Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Mungkin bukan bodoh. Sebab kalau bodoh, mana mungkin mereka jadi penggawa (pejabat) dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?
Mungkin mereka hanya sedikit cenderung bodoh. Tapi karena yang sedikit cenderung bodoh itu seorang penggawa, maka yang tampak di permukaan adalah kebodohan.
Ketika Rachmat Pambudy, misalnya, menyatakan pemberian makan bergizi gratis lebih mendesak daripada memberi pekerjaan, apakah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) itu tidak bodoh?
Makan bergizi gratis hanya sekali habis. Sedangkan pekerjaan akan mendatangkan uang yang akan bisa dipakai untuk membeli makanan. Tak perlu gratis. Tak perlu menunya seharga maksimal Rp10 ribu. Tak perlu tak bergizi.
Berilah kail supaya rakyat bisa memancing ikan sendiri, jangan diberi ikan yang sekali makan langsung habis.
Ketika Tempo mendapatkan teror berupa kiriman paket kepala babi yang telinganya sudah dipotong, lalu Hasan Nasbi menyarankan agar kepala babi itu dimasak saja, apakah Kepala Komunikasi Kepresidenan itu tidak bodoh?
Dalam kelaziman bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim dan ajaran Islam mengharamkan babi, tak lazim kepala babi itu dimasak. Yang lazim dimasak adalah kepala kambing atau kepala ikan kakap.
Pernyataan Hasan Nasbi itu juga mencerminkan ia gagal menempatkan dirinya pada situasi dan kondisi yang seharusnya, serta nir-empati terhadap Tempo dan para awaknya yang dilanda teror. Hasan Nasbi gagal paham.
Bahkan pernyataan Hasan Nasbi itu bisa diterjemahkan ia sebagai pendukung bahkan penganjur teror terhadap media dan jurnalis, khususnya Tempo.
Terbukti kemudian, teror susulan menyasar Tempo dengan bungkusan berisi enam bangkai tikus yang kepalanya sudah terpenggal dan terpisah dari badannya.
Dua aksi teror itu dapat diterjemahkan sebagai ancaman kepada para awak Tempo berupa pemenggalan kepala. Sadis bukan?
Tidak itu saja. Keluarga Chaca, jurnalis Tempo sekaligus host program Bocor Alus Politik juga mendapatkan teror dari pihak tak bertanggung jawab. Bahkan ibunda Chaca ikut jadi sasaran teror dan peretasan media sosialnya.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sudah menginstruksikan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Wahyu Widada agar mengusut kasus teror terhadap Tempo.
Mungkin Barekrim juga perlu memeriksa Hasan Nasbi untuk mencari benang merah atau keterkaitan Kepala Komunikasi Kepresidenan itu dengan aksi teror terhadap Tempo.
Sebab, teroris itu seakan merasa mendapat angin segar dari Istana, sehingga leluasa bergerak dan punya impunitas atau kebal hukum.
Ketika harga cabai melambung tinggi dan Zulkifli Hasan memberi solusi agar rakyat menanam cabai di halaman rumah masing-masing, apakah Menteri Koordinator Pangan itu tidak bodoh?
Perlu waktu untuk memanen cabai yang baru ditanam, dan seberapa signifikannya pengaruh cabai yang ditanam di halaman rumah itu terhadap tata niaga yang menjamin harga cabai itu tak sepedas rasanya?
Ketika Yusril Ihza Mahendra menyatakan dalam beberapa tahun terakhir tidak ada pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat di Indonesia, dan pelanggaran HAM tahun 1998 bukan pelanggaran HAM berat, apakah Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan itu tidak bodoh?
Yusril boleh pintar saat menjadi akademisi, advokat atau politikus. Tapi ketika menjadi penggawa Prabowo, ternyata ia ikut-ikutan bodoh karena mungkin silau oleh kemilau kursi kekuasaan.
Ketika Yandri Susanto menggunakan kop surat dan stempel kementeriannya dalam undangan acara pribadi keluarga, apakah Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal itu tidak bodoh?
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu telah mencampuradukkan urusan keluarga dengan kementeriannya. Ia tak bisa membedakan mana urusan pribadi/keluarga, dan mana urusan negara.
Apakah kecenderungan menteri-menteri bodoh karena imbas dari presidennya, Prabowo Subianto yang suka omon-omon belaka, dan wakil presidennya, Gibran Rakabuming Raka yang suka berlagak pilon atau plonga-plongo?
Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, seperti kata Nabi Muhammad SAW, serahkan suatu urusan kepada bukan ahlinya dan tunggulah kehancurannya.






















