Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Bahkan seekor Keledai pun tak mau terantuk dua kali pada batu yang sama. Prabowo Subianto sudah barang tentu lebih cerdas daripada Keledai. Akan tetapi, mengapa Presiden RI itu mau terantuk dua kali pada batu yang sama?
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat baru-baru ini, salah satunya dipicu oleh alih fungsi hutan menjadi kebun kelapa sawit. Kini, mengapa Prabowo justru mewacanakan ekspansi kebun kelapa sawit ke Pulau Papua?
Tujuannya, konon, demi kemandirian energi supaya Indonesia tidak impor minyak lagi. Kelapa sawit menghasilkan minyak nabati yang bisa diproses menjadi etanol untuk bahan bakar minyak (BBM).
Apakah Prabowo tidak belajar dari bencana alam yang melanda Pulau Sumatera yang telah merenggut ribuan nyawa manusia tak berdosa?
Apakah Prabowo mau menjadikan Pulau Papua seperti Pulau Sumatera yang mudah diterjang bencana banjir bandang dan tanah longsor?
Benteng Terakhir
Pulau Papua adalah benteng ekologis terakhir Indonesia dengan fungsi hidrologis yang sangat vital. Papua dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan hutan dan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Saat ini, di Pulau Papua pun sudah ada kebun kelapa sawit. Jika Prabowo mewacanakan untuk membuka kebun kelapa sawit baru di Bumi Cendrawasih, bagaimana nasib rakyat Papua ke depannya?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, seperti dilansir sebuah media, Pulau Papua menunjukkan variasi luasan kebun sawit yang cukup signifikan antardaerah otonom baru (DOB), mulai dari Papua Selatan dengan luasan terbesar hingga Papua Pegunungan yang tercatat belum memiliki perkebunan kelapa sawit.
Papua Selatan tercatat sebagai provinsi dengan luasan perkebunan kelapa sawit terbesar di Pulau Papua, yakni mencapai 97,77 hektare.
Papua Barat mencatat luasan perkebunan kelapa sawit sebesar 48,33 hektare, disusul Papua Barat Daya dengan 38,42 hektare. Kedua wilayah ini sejak lama dikenal sebagai pintu masuk awal pengembangan perkebunan skala besar di Pulau Papua.
Untuk Provinsi Papua, luasan perkebunan kelapa sawit mencapai 42,17 hektare. Adapun Papua Tengah tercatat memiliki luasan perkebunan kelapa sawit yang relatif kecil, yakni 9,37 hektare. Kondisi geografis yang didominasi wilayah pegunungan dan tantangan akses menjadi salah satu faktor yang membatasi pengembangan perkebunan sawit di provinsi ini.
Papua Pegunungan tercatat memiliki luasan perkebunan kelapa sawit 0,00 hektare. Hal ini menunjukkan bahwa hingga 2024 belum terdapat aktivitas perkebunan kelapa sawit yang tercatat secara statistik di wilayah tersebut.
Pembukaan kebun kelapa sawit baru di Pulau Papua merupakan ancaman terhadap hak adat masyarakat Papua, kelestarian hutan adat, ketahanan pangan lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Pembukaan kebun kelapa sawit baru di Pulau Papua juga akan memicu konflik agraria, mempercepat kerusakan hutan, dan menghancurkan sistem pangan lokal yang selama ini bertumpu pada sagu, serta hasil hutan lainnya.
Dan, ini yang jauh lebih berbahaya: bencana banjir bandang dan tanah longsor seperti yang terjadi di Pulau Sumatera!
Tentu, Prabowo dan kita semua tak mau kalah dengan Keledai.

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI)






















