Oleh: Murhan R
Angin pagi dari Teluk Jakarta berembus lembut pada 9 Juli 1986. Di pelabuhan Muara Baru, sebuah kapal layar bertiang dua berdiri gagah, tubuhnya terbuat dari kayu pilihan dari Bulukumba. Di atas geladak, para pelaut Bugis sibuk memeriksa tali-temali, menatap ke cakrawala. Mereka bukan sekadar berlayar. Mereka hendak menorehkan sejarah.
Kapal itu bernama Phinisi Nusantara — simbol kebanggaan bangsa maritim, yang hari itu memulai pelayaran menuju negeri jauh di seberang Samudra Pasifik: Vancouver, Kanada. Tujuannya satu: memperkenalkan jiwa bahari Indonesia dalam Expo Dunia 1986, pameran internasional bertema “Transportation and Communication: World in Motion – World in Touch.”
Warisan dari Timur Nusantara
Phinisi bukan kapal biasa. Ia lahir dari tangan-tangan terampil masyarakat Bugis-Makassar, yang sejak abad ke-14 telah menaklukkan lautan Nusantara dengan perahu kayu mereka. Di Bulukumba, seni membangun Phinisi diwariskan dari generasi ke generasi — bukan lewat buku atau gambar, tetapi lewat hati dan pengalaman.
Fungsinya beragam: dari mengangkut hasil bumi, berdagang lintas pulau, hingga berlayar ke negeri-negeri jauh. Dalam budaya Sulawesi Selatan, Phinisi juga memiliki makna spiritual. Ia bukan hanya alat transportasi, tapi perwujudan tekad, kerja sama, dan doa agar perjalanan selalu selamat.
Ketika dunia modern berlomba memamerkan teknologi mesin dan baja, Indonesia justru memilih membawa teknologi rakyat — kapal layar tradisional — ke ajang dunia. Gagasan itu datang dari seorang perwira TNI Angkatan Laut, Cornelis Kowas, yang pernah berlayar keliling dunia dengan kapal legendaris KRI Dewaruci.
“Yang ingin saya tampilkan bukan kemewahan teknologi, tapi kebesaran tradisi,” kenangnya. “Kapal Phinisi adalah warisan yang masih hidup — bukti bahwa bangsa ini dibentuk oleh laut.”
Menembus Samudra Pasifik
Phinisi Nusantara mengibarkan layar pada 9 Juli 1986, menempuh 10.600 mil laut melintasi samudra luas selama lebih dari dua bulan. Dari Jakarta menuju Guam, Hawaii, San Francisco, hingga akhirnya tiba di Vancouver pada 14 September 1986.
Di tengah ombak raksasa Pasifik, kapal kayu ini membuktikan ketangguhannya. Selama perjalanan, para awak — semuanya pelaut Bugis — berjuang melawan badai, angin berbalik arah, dan dinginnya malam di tengah samudra. Mereka hanya berbekal kompas, peta, dan naluri yang diwariskan dari nenek moyang.
H. Ahmad Nurhani, Direktur Phinisi Indonesia Raya sekaligus penanggung jawab ekspedisi, mencatat setiap detik perjalanan itu dengan rasa bangga.
“Belum ada pelayaran kapal tradisional sejauh ini,” katanya. “Phinisi Nusantara adalah legenda hidup. Ia menembus batas yang dulu dianggap mustahil.”
Saat tiba di Vancouver, ribuan orang menyambut di pelabuhan. Media Kanada menulis tentang “kapal kayu kecil dari Indonesia yang menaklukkan Samudra Pasifik.” Bagi dunia, itu adalah keajaiban. Bagi Indonesia, itu adalah bukti jati diri.
Setelah Vancouver: Jejak yang Tak Terhapus
Kesuksesan ekspedisi 1986 menjadi inspirasi bagi pelayaran-pelayaran berikutnya.
Pada 1988, kapal Amanna Gappa berlayar menuju Australia Utara.
Dua tahun kemudian, 1990, kapal yang sama melanjutkan perjalanan ke Madagaskar, diteruskan ke Cape Town, Afrika Selatan, dengan kru campuran Indonesia dan luar negeri.
Setelah Amanna Gappa tenggelam dalam pelayaran berikutnya, semangat itu hidup lagi lewat Damar Segera, yang pada 1992 mengarungi lautan menuju Osaka, Jepang.
Namun, tak ada satu pun yang mampu menandingi kebesaran nama Phinisi Nusantara. Kapal yang kala itu baru berusia sembilan tahun masih tetap berlayar setelah ekspedisi, digunakan sebagai kapal wisata dan pelatihan maritim.
Bahkan salah satu awaknya, Bang Rusli, veteran pelayaran Jakarta–Vancouver, masih bertugas di kapal itu bertahun-tahun kemudian. “Saya masih ingat bau garam di Pasifik Utara,” ujarnya sambil tersenyum. “Rasanya seperti mimpi yang tak pernah berakhir.”
Dari Sudomo untuk Lautan Indonesia
Ekspedisi besar ini tak lepas dari dukungan Jenderal (TNI AL) Sudomo, tokoh Angkatan Laut yang kala itu menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Ia percaya bahwa bangsa Indonesia hanya akan besar bila kembali menatap laut.
“Sriwijaya dan Majapahit berjaya karena menguasai lautan,” ujarnya dalam satu wawancara. “Phinisi adalah simbol kebangkitan semangat itu.”
Sudomo bahkan menyebut Phinisi sebagai “roh kebanggaan bangsa yang terapung di atas ombak dunia.” Ia ingin generasi muda Indonesia belajar bahwa teknologi modern boleh berkembang, tapi akar budaya bahari tak boleh dilupakan.
Jejak dalam Catatan dan Ingatan
Penulis R.M. Slamet Danusudirdjo dan Pius Caro mendokumentasikan perjalanan ini dalam tulisan berjudul “Ekspedisi Phinisi Nusantara 1986.” Mereka juga mengutip catatan Cornelis Kowas, yang menekankan bahwa keberhasilan Phinisi bukan hanya karena kekuatan kayunya, tapi karena semangat manusianya.
“Phinisi mengajarkan bahwa teknologi tertinggi manusia bukanlah mesin, tetapi tekad dan kerja sama,” tulisnya.
Warisan yang Tetap Berlayar
Hari ini, hampir empat dekade setelah layar Phinisi Nusantara menembus Pasifik, kisahnya masih hidup di hati para pelaut dan anak bangsa. Ia bukan sekadar kapal, melainkan pernyataan bahwa Indonesia adalah negeri pelaut sejati — bangsa yang dilahirkan dari laut, dan akan terus berdiri karena laut.
Di galangan perahu Bulukumba, suara palu masih berdentum, menandakan tradisi itu belum mati. Dan di setiap hembusan angin di atas laut, seolah terdengar bisikan dari masa lalu:
“Selama layar dikibarkan, Phinisi tidak akan pernah berhenti berlayar.”



















