Fusilatnews – Di era ini, hidup seakan berubah jadi game level dewa. Dulu, hidup seperti menabung dan panen: kerja keras, kumpulkan, lalu tuai. Kini, Gen Z hidup di dunia di mana hasil panen tak sebanding dengan biaya pupuk. Beli meja TV saja harus dicicil tiga bulan. Bukan bercanda. Ini realita.
Kita sering mendengar orang tua bercerita:
“Bapak dulu umur 27 udah punya rumah, istri, dua anak, dan satu mobil.”
Sekarang, di usia yang sama, banyak Gen Z masih tinggal di kamar kos dengan AC bocor dan lemari baju dari kardus.
Tapi jangan salah sangka.
Bukan karena mereka malas, atau boros kopi kekinian.
Justru mereka pekerja keras yang multitasking: kerja pagi-sore, lanjut freelance malam, jualan di TikTok, dan belajar coding di sela-sela.
Masalahnya ada di struktur.
Harga rumah naik seperti roket Elon Musk,
sementara gaji naik seperti siput mogok kerja.
Inflasi tak hanya menggerogoti dompet, tapi juga harapan.
Lihat data? Upah minimum naik 3-5% per tahun. Harga rumah? Melonjak 10-15% saban tahun.
Simulasi KPR bilang kamu bisa cicil rumah 15 tahun. Tapi siapa yang bisa menyisihkan 30% gaji, kalau 60% sudah habis untuk makan, transport, kuota internet, dan bayar utang kuliah?
Gen Z hidup dalam tekanan finansial dan sosial. Di satu sisi harus mandiri, di sisi lain dikejar ekspektasi. Dunia digital menciptakan ilusi bahwa semua orang sukses di usia muda. Tapi kenyataannya? Mayoritas justru bertahan dari cicilan ke cicilan, dari diskon ke diskon.
Inilah yang disebut generasi sandwich digital — terhimpit antara beban ekonomi dan tekanan eksistensi. Mereka harus membiayai diri sendiri, kadang membantu orang tua, dan tetap tampil baik di Instagram.
Jadi apa yang bisa dilakukan?
Bagi Gen Z, mungkin perlu realistis sekaligus kreatif.
Menabung bukan lagi soal menyisihkan, tapi soal mengatur ulang prioritas.
Jangan malu menyewa, jangan gengsi berbagi. Bangun komunitas, cari kolaborasi. Rumah bisa ditunda, tapi kesehatan mental jangan digadaikan.
Dan bagi Gen X dan Milenial yang sudah lebih dulu jalan, mungkin saatnya berhenti menghakimi. Dunia sekarang bukan sekadar lebih mahal — tapi lebih rumit. Jangan ukur masa kini dengan penggaris masa lalu.
Kalau dulu punya rumah di umur 27 adalah pencapaian,
hari ini, punya tabungan darurat dan kesehatan mental yang stabil sudah termasuk prestasi.
Hidup hari ini memang tak selesai dicicil. Tapi setidaknya, mari kita bayar dengan keteguhan, bukan dengan putus asa.






















