• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pernyataan Bahlil Lahadalia dan Refleksi Goenawan Mohamad: Ketika Politik Kehilangan Moralitas

Ali Syarief by Ali Syarief
October 7, 2024
in Feature, Politik
0
Pemerintah: Siap-Siap Kalau Kenaikan Harga BBM Terjadi
Share on FacebookShare on Twitter

Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam pidatonya yang menyerukan “menghalalkan segala cara” demi memenangkan kontestasi politik, menuai banyak kritik, termasuk dari budayawan Goenawan Mohamad. Ucapan tersebut tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga memunculkan refleksi yang lebih dalam tentang kondisi moralitas politik di Indonesia. Goenawan Mohamad, mantan redaktur majalah Tempo, mengkritik keras sikap Bahlil dengan menyebut Indonesia sebagai “tempat para bandit”, mengacu pada praktik-praktik politik kotor yang semakin menjadi-jadi.

Dalam sebuah cuplikan video yang diunggah ulang oleh Goenawan melalui akun X pribadinya pada Senin (7/10/2024), terlihat Bahlil sedang berpidato di acara konsolidasi Tim Pemenangan pasangan Ahmad Luthfi – Taj Yasin untuk Pilkada Jawa Tengah 2024, yang digelar di Sukoharjo pada Sabtu (5/10/2024). Dalam pidatonya, Bahlil menginstruksikan para kader Partai Golkar, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), untuk memastikan kemenangan Luthfi-Yasin dalam Pilkada tersebut.

Bahlil, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI periode 2015-2019 sebelum menjadi Ketua Umum Golkar, dengan tegas mengatakan, “Harus menang ya… Hipmi terbaru gak pernah kalah, selalu menang.” Ucapannya ini disusul dengan pernyataan yang lebih kontroversial, “Kalau ada potensi kalah, caranya gimana menang? Rumus Hipmi gak boleh kalah. Cara apapun lakukan, yang penting menang.”

Pernyataan ini semakin mencengangkan ketika Bahlil menyarankan agar cara-cara yang dilakukan untuk menang tidak menabrak aturan, atau setidaknya, jika melanggar aturan, “yang penting jangan ketahuan.” Ucapan ini dengan jelas menunjukkan bahwa nilai etika dan hukum bisa diabaikan selama tujuannya tercapai, yang semakin mencerminkan pragmatisme politik yang tak berprinsip.

Goenawan Mohamad: Indonesia di Tangan Para Bandit

Respon Goenawan Mohamad terhadap pernyataan ini sangat tajam. Ia mengunggah kembali video pidato Bahlil dengan narasi yang menyentuh soal degradasi moral dalam politik Indonesia. Melalui kritiknya, Goenawan secara tidak langsung menggambarkan Bahlil dan politisi lain yang sejenis sebagai bagian dari “bandit politik” yang memanfaatkan kekuasaan demi ambisi pribadi, tanpa memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran.

Istilah “bandit” dalam konteks ini tidak hanya merujuk pada pelaku kejahatan dalam arti konvensional, tetapi juga pada mereka yang menggunakan segala cara, termasuk cara-cara tidak etis dan melanggar hukum, untuk mencapai tujuannya. Para bandit politik ini, dalam pandangan Goenawan, adalah mereka yang merusak tatanan demokrasi dengan mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok di atas kepentingan bangsa dan rakyat.

Goenawan menggambarkan realitas pahit ini dengan lantang, menggambarkan bagaimana politik di Indonesia telah berubah menjadi panggung bagi mereka yang tidak segan-segan menghalalkan segala cara. Ketika para pemimpin yang seharusnya menjadi penjaga moral dan etika justru menjadi pelaku dari pelanggaran itu sendiri, demokrasi dan keadilan terancam kehilangan makna sejatinya.

Politik Tanpa Moral: Apa Dampaknya bagi Demokrasi?

Pernyataan Bahlil yang seolah mengesampingkan moralitas dalam berpolitik memunculkan pertanyaan mendasar: Bagaimana nasib demokrasi jika politisi yang seharusnya menjaga integritas justru merusak tatanan dengan mengutamakan kemenangan di atas segalanya? Politik bukan sekadar soal menang atau kalah; ini adalah soal bagaimana seorang pemimpin menjaga amanah, menjalankan prinsip-prinsip kejujuran, dan berjuang demi kepentingan rakyat.

Ketika para pemimpin politik merasa bahwa kemenangan harus diraih dengan cara apapun, mereka menciptakan preseden buruk yang merusak moralitas politik itu sendiri. Jika para politisi besar saja dapat mengabaikan aturan dan etika, maka bagaimana mungkin rakyat dapat mempercayai sistem politik yang seharusnya dibangun di atas fondasi keadilan dan kejujuran?

