Oleh: Jaya Suprana, Pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan
SATU dari sekian banyak teka-teki matematikal yang saya kagumi adalah pesona keajaiban surat wasiat Semar kepada Gareng, Petruk dan Bagong terkisah di dalam buku Cangkriman Punakawan yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Alkisah ketika masih hidup, Semar membuat surat wasiat yang dilegalkan oleh Notaris Togog.
Semar mewariskan 17 ekor sapi yang separuhnya diberikan ke Gareng sebagai putera sulung Semar lalu sepertiga diwariskan ke Petruk. Sementara si bungsu Bagong harus ikhlas menerima sepersembilan dari 17 sapi yang diwariskan oleh Semar kepada tiga anaknya. Warisan Semar dilengkapi syarat mutlak keras tegas bahwa 17 sapi itu tidak boleh disembelih. Jika disembelih, maka warisan batal di mana para ahli waris Semar tidak memperoleh secuil sapi pun.
Setelah Semar wafat, maka ketiga putra Semar menghadap Notaris Togog. Di hadapan ketiga putra Semar, surat wasiat almarhum Semar dibacakan oleh Notaris Togog. Setelah kaget mendengar isi surat wasiat yang tergolong mission impossible itu, ketiga anak Semar serempak menuduh Togog telah mengubah isi surat wasiat tersebut agar tiga anak Semar tidak memperoleh secuil sapi pun. Sebab berdasar logika aritmatikal sederhana saja mustahil 17 sapi bisa dibagi 2 atau 3 apalagi 9, apalagi tanpa disembelih. Gareng Petruk Bagong bersatu untuk mempolisikan Togog atas dugaan sengaja memustahilkan pewujudan surat wasiat Semar menjadi kenyataan agar akhirnya 17 sapi itu menjadi milik Togog seorang diri.
Sebagai doktor hukum alumni Universitas Swargaloka yang tersohor taat hukum, Prof DR Togog tentu saja merasa tersinggung akibat tuduhan tiga anak Semar! Langsung Notaris Togog memberikan solusi kongkret dengan menambahkan seekor sapi milik dirinya sendiri ke 17 sapi warisan Semar lalu membagi 18 sapi sesuai kehendak Semar kepada masing-masing Gareng 1/2 , Petruk 1/3 dan Bagong 1/9. Bukan sulap bukan sihir tetapi ajaib ternyata 17+1=18 sapi dibagi dua sebagai hak Gareng adalah sembilan sapi.
Sementara Petruk menerima sepertiga dari 18 sama dengan enam sapi dan Bagong ikhlas menerima sepersembilan dari 18 sama dengan cukup dua ekor sapi saja. Bukan sihir bukan sulap tapi ajaib ternyata 2 + 6 + 9 sama sekali bukan delapan belas, tetapi hanya tujuh belas. Berarti seekor sapi yang dipinjamkan oleh Togog agar jumlah sapi menjadi 18 dapat dikembalikan ke Togog tanpa sedikit pun mengurangi hak tiga anak Semar atas warisan Semar dengan pembagian prosentasi sesuai surat wasiat Semar.
Insya Allah, saya tidak keliru hitung. Mohon dimaafkan oleh para ilmuwan matematika apalagi metamatematika yang menganggap kisah keajaiban pesona warisan Semar sebagai biasa-biasa saja maka sama sekali tidak ajaib sehingga tidak layak dikagumi. Saya tetap tidak mampu berhenti merasa kagum atas kejeniusan metamatematikal Togog menyelamatkan diri dari jebakan Batman di dalam surat wasiat Semar yang siap mencemarkan nama baik diri Togog menjadi notaris rakus mau menyaplok dengan memustahilkan pewujudan surat wasiat Semar yang semula memang terkesan mustahil diwujudkan! Akibat Togog memang secara metafisikal semula adalah dewa Antaga sebagai saudara kandung dewa Ismaya yang kemudian menjadi Semar maka adalah wajar bahwa Togog sebagai seorang dewa penyandang gelar doktor hukum sekaligus juga mahir bermain dengan logika metamatematikal sehingga gagal dipermalukan oleh surat wasiat Semar.
Dikutip dari Kompas.com, Kamis 28 April 2022.





















