekrut sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berbasis akademis hingga jenjang pendidikan S-1, S-2, dan S-3.
Perekrutan dilakukan sendiri oleh organisasi. “Artinya, lulus dari lembaga pendidikan yang dibuat oleh komandemen wilayah 9,” tutur Imam.
Dalam program Gaspol! Kompas.com, Rabu (5/7) Imam Supriyanto, Pendiri Pondok Pesantren Al Zaytun mengungkap bahwa Negara Islam Indonesia (NII) masih aktif melakukan kaderisasi.
kaderisasi melibatkan 42 imam atau pimpinan NII salah satunya adalah pimpinan Al Zaytun, Panji Gumilang.
“Masih ada perekrutan dan NII itu kan bukan hanya Pak Panji saja yang sekarang,” kata Imam
Menurut Imam, Al Zaytun awalnya didirikan sebagai program dari NII Komandemen Wilayah (KW) 9.
Imam menjelaskan, keberadaan NII di Indonesia sejak zaman Kartosuwiryo, kemudian berlanjut ke Kahar Muzakar, lalu dilanjutkan oleh Agus Abdullah, Abu Daud, dan Adah Jaelani.
Saat masa kepemimpinan Adah Jaelani itulah, NII yang tadinya hanya memiliki 7 wilayah komandemen, bertambah menjadi 9 wilayah komandemen.
“Wilayah komandemen 9 itu meliputi, Bekasi, Jakarta, Tangerang, dan Banten pada waktu itu,” kata Imam.
Sedangkan KW 9 di wilayah Jakarta memiliki tugas atau misi merekrut sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berbasis akademis hingga jenjang pendidikan S-1, S-2, dan S-3.
Perekrutan dilakukan sendiri oleh organisasi. “Artinya, lulus dari lembaga pendidikan yang dibuat oleh komandemen wilayah 9,” tutur Imam.
Selain merekrut SDM yang berkualitas, misi dari wilayah Jakarta adalah menghimpun sejumlah dana. Nantinya, dana dari Jakarta akan digunakan untuk menyubsidi kegiatan NII di wilayah-wilayah lainnya.
“Karena tahu Jakarta ini kan sumber dana. Jadi wilayah 9 itu akan menyubsidi ke wilayah-wilayah yang lain, begitu,” tutur Imam.
Selanjutnya Imam menjelaskan, sebagai lembaga pendidikan maka Al Zaytun berada di permukaan dan dikenal masyarakat.
Artinya, pergerakan ponpes tersebut berbeda dengan pergerakan NII yang bersifat ‘bawah tanah’ setelah organisasi tersebut dinyatakan terlarang sejak 1962.
Akhirnya, dirancang program di mana generasi yang menempuh pendidikan di ponpes itu bisa bergaul dengan publik nasional maupun internasional.
“Nah, ini kan pendidikan akan diciptakan generasi kita ini supaya bisa bergaul di pergaulan nasional, maupun internasional. Artinya dia harus tahu perangkat hukum, perangkat politik dan sebagainya, sistem yang ada di permukaan,” tutur Imam.
Dengan kata lain, NII merancang agar alumni Al Zaytun bisa masuk di semua aspek kehidupan. Untuk memperkuat sistem pendidikan tersebut, disusunlah program “one pipe education system” yang berjenjang sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
“Semua aspek. Dan kita buat program yang namanya one pipe education system. Dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi. Itu satu generasi itu (menempuh pendidikan) 20 tahun kalau enggak salah,” ungkap Imam. “Itu Pak Panji yang buat. Karena dia yang memang bidangnya. Kira-kira seperti itu,” tambahnya.





















