Dalam suatu percakapan dengan Prof. Galdikas (dikenal sebagai ahli orang utang dunia), di Kawasan Tanjung Puting, Kalteng, saya banyak belajar dari pikiran-pikiran orang asing ini, yang telah mulai faham dengan budaya bangsa Indonesia. “Pak Ali, disini itu minta ma’af lebih mudah darpada minta ijin”, celotehnya. Ia menjelasakan, niat baiknya dalam berbagai kegiatan, sulit sekali bila diawali dengan minta ijin dari Lembaga terkait. Banyak itu ini nya, katanya. Sehingga menyulitkan. Jadi beliau tidak mau peduli lagi dengan niat baik tersebut, langsung saja melakukan sesuatu itu. Nanti bila ditegur oleh yang bewenanang, selesai dengan membungkuk-bungkukan badan, lalu minta maaf.
Selesai, katanya.
Banyak peristiwa yang ditangani Polisi, ujungna Polisi minta maaf. Kasus Polisi yg membanting pendemo, di Tangerang. Salah tangkap pengeroyok Ade Armando, dll. Setuju dengan peradaban minta ma’af itu, bila memang terjadi kesalahan. Itu baik. Tetapi pada sisi lain, minta maaf tidak boleh mengabaikan aspek pelanggaran hukumnya, bila ada.
Peristiwa face recognition pengeroyok Ade Armando, ternyata diketuhui kemudian salah tangkap, ini tidak hanya pelakunya, cukup dengan permintaan maaf. Ia sudah dapat dipastikan melanggar prosedur kerja yang konsepnya presisi itu. Jadi sudah termasuk dalam tindak-laku kelalaian atau ketidak cermatan, hingga telah merugikan pihak terkait dan nama baik Lembaga Kepolisian itu sendiri.
Pejabatnya harus ditindak.
Tapi untuk LBP, minta maaf soal Big Data, sudah dapat dipastikan tidak akan dilakukan, walaupun itu teramat mudah. Karena permintaah ma’af bagi LBP dalam soal big data, adalah pengakuan manipulatifnya. Jadi dengan kalem, ia pernah mengatakan, “saya tidak punya kewajiban untuk membuka big data” itu katanya.
Naiknya PPN, BBM, Minyak Goreng, dll, kita tidak mendengar pernyataan resmi permintaan maaf dari para pengelola pemerintahaan ini, karena mungkin tidak terlalu dianggap penting, bagi mereka. Jokowi pun malah, sempat memarahi mereka, yang abai atas hal ini.
Sebagian masyarakat kita yang faham akan peradaban yang baik, nilai-nilai sosial seperti ucapan terima kasih, permohonan maaf, adalah tidak dipandang sebagai hal yang sepele.
Pasalnya, kita itu manusia!. Bukan hewan. Al-insanu khayawanun nathieq, yaitu makhluk yang berperadaban.(fusilatnews)


