Goenawan Mohamad secara tepat menyingkap realitas ini: Indonesia, di bawah kepemimpinan yang tidak berintegritas, perlahan berubah menjadi tempat di mana bandit-bandit politik bebas berkeliaran, melakukan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Jika politik terus dirusak oleh praktik-praktik seperti ini, maka rakyatlah yang pada akhirnya akan paling dirugikan—kesejahteraan yang diabaikan, hukum yang dilemahkan, dan kepercayaan publik yang terus-menerus terkikis.

Menuju Perbaikan: Apa yang Harus Dilakukan?

Untuk mencegah degradasi lebih lanjut, langkah-langkah penting harus diambil. Pertama, masyarakat harus lebih kritis dalam menilai para pemimpin politik. Keputusan politik tidak boleh hanya didasarkan pada popularitas atau janji-janji manis selama kampanye, tetapi harus didasarkan pada rekam jejak dan integritas moral calon pemimpin.

Selain itu, peran lembaga independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus diperkuat. KPK dan lembaga-lembaga hukum lainnya harus berfungsi sebagai pengawas yang memastikan bahwa para politisi tidak menyalahgunakan kekuasaan mereka. Lebih dari itu, masyarakat sipil, media, dan tokoh-tokoh kritis seperti Goenawan Mohamad harus terus menjadi suara yang melawan segala bentuk penyelewengan kekuasaan.

Kesimpulan

Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menghalalkan segala cara demi kemenangan politik mencerminkan kerusakan integritas dalam dunia politik Indonesia. Kritik Goenawan Mohamad terhadap pernyataan ini dengan menyebut Indonesia sebagai “tempat para bandit” adalah refleksi tajam tentang bagaimana politik tanpa moralitas dapat menghancurkan tatanan demokrasi.

Sebagai rakyat, kita harus tetap waspada dan kritis terhadap para pemimpin yang kita pilih. Jika politik terus dibiarkan menjadi ajang perebutan kekuasaan tanpa memperhatikan etika dan hukum, maka cita-cita demokrasi yang adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia akan semakin jauh dari kenyataan.

Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dalam pidatonya yang menyerukan “menghalalkan segala cara” demi memenangkan kontestasi politik, menuai banyak kritik, termasuk dari budayawan Goenawan Mohamad. Ucapan tersebut tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga memunculkan refleksi yang lebih dalam tentang kondisi moralitas politik di Indonesia. Goenawan Mohamad, mantan redaktur majalah Tempo, mengkritik keras sikap Bahlil dengan menyebut Indonesia sebagai “tempat para bandit”, mengacu pada praktik-praktik politik kotor yang semakin menjadi-jadi.

Dalam sebuah cuplikan video yang diunggah ulang oleh Goenawan melalui akun X pribadinya pada Senin (7/10/2024), terlihat Bahlil sedang berpidato di acara konsolidasi Tim Pemenangan pasangan Ahmad Luthfi – Taj Yasin untuk Pilkada Jawa Tengah 2024, yang digelar di Sukoharjo pada Sabtu (5/10/2024). Dalam pidatonya, Bahlil menginstruksikan para kader Partai Golkar, termasuk Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), untuk memastikan kemenangan Luthfi-Yasin dalam Pilkada tersebut.

Bahlil, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum HIPMI periode 2015-2019 sebelum menjadi Ketua Umum Golkar, dengan tegas mengatakan, “Harus menang ya… Hipmi terbaru gak pernah kalah, selalu menang.” Ucapannya ini disusul dengan pernyataan yang lebih kontroversial, “Kalau ada potensi kalah, caranya gimana menang? Rumus Hipmi gak boleh kalah. Cara apapun lakukan, yang penting menang.”

Pernyataan ini semakin mencengangkan ketika Bahlil menyarankan agar cara-cara yang dilakukan untuk menang tidak menabrak aturan, atau setidaknya, jika melanggar aturan, “yang penting jangan ketahuan.” Ucapan ini dengan jelas menunjukkan bahwa nilai etika dan hukum bisa diabaikan selama tujuannya tercapai, yang semakin mencerminkan pragmatisme politik yang tak berprinsip.

Goenawan Mohamad: Indonesia di Tangan Para Bandit

Respon Goenawan Mohamad terhadap pernyataan ini sangat tajam. Ia mengunggah kembali video pidato Bahlil dengan narasi yang menyentuh soal degradasi moral dalam politik Indonesia. Melalui kritiknya, Goenawan secara tidak langsung menggambarkan Bahlil dan politisi lain yang sejenis sebagai bagian dari “bandit politik” yang memanfaatkan kekuasaan demi ambisi pribadi, tanpa memperhatikan prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran.

Istilah “bandit” dalam konteks ini tidak hanya merujuk pada pelaku kejahatan dalam arti konvensional, tetapi juga pada mereka yang menggunakan segala cara, termasuk cara-cara tidak etis dan melanggar hukum, untuk mencapai tujuannya. Para bandit politik ini, dalam pandangan Goenawan, adalah mereka yang merusak tatanan demokrasi dengan mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok di atas kepentingan bangsa dan rakyat.

Goenawan menggambarkan realitas pahit ini dengan lantang, menggambarkan bagaimana politik di Indonesia telah berubah menjadi panggung bagi mereka yang tidak segan-segan menghalalkan segala cara. Ketika para pemimpin yang seharusnya menjadi penjaga moral dan etika justru menjadi pelaku dari pelanggaran itu sendiri, demokrasi dan keadilan terancam kehilangan makna sejatinya.

Politik Tanpa Moral: Apa Dampaknya bagi Demokrasi?

Pernyataan Bahlil yang seolah mengesampingkan moralitas dalam berpolitik memunculkan pertanyaan mendasar: Bagaimana nasib demokrasi jika politisi yang seharusnya menjaga integritas justru merusak tatanan dengan mengutamakan kemenangan di atas segalanya? Politik bukan sekadar soal menang atau kalah; ini adalah soal bagaimana seorang pemimpin menjaga amanah, menjalankan prinsip-prinsip kejujuran, dan berjuang demi kepentingan rakyat.

Ketika para pemimpin politik merasa bahwa kemenangan harus diraih dengan cara apapun, mereka menciptakan preseden buruk yang merusak moralitas politik itu sendiri. Jika para politisi besar saja dapat mengabaikan aturan dan etika, maka bagaimana mungkin rakyat dapat mempercayai sistem politik yang seharusnya dibangun di atas fondasi keadilan dan kejujuran?

Goenawan Mohamad secara tepat menyingkap realitas ini: Indonesia, di bawah kepemimpinan yang tidak berintegritas, perlahan berubah menjadi tempat di mana bandit-bandit politik bebas berkeliaran, melakukan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. Jika politik terus dirusak oleh praktik-praktik seperti ini, maka rakyatlah yang pada akhirnya akan paling dirugikan—kesejahteraan yang diabaikan, hukum yang dilemahkan, dan kepercayaan publik yang terus-menerus terkikis.

Menuju Perbaikan: Apa yang Harus Dilakukan?

Untuk mencegah degradasi lebih lanjut, langkah-langkah penting harus diambil. Pertama, masyarakat harus lebih kritis dalam menilai para pemimpin politik. Keputusan politik tidak boleh hanya didasarkan pada popularitas atau janji-janji manis selama kampanye, tetapi harus didasarkan pada rekam jejak dan integritas moral calon pemimpin.

Selain itu, peran lembaga independen seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) harus diperkuat. KPK dan lembaga-lembaga hukum lainnya harus berfungsi sebagai pengawas yang memastikan bahwa para politisi tidak menyalahgunakan kekuasaan mereka. Lebih dari itu, masyarakat sipil, media, dan tokoh-tokoh kritis seperti Goenawan Mohamad harus terus menjadi suara yang melawan segala bentuk penyelewengan kekuasaan.

Kesimpulan

Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang menghalalkan segala cara demi kemenangan politik mencerminkan kerusakan integritas dalam dunia politik Indonesia. Kritik Goenawan Mohamad terhadap pernyataan ini dengan menyebut Indonesia sebagai “tempat para bandit” adalah refleksi tajam tentang bagaimana politik tanpa moralitas dapat menghancurkan tatanan demokrasi.

Sebagai rakyat, kita harus tetap waspada dan kritis terhadap para pemimpin yang kita pilih. Jika politik terus dibiarkan menjadi ajang perebutan kekuasaan tanpa memperhatikan etika dan hukum, maka cita-cita demokrasi yang adil dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia akan semakin jauh dari kenyataan.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ribuan Hakim Mogok Sidang: Tuntutan Kenaikan Gaji yang Tak Pernah Terwujud Selama 12 Tahun

Next Post

Dari Sisi Role Model Jatidiri Kepemimpinan dan Edukatif, Gibran Terlarang Menjadi RI.2

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda
Feature

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku
Feature

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026
Feature

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026
Next Post
Gibran Jawab Tudingan Pengecut Lantaran Kerap Absen Debat : Bangsa Ini Butuh Pemimpin Tak Banyak Teori

Dari Sisi Role Model Jatidiri Kepemimpinan dan Edukatif, Gibran Terlarang Menjadi RI.2

Tinjauan Moralitas Terhadap Hakim: Sosok Mulia, Wakil Tuhan, dan Aksi Mogok Karena Gaji

Tinjauan Moralitas Terhadap Hakim: Sosok Mulia, Wakil Tuhan, dan Aksi Mogok Karena Gaji

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral
Feature

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

by Karyudi Sutajah Putra
June 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Entah siapa yang memberikan hak kepada Idrus Marham, sehingga bekas...

Read more
Rakyat Melawan!

Rakyat Melawan!

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026

Melampaui Tesis Satjipto Rahardjo

June 15, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Bayang-Bayang Luhut ke Kursi Menteri Keuangan

Rumor Reshuffle Makin Kencang, Kursi Menkeu dan Gubernur BI Dikabarkan Jadi Sasaran Perombakan Prabowo

June 15, 2026
Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

June 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist