Dalam Pilpres 24, persaingan antara tiga paslon menghadirkan dinamika zero-sum game. Kemenangan Salah satu Paslon berarti kekalahan Paslon yang lain. Konsep ini, berbeda dengan “win-win”, keuntungan satu pihak sebanding dengan keuntungan pihak lain. Perhatian tertuju kepada risiko yang mungkin timbul jika paslon pemenang tidak mampu memenuhi harapan bangsa dan negara.
Dari tiga paslon pada Pilpres 24 ini – pasti ada salah satu yang akan menang dan yang lain kalah. Ini hukum “the zero sum game”. Jadi bukan “win-win”, ya!. Konsep zero-sum game adalah cermin ide bahwa sumber daya atau nilai yang terbatas, dan setiap keuntungan yang satu pihak dapat memperoleh, harus sebanding, dengan kerugian yang dialami oleh pihak lain. Konsep ini berbeda dengan situasi “win-win” di mana keuntungan satu pihak tidak selalu harus merugikan pihak lain.
Soal 3 Paslon pada Pilpres Februari yang akan datang, ada dua paslon yang akan gugur korban dari uah para pemilih yang tegas. Tetapi kehawatiran yang ada adalah, jangan sampai Paslon pemenang, justru beresiko untuk pernasiban Bangsa dan Negara ini kedepan.
Maksudnya apa?
Coba kita mengambil contoh Pilpres di Amerika. Waktu Donald Trump vs Joe Biden maju sebagai Capres, bagi Amerika dua figure pemimpin tersebut hasil seleksi yang ketat diantara kedua kubu masing-masing. Sehingga terfilter dua sosok itu sebagai the best among the best. Karena itu, bagi bangsa Amerika, siapapun yang terpilih, akan dianggap yang terbaik diantara yang terbaik. Pemilihan tersebut diharapkan membawa perubahan positif dalam pemerintahan dan memberikan manfaat yang baik untuk rakyat dan negara Amerika
Pada Pilpres 2019 yang lalu, Rakyat Indonesia dihadapkan kepada dua pilihan, yaitu Jokowi dan Prabowo. Keduanya sengit beradu gagasan dan program, saling mengkritik dan bahkan menjelekan. Tetapi hukum pemilu adalah salah satu harus ada yang keluar sebagai Pemenang. Jokowi, dengan KH. Ma’ruf Amin, kembali menjadi Presiden.
Diluar dugaan banyak pihak, di ujung cerita, ternyata kedua musuh bebuyutan itu bersatu dalam pemerintahan Jokowi. Program Jokowi yang di acak-acak oleh Prabowo, pada saat kampanye, kini sedang dilaksanakannya, bahkan dinilai sebagai program yang patut dilanjutkan.
Situasi seperti itu, rakyatlah yang terdampak. Banyak diantara mereka yang kecewa dengan sikap kedua tokoh itu; fraksi politik di masyarakat, masih tetap kuat. Sementara mereka larut dalam opium kekuasaan.
Kedua orang tersebut, pada Pilpres 24 tahun ini, masih tetap kembali menjadi actor lagi. Prabowo maju lagi sebagai Capres untuk yang ketiga kalinya. Sementara Jokowi diwakili oleh anak sulungnya, Gibran, menjadi cawapresnya Prabowo. Bagi banyak kalangan, realitas ini adalah sebuah non sense, karena mendapat dukungan oleh semodel SBY, Yusril Ihza Mahendra dan Rizal Malarangeng, yang dinilai oleh Fachry Ali, ketiga tokoh itu “menapikan intelektualitas dirinya”.
Jadi? Tentu saja, pasangan Prabowo ~ Gibran itu, jika berhasil menjadi Presiden dan wakil Presiden, adalah pasangan yang akan beresiko ancaman. Pertama Prabowo is too old. Sementara Gribran is too Young. Kedua figure tersebut artifak rekam jejak integritasnya, buruk. Prabowo tersangkut masa lalunya. Sementara Gibran, dinilai telah meloncat mendobrak pagar konstitusi.
Jejak digital sebagai artifak masa lalu Prabowo dan prediksi bagaimana jika Prabowo menjadi Presiden?
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Johnny G. Plate menanggapi pernyataan calon presiden Prabowo Subianto yang menyebut Indonesia akan punah. Menurutnya, pernyataan Prabowo menandakan kubu pasangan calon nomor urut 02 itu sudah kehilangan gagasan kreatif di masa kampanye Pilpres 2019. Alih-alih menyampaikan gagasan kreatif, Plate menyebut kubu Prabowo mulai menebar ancaman ketakutan di masyarakat. Dia menilai ancaman itu justru akan terjadi sebaliknya. “Bukankah negara justru terancam bahaya jika Prabowo menang? Gagasan ekonomi tim beliau hanya slogan-slogan yang kedengarannya berpihak pada rakyat kecil namun tidak do able,” kata Plate melalui pesan singkat, Selasa (18/12).
Premis menampilkan pemimpin yang memiliki integritas tinggi, kejujuran, dan moralitas yang baik dapat membangun kepercayaan masyarakat, dapat menjadi tolok ukur untuk pasangan lain.
Sekarang, bagaimana dengan pasangan Anies Baswedan~Muhaimin Iskandar, jika terpilih menjadi Presiden? Perubahan adalah slogan Anies. Perubahan adalah jawaban mujarab untuk menyelesaikan dan menyembuhkan berbagai penyakit parasit korupsi, pelanggaran undang-undang dan konsitusi, penyelewengan anggaran, keterpurukan ekonomi, kolusi dan nepotisme yang dilahirkan oleh kebijakan jorok incumbent Jokowi.
Penyebab lain, mengapa dukungan kepada Anies Muhaimin ini tinggi adalah karena “kekelehan masa Jokowi dua periode”. Setelah dua masa pemerintahan Jokowi, banyak pemilih merasa penat atas berbagai kebijakan yang tidak berihak kepada rakyat banyak. Retorika dusta dan inkonsistensi dalam banyak hal. Anies~Imin mewakili dan monumen perubahan dari status quo yang ada. Antitesa kepemimpinan Jokowi.
Uraian diatas, menjelaskan kemenangannya menjadi solusi terhadap berbagai masalah buruknya pemerintahan jokowi, yang akan dilanjutkan oleh Paslon 2 Prabowo~Gibran. Prasa lain adalah, pemimpin yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, yang mau dan dapat mendengarkan dan merespons aspirasi masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi harapan.
Bagaimana dengan Paslon no 3? Fatsun system politik yang dianut oleh PDIP adalah Presiden/kader sebagai petugas partai. Ini agak aneh ketika diterapkan dalam system presidential, dimana orang memilih orang. Tidak memilih Partai. Terjadi kepada petugas partai yang namanya Jokowi. Diujung bencana pertikaian yang sangat sengit antara petugas Partai dan yang menugaskannya.
Jadi resiko memilih paslon no 3, ada dikisaran itu.























