• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Pilpres 2024, Medsos, dan Ancaman Tribalisme Politik

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
May 16, 2023
in Feature
0
Pilpres 2024, Medsos, dan Ancaman Tribalisme Politik
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Ahmad Farisi

Jakarta – Salah satu persoalan serius yang mesti diantisipasi menjelang Pilpres 2024 adalah politik kesukuan (tribalisme politik). Politik kesukuan adalah praktik politik di mana identitas ras, etnis, dan suku dipolitisasi dan dijadikan bahan bakar politik untuk memobilisasi dukungan publik. Atau, sebaliknya, dijadikan alat untuk menyerang dan menjatuhkan lawan politik.

Dalam praktiknya, politik kesukuan di Indonesia muncul dalam bentuk narasi-narasi etnisitas seperti “Jokowi keturunan China” yang terlihat begitu masif menjelang perhelatan Pilpres 2019. Atau, seperti narasi “Anies keturunan Arab” dan “Ganjar Jawa Tulen” sebagaimana yang belakangan ini juga mulai muncul ke permukaan.

Politik kesukuan memiliki efek destruktif terhadap tatanan sosial-politik kita; pertama, merusak kerukunan; kedua, menciptakan ketegangan sosial; dan ketiga, menyuburkan benih-benih kebencian di antara sesama warga negara. Seiring dengan hal itu, makna dan tujuan politik elektoral pun juga menjadi terdistorsi: dari jalan untuk mewujudkan kepentingan bersama turun derajatnya menjadi alat untuk mewujudkan kepentingan kelompok kecil.

Menurut Amy Chu, praktik politik kesukuan itu tidak dimainkan oleh kelompok suku itu sendiri, melainkan dimotori oleh sejumlah elite-elite politik yang sedang berburu kekuasaan politik secara oportunistik (Amy Chua, 2020). Di beberapa negara dan termasuk di Indonesia, politik kesukuan sering kali digunakan karena dua hal: mudah dan relatif murah.

Di Indonesia, politik kesukuan berkembang subur salah satunya karena efek politik “patron-klien” yang melibatkan elite-elite politik dengan elite-elite lokal yang juga tak kalah oportunistiknya (Aspinall, 2019). Mereka (antara elite-elite politik dan elite-elite lokal) sering kali terlibat kesepakatan saling menguntungkan agar kelompok identitas (suku, ras, etnik) yang berada dalam jangkauannya diarahkan untuk mendukung calon tertentu.

Di era demokrasi digital, praktik politik kesukuan itu menjadi semakin terbuka dan meluas (Jamie Barrlett, 2018). Baik dalam bentuk “patron-klien” yang terkonsolidasi secara rapi atau dalam bentuk aliansi partisan yang tidak terstruktur dan cenderung serampangan.

Sebelum kemunculan media sosial (medsos), politik kesukuan tersebar dari mulut ke mulut dan/atau dari pintu ke pintu. Yang artinya jangkauannya relatif sangat sempit dan pola persebarannya pun cenderung lambat sehingga tidak sampai menimbulkan kegaduhan dan perpecahan ekstrem yang dapat membahayakan stabilitas dan persatuan nasional.

Namun, sejak munculnya medsos, politik kesukuan bukan hanya menyebar dari mulut ke mulut dan/atau dari pintu ke pintu, tetapi langsung menyebar secara luas dan cepat. Yang dengan satu klik saja, melesat dengan cepat dan mampu menerobos tabir, dinding-dinding, dan batas-batas tak bertuan. Dan, itulah sebabnya mengapa politik kesukuan penting diantisipasi sejak dini. Yang jika tak teratasi, akan menimbulkan dampak mengerikan.

Kemunculan medsos memang telah menyumbang banyak perubahan positif terhadap tata kelola demokrasi kita. Utamanya dalam kaitannya dengan kebebasan berekspresi. Namun, dalam konteks yang lain, medsos bukan hanya sekadar ikut menampung eksistensi politik kesukuan. Lebih dari itu, medsos juga ikut memfasilitasi dan mendorong merebaknya politik kesukuan yang mengancam terselenggaranya kontestasi politik yang aman damai.

Dikatakan ikut menyuburkan politik kesukuan sebab, dengan kecerdasan data (dataisme), medsos mempertemukan dan menyatukan setiap subjek-subjek politik yang memiliki kesamaan identitas ke dalam sebuah aliansi politik aktif (Francis Fukuyama, 2020). Pada titik ini, penyatuan subjek-subjek politik berdasarkan kesamaan identitas itu tidak menampakkan satu persoalan pun. Bahkan hal itu bisa dilihat sebagai sesuatu yang positif.

Tetapi, wajah buruk penyatuan subjek-subjek politik berdasarkan kesamaan identitas itu segera terlihat tatkala wibawa atau kehormatan kelompoknya merasa dihina atau direndahkan oleh aliansi politik lain yang juga terbentuk atas dasar kesamaan identitas. Di mana, alih-alih berupaya diselesaikan, yang ada persoalan itu semakin dibesar-besarkan hingga akhirnya, perpecahan sosial dan matinya identitas nasional, menjadi tak terhindarkan.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa teknologi digital di sini hanyalah sebatas teknologi pendukung di balik suburnya praktik politik kesukuan yang ada. Yang artinya, teknologi digital di sini bukanlah sumber utama pangkal persoalan politik kesukuan yang selama ini terjadi. Karena itu, untuk mengakhiri praktik politik kesukuan, tidak cukup hanya dengan mengutuk kehadiran teknologi digital sebagai biang kerok merebaknya politik kesukuan.

Lebih dari itu, guna mengakhiri politik kesukuan yang mengancam kohesi dan kerukunan sosial, dibutuhkan komitmen serius para elite-elite politik untuk tidak menjadikan identitas suku, ras, dan etnik sebagai alat politik untuk memobilisasi dukungan publik di satu sisi dan untuk menyerang lawan politik di sisi lain. Di dalam kompetisi demokratis semuanya setara sebagai warga negara. Baik yang berdarah China, Arab, Jawa, dan yang lainnya.

Keragaman adalah fondasi Indonesia. Oleh sebab itu menjadi tidak elok bila keragaman etnis, suku, dan identitas ras itu kita politisasi hanya untuk mendapatkan keuntungan elektoral belaka.

Ahmad Faris, pengamat politik dan peneliti di Akademi Hukum dan Politik (AHP).

Dikutip dari detik.com, Jumat 12 Mei 2023.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Kepala Bea & Cukai Makassar Andi Pramono Dicegah Keluar Negeri Oleh KPK

Next Post

Pelunasan Biaya Haji 1444 H Diperpanjang lagi hingga 19 Mei 2023

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda
Feature

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku
Feature

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026
Feature

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026
Next Post
Mau Tahu Antrean Keberangkatan Haji? Inilah Aplikasinya

Pelunasan Biaya Haji 1444 H Diperpanjang lagi hingga 19 Mei 2023

Dibuka Beasiswa Kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, Ini Kriterianya

Dibuka Beasiswa Kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir, Ini Kriterianya

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral
Feature

Idrus Marham dan Kebangkrutan Moral

by Karyudi Sutajah Putra
June 15, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Calon Pimpinan KPK 2019-2024 Jakarta - Entah siapa yang memberikan hak kepada Idrus Marham, sehingga bekas...

Read more
Rakyat Melawan!

Rakyat Melawan!

June 13, 2026
TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

TNI dan Komcad Bukan Alat Hadapi Demonstrasi Mahasiswa

June 13, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Membangun Mutual Dependence, Ekosistem Strategis Indonesia–China (Evaluasi Pasca “Surat Cinta” China atas Iklim Investasi Terkini di Indonesia)

June 15, 2026

Melampaui Tesis Satjipto Rahardjo

June 15, 2026
Purbaya Yudhi Sadewa: Dari Bayang-Bayang Luhut ke Kursi Menteri Keuangan

Rumor Reshuffle Makin Kencang, Kursi Menkeu dan Gubernur BI Dikabarkan Jadi Sasaran Perombakan Prabowo

June 15, 2026
Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

Harga BBM Naik hingga Suku Bunga Acuan Meningkat, Beban Masyarakat Kian Berat

June 15, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

Timnas Belanda, Selalu Saja Berbeda

June 15, 2026
Bangga dengan Ketololan: Negeri yang Membiakkan IP 2 dan Fobia Buku

Jokowi Akan Kembali Presiden Pasca Gibran

June 15, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist