• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

POPULISME, PENCITRAAN, DAN OTORITER: MEMBANDINGKAN KDM DAN JOKOWI DALAM KONTEKS DEMOKRASI

Radhar Tribaskoro by Radhar Tribaskoro
May 19, 2025
in Feature, Politik
0
Absurdnya Intervensi Pejabat Politik dalam Karier Profesional – Case Study Pemecatan KepSek SMA 6 Depok
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Radhar Tribaskoro

Dedi Mulyadi atau akrab disebut KDM, menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat dengan gaya kepemimpinan yang mencolok dan kontroversial. Banyak pihak menyebutnya mirip dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), bahkan menuduhnya sebagai jiplakan. Tuduhan lain menyebut KDM sebagai pemimpin populis dengan kecenderungan otoriter. Dalam tulisan ini, saya ingin mengulas secara lebih ilmiah dua hal: apakah benar KDM hanya meniru Jokowi, dan apakah langkah-langkah langsung dan tegas yang ia ambil menandakan sifat otoritarian?

Dengan merujuk pada teori populisme, demokrasi substantif, dan otoritarianisme kompetitif, kita akan mencoba menempatkan KDM dalam spektrum kepemimpinan kontemporer Indonesia.

Populisme: Istilah yang Perlu Didefinisikan Ulang

Secara akademik, populisme bukanlah kata negatif, meskipun kerap digunakan sebagai celaan dalam diskursus publik. Menurut Cas Mudde (2004), populisme adalah ideologi tipis (thin-centered ideology) yang melihat masyarakat terbelah menjadi dua kelompok homogen: rakyat murni versus elite korup. Dalam konteks ini, pemimpin populis sering kali mengklaim diri sebagai perwakilan langsung dari rakyat, memotong jalur institusional untuk memberikan solusi cepat dan konkret.

Baik Jokowi maupun KDM bisa disebut populis dalam pengertian ini. Namun ada perbedaan fundamental dalam cara keduanya mengekspresikan populisme:

  • Jokowi dikenal dengan gaya kepemimpinan simbolik: blusukan, komunikasi publik yang lembut, dan strategi pencitraan yang kuat sejak kampanye 2014. Namun seiring berjalannya waktu, Jokowi semakin banyak menyesuaikan diri dengan elite partai dan oligarki ekonomi, memperlihatkan kompromi dengan kekuasaan terpusat.

  • KDM, sebaliknya, justru muncul sebagai antitesis dari kompromi politik. Ia mendobrak sistem dari dalam, memilih jalan langsung—kadang sendirian—dalam mengeksekusi kebijakan. Ia membongkar beton sungai, menertibkan pasar, bahkan mengirim siswa bermasalah ke pusat pelatihan militer. Ia tak segan menggunakan uang

  • pribadi untuk mengatasi masalah kemanusiaan. Semuanya ditampilkan di media sosial secara transparan.

Keduanya menggunakan media sosial, tetapi KDM menggunakannya bukan hanya untuk pencitraan, melainkan sebagai ruang pertanggungjawaban langsung ke publik. Jokowi memposisikan diri sebagai presiden yang mewakili stabilitas dan harmoni. KDM menampilkan diri sebagai pemimpin yang tegas, kadang konfrontatif, tetapi akuntabel.

Media Sosial: Panggung Demokrasi Baru

Perbandingan ini menjadi penting karena media sosial telah menjadi arena baru demokrasi deliberatif. Dalam kerangka pemikiran Manuel Castells (2009), kita memasuki era networked politics, di mana hubungan langsung antara pemimpin dan rakyat dimediasi oleh teknologi digital. Ini menciptakan jenis baru dari legitimasi, yang tidak hanya berdasarkan prosedur (prosedural) tetapi berdasarkan partisipasi visual dan responsif.

Di sinilah kita melihat perbedaan mencolok:

  • Jokowi cenderung menampilkan visualisasi stabilitas, kunjungan kerja, dan penegasan peran negara.

