• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Polisi Heroik Bukan Heroin, Polisi Empatik Bukan Arogan

fusilat by fusilat
October 16, 2022
in Feature
0
Polisi Heroik Bukan Heroin, Polisi Empatik Bukan Arogan

Presiden Joko Widodo saat hendak memberi pengarahan kepada pejabat Mabes Polri, kapolda, dan kapolres se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Jumat (14/10/2022) (Dokumentasi/Sekretariat Presiden)

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Jannus TH Siahaan | Doktor Sosiologi

KASUS Ferdy Sambo masih segar diingatan kita, peristiwa penghilangan nyawa yang akhirnya berujung pada pertunjukan ikan berkepala busuk yang disebut-sebut pernah ‘sangat berkuasa’ di dalam institusi Polri. Di sisi lain, keluarga-keluarga korban Stadion Kanjuruhan di Malang masih berkabung, sebagian besar masih tak habis pikir mengapa anaknya maupun saudaranya bisa meregang nyawa di event olahraga yang semestinya memberikan kegembiraan dan mengedepankan sportivitas berujung dengan gas air mata. Dalam rentang waktu yang pendek, seolah sang Kapolri tak diberi jeda untuk menghela nafas, seorang mantan Kapolda Sumbar yang semula diniatkan sebagai pengganti Kapolda Jawa Timur, justru berakhir jadi tersangka atas kasus narkoba. Rentetan peristiwa ini mengkhawatirkan kita, bukan saja soal rentannya pertahanan moral institusi kepolisian kita, tapi juga soal semakin negatifnya persepsi publik terhadap kepolisian sebagai institusi penegak hukum di negeri ini.

Pada satu kesempatan, Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama pernah berkata, “Understand, our police officers put their lives on the line for us every single day. They’ve got a tough job to do to maintain public safety and hold accountable those who break the law.” Kata-kata indah untuk polisi ini tentu bukan untuk polisi kita. Tapi di mana pun di dunia ini, sejatinya persis seperti kata-kata Obama itulah rakyat semestinya memahami institusi kepolisian, di mana empati terhadap kesiapan anggota polisi untuk berkorban berpadu dengan harapan yang tinggi pada kinerja institusi kepolisian demikian pula integritas para personelnya. Empati dari publik sangat dibutuhkan oleh polisi. Pekerjaan menegakkan keamanan dan ketertiban masyarakat bukanlah pekerjaan mudah dan sederhana, penuh dengan tantangan dan perjuangan, pun perlu disertai dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Setiap polisi berpeluang berhadapan dengan penjahat saban waktu, mulai dari pencuri sepeda, pencuri sepeda motor yang bersenjata rakitan, pembunuh berdarah dingin, penista agama berumat ribuan, pelaku KDRT ber-follower jutaan, sampai pada koruptor yang di-backing mafia.

Karena itulah Polisi membutuhkan empati publik. Dengan empati, publik akan menempatkan dirinya di posisi polisi dan mencoba memahami betapa berat sesungguhnya tanggung jawab polisi, baik terhadap rakyat banyak, terhadap atasan, maupun terhadap Tuhan. Bersamaan dengan empati tersebut, muncul ekspektasi. Ekspektasi tersebut tidak main-main. Sosok Bhayangkara yang mampu menumpas pencuri motor bersenjata rakitan, menenggelamkan pembunuh bardarah dingin ke dalam penjara, menggiring penista agama ke balik jeruji, membuat para pelaku KDRT jera, dan merontokkan jejaring koruptor dengan mafianya, pastilah disebut sebagai pahlawan. Tak main-main bukan. Secara ideal, dalam tatanan sosial, budaya, ekonomi, dan politik seperti ini, hanya pahlawan lah yang bersedia menjalankan tanggung jawab tersebut. Jadi tak heran mengapa publik nasional merindukan figur Polisi Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso karena idealitas heroik seorang polisi memang seperti Jenderal Hoegeng.

Masalahnya, empati itu kini menipis. Rentetan kasus yang melanda institusi kepolisian belakangan, hanya bagian dari ujung cerita dari cerita panjang yang melintang bertahun-tahun lalu. Mulai dari barter pasal dengan uang di pinggir jalan, barter proteksi dengan komisi, barter alat bukti dengan masa tahanan, adanya imperium judi online dan narkoba di rumah kepolisian sendiri, sampai pada pertunjukan hidup mewah bertaburkan barang branded, semuanya bersambung dengan peristiwa-peristiwa kekinian yang terkait dengan institusi kepolisian . Dengan begitu, sangat tidak mungkin empati publik bisa dipanen. Lanjutannya tentu sudah bisa ditebak. Menipisnya empati akan mengikis ekspektasi, lalu menyuburkan sikap apatis. Jika tak segera introspeksi dan melakukan antisipasi dan mitigasi, maka pelan-pelan polisi bisa tak akan lagi dianggap, apalagi dihormati. Mamang, risiko ini menjadi tidak adil jika ditanggung oleh institusi kepolisian semata. Terlalu besar taruhan yang harus ditanggung institusi untuk dosa-dosa yang dilakukan sebagian kecil oknum aparatnya. Karena, di satu sisi, acapkali terungkap bahwa dosa-dosa tersebut dilakukan oleh segelintir jaringan oknum polisi, dan di sisi lain terekspos secara berulang-ulang, maka lama kelamaan ikut merapuhkan kepolisian secara institusional. Kejadian-kejadian belakangan yang berimbas kepada reputasi polisi menyisakan dua cara padang.

Pertama, kejadian-kejadian tersebut boleh jadi menjadi puncak gunung es yang mewakili begitu banyak kejadian-kejadian yang sama yang belum terungkap. Kedua, kejadian-kejadian belakangan bisa terungkap karena keberanian polisi – polisi baik di dalam institusi kepolisian yang berani bersikap tegas melawan segala bentuk penyalahgunaan wewenang polisi, sehingga ekspektasi publik kepada institusi kepolisian masih sangat berpeluang untuk dipulihkan. Dengan kata lain, dengan cara pandang kedua, publik masih bisa berharap bahwa keberadaan polisi-polisi baik di dalam institusi kepolisian tidak saja bisa menghancurkan puncak es tersebut, tapi sekaligus bisa merobohkan gunung yang mengendap di bawahnya. Dan soal ini, saya termasuk orang yang sependapat dengan Ron Paul, politisi Partai Republik Amerika Serikat. “Most police officers are good cops and good people,” kata Ron Paul suatu ketika.

Dengan kata lain, empati dan ekspektasi publik bisa diraih kembali oleh kepolisian, jika Kapolri dan polisi-polisi baik lainnya di dalam institusi kepolisian kita bisa segera menunjukkan aksi heroik penegakan hukum di satu sisi dan menjalankan kehidupan yang penuh dengan empati terhadap rakyat banyak di sisi lain. Lebih dari ini, selain heorik dan empatik, institusi Polri harus benar-benar bisa lebih solid, baik ke dalam maupun ke luar. Rumor soal perpecahan, kubu-kubuan di internal Polri, atau rumor soal adanya kekuatan internal yang ingin merongrong kepemimpinan Polri hari ini, jika benar, sepatutnya segera dieliminasi. Tujuannya, agar persepsi “polisi baik” tidak saja disandang oleh orang per orang, tapi juga disandang oleh Kepolisian secara institusional. Untuk itu, Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo harus bisa meyakinkan publik bahwa beliau memang berani membersihkan institusinya dari oknum-oknum aparat yang berpotensi berjalan sendiri di luar visi Kapolri di satu sisi dan berpotensi merusak institusi kepolisian di sisi lain alias aparat-aparat yang berkategori ikan berkepala busuk itu. Pendek kata, yang dibutuhkan publik adalah polisi yang solid secara institusional di satu sisi, serta polisi yang baik nan heroik, bukan penikmat heroin dan sabu-sabu, polisi yang empatik, bukan yang arogan yang menihilkan nyawa seorang bawahan dan menyerbu suporter bola dengan gas air mata, di sisi lain. Semoga.

Jannus TH Siahaan | Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM). Pernah berprofesi sebagai Wartawan dan bekerja di industri pertambangan.

Dikutip Kompas.com, Minggu 16 Oktober 2022

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Jenderal Dagang Narkoba, Catatan Delapan Tahun Revolusi Mental Jokowi

Next Post

Sekjen PDIP Disebut Mirip Cara PKI, Ini Respon Hasto

fusilat

fusilat

Related Posts

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi
Birokrasi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Feature

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?
Feature

Sejarah yang Memilih Pahlawan: Mengapa Keumalahayati Lebih Layak Diangkat daripada R.A. Kartini?

April 22, 2026
Next Post
Sekjen PDIP Disebut Mirip Cara PKI, Ini Respon Hasto

Sekjen PDIP Disebut Mirip Cara PKI, Ini Respon Hasto

Rusia dan AS Diambang Perang, Rusia Tidak Ingin Perang

Penembakan Jarak Jauh Tentara Rusia tewaskan 11 orang, 15 terluka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci
daerah

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

by Karyudi Sutajah Putra
April 23, 2026
0

Jakarta-FusilatNews - Untuk ke-9 kalinya, Setara Institute merilis data Indeks Kota Toleran (IKT). Ada 10 kota yang masuk dalam kategori...

Read more
Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

Menguji Kesaktian Ade Armando dan Abu Janda

April 22, 2026
JK & Seekor Gajah

JK & Seekor Gajah

April 21, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Kebenaran Al-Qur’an melalui Surat Al-Lahab: Ketika Waktu Menjadi Saksi

April 23, 2026
10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

10 Kota Paling Toleran: Salatiga Jawara, Ambon Juru Kunci

April 23, 2026
Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

Halal Bihalal Emak-Emak Berubah Jadi Mimbar Perlawanan: Kritik Pedas ke Rezim Menggema dari Menteng

April 22, 2026
Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

Dibungkam Berulang, Pelapor Tumbang: Jejak Kontroversi Ubedilah Badrun dan Nasib Para Pengkritiknya

April 22, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Saya Pikir, Memilih Prabowo Keluar dari Labirin Jokowi

Peringkat Utang Indonesia Anjlok: Ketika Negara Terjebak Membayar Masa Lalunya

April 23, 2026
Symbul Kerinduan Kolektif – Tergila-gila kepada Purbaya

Menkeu Tak Tahu Pajak Tol: Kebijakan Negara Jalan Sendiri, Koordinasi Dipertanyakan

April 23, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist