Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
Banyak warga bangsa yang merah putih jiwanya menengarai, Kabinet Merah Putih (KMP) masih menyisakan “api dalam sekam”. Musuh dalam selimut itu tidak lain adalah para pemain lama, sebagian pernah terpapar kasus, namun tetap bercokol di lingkaran kekuasaan. Nama-nama seperti Zulkifli Hasan, Airlangga Hartarto, Sri Mulyani, Budi Arie, Bahlil, hingga jejak Tito Karnavian dalam “buku merah”, menjadi catatan publik yang tak mudah dihapus.
Pertanyaannya, mampukah Prabowo Subianto menepati cita-citanya sebagai Presiden ke-8 tanpa terganggu intrik internal? Atau justru terganggu agenda sabotase politik dari mereka yang lihai memainkan lip service?
Belakangan memang ada hembusan optimisme. Prabowo mulai menunjukkan langkah pemadaman bara, dari meredam riak politik hingga menggeser tokoh-tokoh bermasalah seperti Immanuel (Noel) Wamenaker dan Yaqut, bekas Menag RI, yang selama ini dikenal dekat dengan kubu “King of lip service”. Politik santun secara step by step seakan menjadi metode Prabowo untuk menutup celah perlawanan.
Namun politik tidak pernah stagnan. Demonstrasi kecil di depan DPR RI pada Senin, 25 Agustus 2025, yang berujung digiringnya sekitar 150 orang ke Polda Metro Jaya, menandakan ada riak yang bisa ditunggangi. Aksi itu memang diarahkan menolak kenaikan gaji wakil rakyat, tetapi aroma “api dalam sekam” cukup terasa. Publik pun bertanya-tanya: apakah ini hanya test water? Apakah ada kaitannya dengan rumor masa jabatan Presiden ke-8 yang “cukup dua tahun” sebelum digantikan sosok lain yang penuh kontroversi?
Jika benar ada “duri dalam daging”, biarlah publik menjadi saksi kapan tanaman anyir itu menampakkan racunnya. Dukungan akar rumput pada Prabowo jelas menanti momentum panen raya: saat musuh dalam selimut benar-benar terungkap, lalu dipangkas habis.
Pada akhirnya, politik adalah soal kepentingan. Tidak ada kawan abadi. Namun publik yakin, Prabowo hanya akan bisa berjalan tegak jika mampu menjaga jarak dari para pemain lip service dan menutup pintu rapat-rapat terhadap sabotase internal.
Wallahu a’lam, begitulah politik. Yang jelas, bangsa ini tak boleh kembali ke pupuk lama para penguasa klasik, tetapi harus diarahkan menuju cita-cita konstitusi: Indonesia yang adil dan sejahtera.

Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)























