• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Petani Terus Lapar di Negeri Swasembada

Ir Entang Sastraatmaja by Ir Entang Sastraatmaja
January 6, 2026
in Feature, Komunitas
0
PETANI DI NEGERI SENDIRI: NELANGSA DI LADANG KEMAKMURAN
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Entang Sastraatmadja

Kemakmuran berasal dari kata kerja Latin affluere, yang berarti “mengalir berlimpah”. Dengan demikian, seseorang atau sesuatu yang diberkati kekayaan—atau menerima limpahan rezeki—dapat disebut hidup dalam kemakmuran. Dalam perspektif ekonomi, kemakmuran dimaknai sebagai kemampuan memenuhi sebagian besar kebutuhan hidup, baik primer, sekunder, maupun tersier.

Dari pengertian itu, kemakmuran dapat pula dilihat dari tingkat konsumsi masyarakat. Keluarga yang menjadikan nasi sebagai pangan pokok kerap dipersepsikan lebih makmur dibanding mereka yang menggantungkan hidup pada singkong atau jagung. Persepsi ini boleh diperdebatkan, tetapi ia mencerminkan standar sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Lebih luas lagi, kemakmuran adalah keadaan yang tumbuh dan berkembang, berkemajuan, beruntung, serta memiliki status sosial yang dianggap berhasil. Ia tidak semata soal kekayaan materi, tetapi juga mencakup kebahagiaan dan kesehatan.

Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) UNDP tahun 2020, Norwegia menempati peringkat teratas sebagai negara paling makmur di dunia, disusul Irlandia, Swiss, Hong Kong, dan Islandia. Pertanyaannya kemudian: apa dan bagaimana yang dimaksud dengan obsesi kemakmuran petani di Indonesia?

Obsesi adalah gagasan atau perasaan yang terus-menerus merasuki pikiran. Petani makmur merupakan potret kehidupan petani yang dalam kesehariannya mampu menjawab persoalan lahir dan batin secara mandiri dan bermartabat. Dengan demikian, obsesi petani makmur adalah harapan kolektif tentang kehidupan yang lebih adil dan manusiawi bagi kaum tani.

Sayangnya, potret petani di negeri ini belum seindah yang dibayangkan. Petani—terutama petani gurem dan buruh tani—masih hidup dalam kondisi nelangsa dan memprihatinkan. Hanya segelintir yang benar-benar menikmati hasil pembangunan. Karena itu, tidak berlebihan bila petani kerap divonis sebagai korban pembangunan.

Ini sungguh ironis. Di negeri agraris, petani justru terpinggirkan. Padahal, petani memiliki hak konstitusional untuk hidup sejahtera. Mensejahterakan petani adalah kewajiban negara. Siapa pun yang diberi amanah mengelola bangsa dan negara, tak boleh lupa pada hak petani dan tanggung jawab pemerintah terhadap mereka.

Pertanyaan kritis pun mengemuka: mengapa bangsa yang pernah dipuja dunia karena sukses swasembada beras, justru membiarkan petaninya hidup menderita? Apakah tidak ada korelasi positif antara swasembada beras dan kesejahteraan petani? Bukankah logikanya, produksi melimpah akan berbanding lurus dengan peningkatan penghasilan petani?

Pertanyaan ini wajar, bahkan mendasar. Anehnya, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya: produksi meningkat, kesejahteraan petani jalan di tempat. Anggapan bahwa kenaikan produksi otomatis meningkatkan kesejahteraan petani tampaknya harus segera dibuang jauh-jauh. Sebab, kesejahteraan petani dipengaruhi banyak faktor—dan harga gabah adalah salah satu yang paling menentukan.

Selama jebakan harga gabah saat panen raya terus berulang—harga anjlok, petani merugi—maka selama itu pula kesejahteraan petani sulit membaik. Di sinilah publik patut bertanya: mengapa pemerintah seolah tak berdaya mengendalikan harga gabah saat panen raya?

Pemerintah sesungguhnya memiliki kekuasaan dan kewenangan untuk melahirkan kebijakan perlindungan petani. Untuk gabah dan beras, dikenal instrumen Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, kebijakan ini kerap tampak ompong, kalah oleh kekuatan pasar yang brutal dan tidak berpihak.

Bagi petani, harga jual gabah di tingkat produksi adalah urat nadi kehidupan. Ironisnya, hampir setiap musim panen raya, harga gabah selalu jatuh. Padahal, jauh hari sebelumnya petani telah berteriak, meminta negara hadir menjaga harga agar tetap menguntungkan.

Bagi sebagian besar petani, panen raya adalah momentum harapan—kesempatan mengubah nasib setelah menunggu lebih dari tiga bulan penuh kerja keras. Bayangkan kekecewaan mereka ketika panen tiba, tetapi harga gabah justru ambruk.

Aspirasi petani ini sebenarnya sudah didengar. Bahkan, ada pejabat yang menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan perberasan menjaga harga gabah. Namun catatan kritisnya: mengapa meski pemerintah paham aspirasi petani, harga gabah tetap anjlok saat panen raya?

Membingungkan—bahkan menyakitkan. Beberapa waktu sebelum panen raya, harga gabah sempat menembus Rp7.000 per kilogram dan membuat petani tersenyum lega. Tetapi kegembiraan itu hanya seumur jagung. Panen raya datang, harga kembali terjungkal, mengulang luka lama.

Jika anjloknya harga gabah setiap panen raya terus menjadi “takdir” pertanian di Tanah Merdeka, maka kemakmuran petani akan selamanya tinggal obsesi. Pertanyaannya: benarkah bangsa ini tak mampu melahirkan terobosan cerdas agar harga gabah saat panen raya benar-benar melindungi petani?

Sebagai bangsa yang pernah mengharumkan nama Indonesia lewat swasembada beras, posisi petani sesungguhnya sangat strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Petani harus dibela dan dilindungi dari segala bentuk peminggiran.

Karena itu, ke depan kita membutuhkan pemimpin bangsa yang dengan kesadaran moral—tanpa paksaan—berkenan memuliakan petani. Pemimpin yang berani “menghunus pedang samurai” kebijakan untuk membela kaum tani. Bila semangat ini benar-benar diwujudkan, obsesi kemakmuran petani tidak lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan hidup sehari-hari.

Saatnya kita menjemput masa itu.

(Penulis, Dewan Pakar DPN HKTI)

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

KUHP Baru : Masa Iya Presiden dan Wakil Presiden Hianat Memenjarakan Warganya?

Next Post

Malapetaka dalam Penegakan Hukum: KUHP Baru Melindungi Kekuasaan, Bukan Warga

Ir Entang Sastraatmaja

Ir Entang Sastraatmaja

Related Posts

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat
Economy

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran
Economy

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia
Feature

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
Next Post
Bau Bangkai Mark Up Menusuk Istana, Prabowo Pasang Alarm

Malapetaka dalam Penegakan Hukum: KUHP Baru Melindungi Kekuasaan, Bukan Warga

Jokowi Undercover: Selimut Misteri di Balik Ijazah dan Keadilan yang Terkubur

KUHP Baru: Pikiran dan Ekspresi Masuk Ruang Pidana

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian
Feature

Tiyo Tantang Prabowo: Timun vs Durian

by Karyudi Sutajah Putra
February 25, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Aku tak bisa membayangkan bila ini benar-benar...

Read more
Hitam-Putih Wajah Prabowo

Hitam-Putih Wajah Prabowo

February 24, 2026
Badut-badut Politik

Badut-badut Politik

February 23, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026
Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

Jokowi & Prabowo, Keniscayaan yang “Mempercepat” Kehancuran

February 27, 2026
Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

Gaza, Board of Peace, dan Standar Ganda Diplomasi “Transaksional” Indonesia

February 27, 2026
AOTS: Online Seminar (Subsidized Program)

“AOTS E-Newsletter” is published by the Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS)

February 27, 2026
Mas Wowo – Jangan Seperti Cowboy, Masuk Kota Hanya Bikin Onar

Prabowo Mulai Tinggalkan Gibran? Ibarat Orang Buta yang Tiba-tiba Matanya Awas Lagi

February 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

PARADOKS PRABOWO: Kekuasaan Di Atas Rakyat

February 27, 2026
10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

10 Jenazah Korban Longsor Cisarua Dimakamkan Massal Tanpa Identitas

February 27, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...