Oleh: Karyudi Sutajah Putra
JELANG Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, ada dua kubu yang berseteru: Joko Widodo versus Anies Baswedan. Keduanya sama-sama dilanda paranoia akibat bayang-bayang kutukan Mpu Gandring di masa lalu.
Alkisah, menjelang tahun 1222, Ken Arok memesan sebilah keris bertuah kepada seorang ahli atau mpu kenamaan, yakni Gandring. Ken Arok sendiri adalah bekas berandalan yang kemudian diterima mengabdi sebagai “jogoboyo” (penjaga keamanan) oleh Tunggul Ametung, Akuwu Tumapel di Singosari, kini Malang, Jawa Timur. Akuwu adalah semacam kepala desa atau lurah di masa kini.
Meski tenggat waktunya belum tiba, karena tak sabar, Ken Arok yang saat itu kariernya sedang menanjak sebagai prajurit bahkan sampai menjadi “senopati” (panglima), pun mendatangi kediaman Mpu Gandring dengan maksud mengambil keris pesanannya.
Alangkah murkanya Ken Arok ketika mendapati keris itu memang benar-benar belum jadi. Keris yang belum sempurna itu kemudian direbut Ken Arok dari tangan Mpu Gandring lalu ditusukkan ke lambung pandai besi itu. Dalam kondisi sekarat, Mpu Gandring pun melontarkan kutukannya: keris itu akan memakan korban tujuh turunan!
Dengan siasat licik, menjadikan Kebo Ijo sebagai kambing hitam, akhirnya pada suatu malam Ken Arok menyelinap ke kamar akuwu dan membunuh Tunggul Ametung dengan keris buatan Mpu Gandring itu. Yang menjadi tertuduh justru Kebo Ijo karena ia pernah terlihat memamerkan keris yang dipinjam dari Ken Arok, kawannya sesama pengawal Tunggung Ametung.
Akhirnya Ken Arok naik takhta menggantikan Tunggul Ametung sekaligus menguasai istrinya, Kendedes, yang sangat cantik jelita.
Sebenarnya sudah lama Ken Arok mengincar Kendedes, setelah tak sengaja melihat bagian sensitif Kendedes memancarkan cahaya berkilauan. Kata seorang brahmana atau pendeta bernama Lohgawe kepada Ken Arok, perempuan yang bagian sensitifnya memancarkan cahaya itu akan melahirkan raja-raja besar di tanah Jawa. Terobsesilah Ken Arok.
Terbukti kemudian, Ken Arok pun dibunuh oleh Anusapati (1247), putra Tunggul Ametung, menggunakan keris Mpu Gandring. Begitu pun Anusapati yang kemudian dibunuh Tohjaya (1249), anak Ken Arok dari Ken Umang, menggunakan keris Mpu Gandring pula. Tohjaya pun akhirnya tewas di tangan Ranggawuni (1250), anak Anusapati, juga dengan keris Mpu Gandring. Begitulah seterusnya sampai tujuh turunan.
Paranoia
Kini, kutukan Mpu Gandring itu membayang-bayangi Pilpres 2024 di Indonesia. Presiden Jokowi dihantui ketakutan program-program pembangunannya tidak akan diteruskan oleh presiden penggantinya, terutama Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara yang saat ini pembangunannya sedang berlangsung di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Jelang Pilpres 2024, ada tiga kandidat calon presiden yang unggul tingkat keterpilihan atau elektabilitasnya, yakni Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Dari ketiga kandidat itu, Prabowo dan Ganjar sudah terang-terangan mau melanjutkan program pembangunan Jokowi. Sedangkan Anies Baswedan masih tanda tanya. Para pendukung Anies kemudian menyebut bekas Gubernur DKI Jakarta itu sebagai antitesis Jokowi.
Saking paranoidnya, sampai-sampai Jokowi mengaku terus terang akan “cawe-cawe” atau ikut campur dalam urusan pilpres, meski dalihnya demi kepentingan bangsa dan negara. Sebaliknya, kubu Anies pun dilanda paranoia. Saking paranoidnya, mereka sampai-sampai menuduh ada yang mau menjegal Anies dengan melakukan kriminalisasi dan menggagalkan pemilu. Siapa lagi yang dituduh kalau bukan pemerintah?
Denny Indrayana, pendukung Anies Baswedan bahkan sampai mengeluarkan jurus dewa mabuk dengan menuduh kanan-kiri ada yang mau menggagalkan pemilu, dan membuat surat terbuka kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menghentikan langkah pihak-pihak yang hendak menggagalkan pemilu itu.
Bak ahli nujum, Denny juga menuduh Mahkamah Konstitusi (MK) hendak memutuskan sistem proporsional tertutup dalam Pemilu 2024. Padahal, menurut Ketua MK Anwar Usman, perkara “judicial review” atau uji materi Undang-Undang (UU) No 7 Tahun 2017 tentang Pemilu itu belum dimusyawarahkan untuk diputuskan, apalagi diputuskan.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto pun ikut membantah tudingan Denny Indrayana itu. Hasto bahkan minta bekas Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia itu berkaca dari apa yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengubah sistem pemilu hanya beberapa bulan menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 yang menyebabkan perolehan suara Partai Demokrat melonjak drastis hingga 300 persen.
Dengan kata lain, tuduhan Denny itu dibayang-bayangi kutukan Mpu Gandring bahwa Presiden Jokowi pun akan melakukan hal yang sama dengan yang pernah dilakukan SBY, yaitu mengubah sistem pemilu. Ada semacam balas dendam di sana.
Pengkhianatan
Sebenarnya, Pilpres 2004 dan 2009 pun, yang keduanya dimenangi SBY, dibayang-bayangi kutukan Mpu Gandring pula, yakni antara Megawati dan SBY. Bahkan hingga kini relasi interpersonal antara Megawati dan SBY belum begitu normal, mungkin karena dibayang-bayangi kutukan Mpu Gandring itu.
Lebih jauh lagi, jika kita merunut ke belakang, pergantian rezim demi rezim di Indonesia selalu diwarnai ketidakrelaan, atau ekstremnya ada semacam perasaan dendam laiknya kutukan Mpu Gandring. Bahkan ada semacam pengkhianatan.
Soekarno merasa dikhianati Soeharto karena Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Super Semar yang ia buat “disalahgunakan” oleh Soeharto untuk menyingkirkannya.
Soeharto pun merasa dikhianati oleh BJ Habibie, beserta sejumlah menteri yang mengundurkan diri menjelang 21 Mei 1998 ketika Pak Harto menyatakan diri berhenti dari jabatan Presiden. Untuk beberapa lama, Pak Harto sempat tidak mau ditemui Habibie.
Usai Pemilu 1999, naiklah KH Abdurrahman Wahid ke tampuk kekuasaan RI-1. Megawati yang partainya memenangi pemilu merasa dikhianati oleh Poros Tengah dan Gus Dur. Megawati pun akhirnya mau menggantikan Gus Dur ketika mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) itu dikhianati oleh Ketua MPR Amien Rais yang melengserkannya.
Megawati pun merasa dikhianati oleh SBY yang tiba-tiba maju menjadi capres dalam Pilpres 2004 dan berhasil mengalahkan petahana itu, bahkan hingga dua kali termasuk pada Pilpres 2009. Sebab itu, ada semacam kepuasan tersendiri bagi Megawati ketika Jokowi yang dijagokannya menang pada Pilpres 2014, mengalahkan Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Hatta Rajasa, besan SBY.
Dus, setiap penguasa baru menegasikan penguasa lama yang digantikannya. Begitu seterusnya. Termasuk Anies Baswedan saat menggantikan Jokowi (dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok) sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2017-2022.
Penguasa lama pun tak sungkan-sungkan merecoki penguasa baru. Jangankan SBY, Jusuf Kalla saja yang pernah menjadi wakil presiden dari Jokowi belakangan ini kerap merecoki Presiden Jokowi.
Kini, ketika Anies hendak maju di Pilpres 2024, trauma Jokowi saat digantikan Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta kembali membayang. Jangan-jangan semua program yang telah dirintis Jokowi akan dibatalkan atau dihentikan di tengah jalan.
Paranoia pun menjangkiti Jokowi. Anies Baswedan pun mengidap paranoia yang sama, seolah-olah mau dikriminalisasi dan dijegal Jokowi.
Alhasil, kutukan Mpu Gandring yang dulu menimpa Ken Arok kini membayang-bayangi Pilpres 2024!
Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI).























