Jakarta, FusilatNews – Kepolisian mengaku telah mengantongi sejumlah ciri pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Meski demikian, hingga kini para pelaku masih dalam pengejaran.
Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyebutkan, berdasarkan hasil penyelidikan dan rekaman kamera pengawas (CCTV), aksi penyerangan itu diduga dilakukan oleh empat orang yang menggunakan dua sepeda motor.
Para pelaku diketahui sempat menunggu korban sebelum melakukan pengejaran. Polisi menduga mereka membuntuti Andrie Yunus dari kawasan Cikini hingga akhirnya menyerang korban di wilayah Jalan Salemba, Jakarta Pusat.
“Diduga empat orang terduga pelaku menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini, lalu membuntuti korban hingga ke Jalan Salemba,” ujar salah satu pejabat kepolisian dalam keterangannya, Senin (16/3).
Peristiwa penyiraman air keras itu sendiri terjadi pada Kamis malam (12/3). Saat itu korban yang sedang mengendarai sepeda motor diserang oleh pelaku yang melintas dan langsung menyiramkan cairan kimia berbahaya ke arah tubuhnya.
Akibat serangan tersebut, Andrie Yunus mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya dan hingga kini masih menjalani perawatan medis. Polisi juga belum dapat memintai keterangan korban secara mendalam karena fokus pemulihan kesehatan.
Pelaku Berpencar Usai Beraksi
Dari hasil penelusuran polisi, setelah melakukan aksi penyiraman, para pelaku langsung melarikan diri dan berpencar untuk menghilangkan jejak.
Dua pelaku pertama melarikan diri melawan arus menuju arah Pasar Senen, kemudian terdeteksi bergerak melalui Kramat Raya hingga kawasan Jakarta Selatan. Sementara dua pelaku lainnya melaju menuju arah Matraman dan Jatinegara sebelum akhirnya jejak mereka mengarah ke wilayah Jakarta Timur.
Penyidik juga menemukan indikasi bahwa para pelaku sempat mengganti pakaian dalam perjalanan guna menghindari pelacakan. Polisi kini menganalisis rekaman CCTV serta data jaringan komunikasi di sekitar lokasi untuk mempersempit identifikasi para pelaku.
Polisi Imbau Publik Tidak Sebar Informasi Keliru
Di tengah penyelidikan, polisi juga meluruskan beredarnya foto yang diklaim sebagai wajah pelaku di media sosial. Kepolisian menegaskan gambar tersebut merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) dan tidak menggambarkan identitas pelaku sebenarnya.
Aparat mengimbau masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi karena berpotensi menyesatkan proses penyelidikan.
Hingga saat ini, Polda Metro Jaya masih terus melakukan pengejaran terhadap para pelaku sekaligus mendalami kemungkinan motif di balik penyerangan terhadap aktivis HAM tersebut.
Jika Anda mau, saya juga bisa membuat versi berita ini lebih “tajam” dengan gaya khas FusilatNews (lead lebih kuat, lebih investigatif, dan lebih hidup) agar terasa seperti tulisan redaksi profesional.


