  • KDM menggunakan media sosial sebagai instrumen untuk memetakan masalah, menunjukkan proses, dan membuka ruang koreksi publik secara real time.

Dengan demikian, menyebut KDM sebagai “jiplakan Jokowi” karena sama-sama menggunakan media sosial tidaklah adil. KDM menampilkan aksi bukan pose. Gaya komunikasinya bukan penggambaran kekuasaan, melainkan transparansi kerja.

Apakah KDM Otoriter?

Tuduhan otoritarianisme sering dialamatkan kepada KDM oleh kalangan LSM dan partai politik. Namun jika kita kembali pada definisi ilmiah, otoritarianisme melibatkan beberapa elemen:

  1. Konsentrasi kekuasaan yang tidak terbagi.
  2. Penghapusan atau pembatasan lembaga oposisi.
  3. Penggunaan instrumen negara untuk menekan kritik.
  4. Represi terhadap kebebasan sipil.

KDM, sejauh ini, tidak menunjukkan indikator-indikator di atas. Ia justru mempraktikkan keterbukaan tinggi dalam komunikasi publik. Ia tak mengintervensi pemilu, tak membungkam DPRD secara institusional, dan tak menggunakan aparat untuk menekan kritik. Ia bahkan menerima kritik terbuka dan menjawabnya langsung di media sosial.

Pengiriman siswa bermasalah ke pendidikan militer memang menuai kritik. Namun langkah itu bukanlah tindakan koersif sistematis, melainkan bentuk intervensi sosial berbasis kedisiplinan. Bahkan, banyak dari siswa itu mendapat pembiayaan pribadi dari sang gubernur. Dalam konteks ini, tindakan KDM lebih mencerminkan bentuk governing by example daripada governing by fear.

Steven Levitsky dan Lucan Way (2010) menyebut istilah competitive authoritarianism untuk rezim yang tampak demokratis namun sebenarnya menggunakan institusi formal untuk mempertahankan kekuasaan. Dalam pengamatan terhadap KDM, tidak terlihat adanya pola tersebut. Ia tidak menggunakan kekuasaan untuk mengamankan posisinya, justru berani menghadapi risiko politik dengan gaya kerja yang tidak populer di kalangan elite.

Legitimasi: Prosedural vs Kinerja

Konflik antara KDM dan DPRD Jawa Barat mencerminkan konflik klasik antara dua jenis legitimasi:

  1. Legitimasi prosedural: diperoleh dari pemenuhan aturan formal dan mekanisme koordinasi.

  2. Legitimasi kinerja (performance legitimacy): diperoleh dari hasil konkret yang dirasakan rakyat.

KDM mengambil risiko dengan memprioritaskan yang kedua. Ia tidak mengabaikan prosedur, tetapi mempercepatnya atau menempuh jalur alternatif ketika prosedur justru menjadi alat untuk menunda atau menumpuk kepentingan.

Dalam teori new public management (Osborne & Gaebler, 1992), tindakan seperti KDM dianggap sah dan perlu, khususnya dalam konteks stagnasi birokrasi. Model kepemimpinan seperti ini muncul ketika birokrasi tidak lagi bisa menjawab kebutuhan publik dengan cepat.

Kritik terhadap KDM: Perlu Teoretisasi, Bukan Delegitimasi

Sebagian kritik terhadap KDM muncul karena cara kerjanya yang tidak konvensional dianggap merusak tatanan. Namun justru di sinilah letak tantangan intelektual kita: perlu teoretisasi terhadap gaya kerja seperti ini agar tidak dikurung dalam label populis, otoriter, atau pencitraan semata.

KDM bisa dibaca dalam kerangka “disruptive bureaucrat”, yakni pemimpin yang menantang tata kelola lama tetapi tetap bertanggung jawab secara publik. Ia tidak menciptakan sistem paralel, tetapi memperbaiki sistem melalui tekanan moral dan kerja nyata.

