• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Phinisi Nusantara 1986: Ketika Layar Bugis Menyentuh Langit Vancouver

fusilat by fusilat
October 16, 2025
in Feature, Science & Cultural
0
Phinisi Nusantara 1986: Ketika Layar Bugis Menyentuh Langit Vancouver
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Murhan R

Angin pagi dari Teluk Jakarta berembus lembut pada 9 Juli 1986. Di pelabuhan Muara Baru, sebuah kapal layar bertiang dua berdiri gagah, tubuhnya terbuat dari kayu pilihan dari Bulukumba. Di atas geladak, para pelaut Bugis sibuk memeriksa tali-temali, menatap ke cakrawala. Mereka bukan sekadar berlayar. Mereka hendak menorehkan sejarah.

Kapal itu bernama Phinisi Nusantara — simbol kebanggaan bangsa maritim, yang hari itu memulai pelayaran menuju negeri jauh di seberang Samudra Pasifik: Vancouver, Kanada. Tujuannya satu: memperkenalkan jiwa bahari Indonesia dalam Expo Dunia 1986, pameran internasional bertema “Transportation and Communication: World in Motion – World in Touch.”


Warisan dari Timur Nusantara

Phinisi bukan kapal biasa. Ia lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat Bugis-Makassar, yang sejak abad ke-14 telah menaklukkan lautan Nusantara dengan perahu kayu mereka. Di Bulukumba, seni membangun Phinisi diwariskan dari generasi ke generasi — bukan lewat buku atau gambar, tetapi lewat hati dan pengalaman.

Fungsinya beragam: dari mengangkut hasil bumi, berdagang lintas pulau, hingga berlayar ke negeri-negeri jauh. Dalam budaya Sulawesi Selatan, Phinisi juga memiliki makna spiritual. Ia bukan hanya alat transportasi, tapi perwujudan tekad, kerja sama, dan doa agar perjalanan selalu selamat.

Ketika dunia modern berlomba memamerkan teknologi mesin dan baja, Indonesia justru memilih membawa teknologi rakyat — kapal layar tradisional — ke ajang dunia. Gagasan itu datang dari seorang perwira TNI Angkatan Laut, Cornelis Kowas, yang pernah berlayar keliling dunia dengan kapal legendaris KRI Dewaruci.

“Yang ingin saya tampilkan bukan kemewahan teknologi, tapi kebesaran tradisi,” kenangnya. “Kapal Phinisi adalah warisan yang masih hidup — bukti bahwa bangsa ini dibentuk oleh laut.”


Menembus Samudra Pasifik

Phinisi Nusantara mengibarkan layar pada 9 Juli 1986, menempuh 10.600 mil laut melintasi samudra luas selama lebih dari dua bulan. Dari Jakarta menuju Guam, Hawaii, San Francisco, hingga akhirnya tiba di Vancouver pada 14 September 1986.

Di tengah ombak raksasa Pasifik, kapal kayu ini membuktikan ketangguhannya. Selama perjalanan, para awak — semuanya pelaut Bugis — berjuang melawan badai, angin berbalik arah, dan dinginnya malam di tengah samudra. Mereka hanya berbekal kompas, peta, dan naluri yang diwariskan dari nenek moyang.

H. Ahmad Nurhani, Direktur Phinisi Indonesia Raya sekaligus penanggung jawab ekspedisi, mencatat setiap detik perjalanan itu dengan rasa bangga.

“Belum ada pelayaran kapal tradisional sejauh ini,” katanya. “Phinisi Nusantara adalah legenda hidup. Ia menembus batas yang dulu dianggap mustahil.”

Saat tiba di Vancouver, ribuan orang menyambut di pelabuhan. Media Kanada menulis tentang “kapal kayu kecil dari Indonesia yang menaklukkan Samudra Pasifik.” Bagi dunia, itu adalah keajaiban. Bagi Indonesia, itu adalah bukti jati diri.


Setelah Vancouver: Jejak yang Tak Terhapus

Kesuksesan ekspedisi 1986 menjadi inspirasi bagi pelayaran-pelayaran berikutnya.
Pada 1988, kapal Amanna Gappa berlayar menuju Australia Utara.
Dua tahun kemudian, 1990, kapal yang sama melanjutkan perjalanan ke Madagaskar, diteruskan ke Cape Town, Afrika Selatan, dengan kru campuran Indonesia dan luar negeri.
Setelah Amanna Gappa tenggelam dalam pelayaran berikutnya, semangat itu hidup lagi lewat Damar Segera, yang pada 1992 mengarungi lautan menuju Osaka, Jepang.

