Saudaraku, centang-perenang dunia politik Indonesia hari ini terjadi krn reformasi melalui trayek yg salah: mempertahankan yg buruk, membuang yg baik. Pelaksanaan demokrasi Indonesia belum mampu mentransformasikan gerak sentripetal kekuasaan yg bersifat narsistik menuju gerak sentrifugal yg berorientasi kemaslahatan umum. Pemerintahan boleh berganti, tetapi praktik korupsi, kolusi dan nepotisme terus dipertahankan. Adapun tanggung jawab politik pada kebaikan, kesejahteraan, keadilan dan kebahagiaan rakyat enggan ditunaikan.
Elit penguasa seakan lupa daratan, bahwa nilai kehidupan tidaklah ditentukan oleh tahun-tahun dlm kehidupannya, melainkan oleh kehidupannya dlm tahun-tahun tsb. Bukan berapa lama berkuasa, melainkan nilai apa yg diberikan selama berkuasa.
Pangkal keburukan kekuasaan bermula ketika org lebih terobsesi “the love of power” ketimbang “the power to love”. Krisis kenegaraan di negeri ini terjadi krn jagad politik lebih didekap oleh org-org yg mencintai kekuasaan ketimbang kekuasaan utk mencintai.
Di dalam krisis yg membutuhkan kekuasaan yg lebih bertanggung jawab pada kebaikan hidup bersama, para pemimpin justru lebih mencintai kekuasaan yg melayani kepentingannya sendiri. Demi kekuasaan yg melayani diri sendiri itu, elit negeri tak segan melakukan manipulasi hukum dan mengembangak politik belah bambu; dgn menjerumuskan rakyat ke dlm kobaran api permusuhan antar-identitas.
Memasuki tahun politik, kesadaran utk menumbukan kekuatan mencintai itu terasa penting. Politik yg sedianya merupakan seni mengelola republik demi kebajikan kolektif melalui perbaikan otoritas publik, jangan sampai terjerumus menjadi seni menipu dan memecah-belah rakyat dgn mengatasnamakan “kebajikan publik”.
Bung Hatta mengingatkan, “Indonesia luas tanahnya, besar daerahnya, dan tersebar letaknya. Pemerintahan negara semacam itu hanya dapat diselenggarakan mereka yang mempunyai tanggung jawab yang sebesar-besarnya dan mempunyai pandangan amat luas. Rasa tanggung jawab itu akan hidup dalam dada jika kita sanggup hidup dengan memikirkan lebih dahulu kepentingan masyarakat, keselamatan nusa, dan kehormatan bangsa.” (Belajar Merunduk, YL)

