Dalam konteks Luhmannian, KDM bisa dipahami sebagai “irritasi positif” terhadap sistem politik yang tertutup. Ia membawa diferensiasi baru—menginjeksikan logika kemanusiaan ke dalam sistem formal yang selama ini terlalu mekanistik.

Penutup: Demokrasi Butuh Eksperimen

KDM bukanlah Jokowi kedua. Ia bukan populis dangkal. Ia bukan pula otoriter. Ia adalah representasi dari eksperimen baru dalam kepemimpinan daerah: langsung, transparan, efektif, dan tak segan bertanggung jawab secara pribadi. Bahwa ia kontroversial, itu wajar. Setiap bentuk inovasi dalam politik selalu menimbulkan resistensi dari sistem lama.

Namun jika kita ingin demokrasi tumbuh bukan hanya dalam bentuk prosedur tetapi dalam hasil yang nyata, maka model-model kepemimpinan seperti KDM layak mendapatkan ruang. Bukan untuk dikultuskan, tapi untuk dipelajari dan dikritisi secara ilmiah—bukan secara emosional atau partisan.

Referensi:

Mudde, Cas. (2004). The Populist Zeitgeist. Government and Opposition, 39(4).

Castells, Manuel. (2009). Communication Power. Oxford University Press.

Levitsky, Steven & Way, Lucan A. (2010). Competitive Authoritarianism. Cambridge University Press.

Osborne, David & Gaebler, Ted. (1992). Reinventing Government. Addison-Wesley.

Luhmann, Niklas. (1995). Social Systems. Stanford University Press.===

Cimahi, 19 Mei 2025
Penulis adalah mantan Sekertaris DPD Gerindra Jawa Barat

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ijazah yang Tak Pernah Muncul: Drama Legitimasi di Tengah Keraguan Publik

Next Post

Demokrasi Bagi Gula-Gula Kekuasaan

Radhar Tribaskoro

Radhar Tribaskoro

Related Posts

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP
Birokrasi

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Birokrasi

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia
Cross Cultural

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
Next Post
Demokrasi Bagi Gula-Gula Kekuasaan

Demokrasi Bagi Gula-Gula Kekuasaan

ASN Yang  Boleh Melakukan Work from Anywhere (WFA)

Robohnya Supremasi Sipil

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Tiga Oknum TNI AD Penyiksa Sampai Mati Imam Masykur Dituntut Hukuman Mati
Birokrasi

Bukan Revitalisasi, Tapi Darurat Reformasi TNI

by Karyudi Sutajah Putra
March 26, 2026
0

Jakarta - Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Aulia Dwi Nasurlah menyatakan proses revitalisasi internal menjadi hal penting dilakukan dalam...

Read more
Polisi itu Angkatan Perang – Tentara itu Polisi?

TNI Sabotase Penegakan Hukum

March 19, 2026
Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

Teror Air Keras KontraS: Oknum TNI Pelakunya, Siapa Dalangnya?

March 18, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026
Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

Kapolres Kolaka Diminta Tertibkan Tambang Ilegal Berkedok Pemerataan

March 28, 2026

Ketika Kebohongan Dibungkus Rapi: Lima Kontrak, Satu Kebusukan

March 28, 2026
Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

Beras Mahal, Petani Selamat: Mengapa Jepang Berbeda dari Indonesia

March 27, 2026
PETANI TANPA BULOG

PETANI PADI PUNAH PERLAHAN: SAWAH MASIH ADA, ANAK MUDA MENGHILANG

March 27, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

TPN Ganjar – Mahfud Desak  Gibran Mundur Dari PDIP

19 Juta Lapangan Kerja: Dari Janji Besar Menjadi Omon-Omon Politik?

March 28, 2026
Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

Efisiensi yang Memakan Aparat Sendiri: Ribuan PPPK Terancam Dikorbankan di Era Prabowo

March 28, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

 

Loading Comments...