Namun, tak ada satu pun yang mampu menandingi kebesaran nama Phinisi Nusantara. Kapal yang kala itu baru berusia sembilan tahun masih tetap berlayar setelah ekspedisi, digunakan sebagai kapal wisata dan pelatihan maritim.

Bahkan salah satu awaknya, Bang Rusli, veteran pelayaran Jakarta–Vancouver, masih bertugas di kapal itu bertahun-tahun kemudian. “Saya masih ingat bau garam di Pasifik Utara,” ujarnya sambil tersenyum. “Rasanya seperti mimpi yang tak pernah berakhir.”


Dari Sudomo untuk Lautan Indonesia

Ekspedisi besar ini tak lepas dari dukungan Jenderal (TNI AL) Sudomo, tokoh Angkatan Laut yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Ia percaya bahwa bangsa Indonesia hanya akan besar bila kembali menatap laut.

“Sriwijaya dan Majapahit berjaya karena menguasai lautan,” ujarnya dalam satu wawancara. “Phinisi adalah simbol kebangkitan semangat itu.”

Sudomo bahkan menyebut Phinisi sebagai “roh kebanggaan bangsa yang terapung di atas ombak dunia.” Ia ingin generasi muda Indonesia belajar bahwa teknologi modern boleh berkembang, tapi akar budaya bahari tak boleh dilupakan.


Jejak dalam Catatan dan Ingatan

Penulis R.M. Slamet Danusudirdjo dan Pius Caro mendokumentasikan perjalanan ini dalam tulisan berjudul “Ekspedisi Phinisi Nusantara 1986.” Mereka juga mengutip catatan Cornelis Kowas, yang menekankan bahwa keberhasilan Phinisi bukan hanya karena kekuatan kayunya, tapi karena semangat manusianya.

“Phinisi mengajarkan bahwa teknologi tertinggi manusia bukanlah mesin, tetapi tekad dan kerja sama,” tulisnya.


Warisan yang Tetap Berlayar

Hari ini, hampir empat dekade setelah layar Phinisi Nusantara menembus Pasifik, kisahnya masih hidup di hati para pelaut dan anak bangsa. Ia bukan sekadar kapal, melainkan pernyataan bahwa Indonesia adalah negeri pelaut sejati — bangsa yang dilahirkan dari laut, dan akan terus berdiri karena laut.

Di galangan perahu Bulukumba, suara palu masih berdentum, menandakan tradisi itu belum mati. Dan di setiap hembusan angin di atas laut, seolah terdengar bisikan dari masa lalu:

“Selama layar dikibarkan, Phinisi tidak akan pernah berhenti berlayar.”


 

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Pemkot Bandung Bangun Tungku Pembakaran Sampah di Kelurahan Isola

Next Post

FEODALISME DI PESANTREN: KOTAK PANDORA YANG TAK MAMPU LAGI DITUTUP

fusilat

fusilat

Related Posts

Feature

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026
Feature

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?
Feature

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026
Next Post

FEODALISME DI PESANTREN: KOTAK PANDORA YANG TAK MAMPU LAGI DITUTUP

Negara Tanpa Hukum Takkan Pernah Sejahtera

Negara Tanpa Hukum Takkan Pernah Sejahtera

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Reshuffle Kabinet “4L”
Birokrasi

Reshuffle Kabinet “4L”

by Karyudi Sutajah Putra
April 27, 2026
0

Jakarta - Untuk kelima kalinya sejak dilantik sebagai Presiden RI pada 21 Oktober 2024, Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan...

Read more
IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

IPW: Aneh, Polres Metro Depok Hanya Tetapkan Satu Tersangka Kasus Pengeroyokan

April 27, 2026
Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

Letkol Teddy dan Senyum Mona Lisa

April 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026
Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

Tragedi Bekasi: 14 Nyawa Melayang dalam Tabrakan KRL, Alarm Keras Keselamatan Transportasi

April 28, 2026
Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

Tuhan yang Mana Menghendaki Gibran Jadi Wapres?

April 28, 2026

Jangan Memangkas Akar IPTEK: Menilik Ulang Kebijakan Penutupan Prodi Murni

April 28, 2026

Dilema MBG: Antara Kedaulatan Dapur Keluarga dan Martabat Profesi Guru

April 28, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Jadi Transaksi: Kita Sedang Menawar Tuhan?

April 28, 2026

NEGARA DENGAN DEMOKRASI BOHONG-BOHONGAN

April 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist