Oleh: Dr Sukron Ma’mun Yusuf MA

Jakarta – Jika ada seseorang yang memberikan kepada kita uang sejumlah Rp86.400 setiap hari dan kita diwajibkan menghabiskannya dalam waktu satu hari satu malam. Jika masih ada uang yang tersisa maka uang itu akan dianggap hangus dan tidak bisa kita belanjakan lagi. Maka mungkin kita akan berusaha keras untuk menghabiskan uang itu dan tidak akan menyisakannya sedikit pun.
Namun, jika 86.400 itu adalah satuan detik yang setiap hari Allah berikan kepada kita, apakah kita pun akan melakukan hal yang sama?
Ternyata tidak seperti perumpamaan di atas. Kita banyak menyia-nyiakan bilangan 86.400 detik waktu yang Allah berikan kepada kita.
Sebagai renungan, jika dalam satu hari kita menyia-nyiakan waktu satu jam saja untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya, maka hal itu sama saja kita menyia-nyiakan 3.600 detik dalam sehari. Jika dikalikan satu bulan, maka ada sekitar 108.000 detik waktu yang tidak kita pergunakan sebagaimana mestinya. Jika setahun, maka ada 1.296.000 detik dan seterusnya.
Itu hanya renungan sederhana yang kadang kita tidak menyadarinya. Padahal Allah tidak memberikan semua itu tanpa perhitungan dan pertanggungjawaban.
Dalam sebuah hadits dinyatakan dua dari empat pertanyaan penting yang akan ditanyakan kepada manusia pada hari perhitungan adalah mengenai waktu, di antaranya pertanyaan mengenai umur dan masa muda.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya empat perkara; usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya darimana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan; dan ilmunya apa yang sudah ia amalkan. (HR Bazzar dan Thabrani).
Sesungguhnya ajaran agama Islam telah memberikan perhatian yang begitu besar terhadap waktu. Banyak ayat Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yang berbicara tentang pentingnya waktu dalam berbagai versi dan penggambaran.
Salah satu contoh perhatian Al Quran terhadap waktu adalah Allah bersumpah mempergunakan pada permulaan surat-surat makiyah, seperti “demi masa”, “demi malam yang menutupi cahaya siang dan siang apabila telah terang menderang”, “demi fajar dan malam yang sepuluh”, dan lain-lain. Ini menjadi bukti perhatian Islam terhadap waktu.
Di samping itu, kalau kita membaca sirah (sejarah hidup Rasul dan sahabatnya) maka kita akan mengetahui bahwa perhatian para sahabat terhadap waktu begitu besar, melebihi perhatian mereka terhadap harta, sehingga mereka lebih rela jika harus kehilangan harta dibanding dengan kehilangan waktu dan kesempatan.
Dikisahkan, ada seorang sahabat yang sedang menikmati indahnya pemandangan kebun miliknya dan tanpa terasa olehnya waktu ashar telah lewat. Setelah tersadar ia bertobat kepada Allah dan sebagai “iqab” (tebusan) buat dirinya, maka seluruh kebunnya ia infaq-kan di jalan Allah.
Puasa adalah ibadah paling rahasia di mata manusia, yang bisa menumbuhkan sikap disiplin diri, merasa diawasi oleh Allah. Sikap ini akan memunculkan perasaan ada pengawasan diri-sendiri dan saat mengawasi itu kita pun sadar bahwa kita sedang diawasi oleh Zat Yang Maha Mengetahui segala-galanya.
Kita sadar sedang disorot oleh “kamera” Ilahi yang sangat tajam. Kita akan menghindarkan diri dari bujuk rayu setan dan hawa nafsu.
Pendidikan disiplin dalam berpuasa meliputi disiplin menunaikan kewajiban dan melaksanakan perintah sebagaimana perintah Allah untuk berpuasa, seperti ditegaskan dalam surat Al Baqarah ayat 183 (Kutiba ‘alaikumusshiyam).
Disiplin dalam waktu yakni disunatkan menyegerakan berbuka ketika telah tiba waktu berbuka puasa. Disiplin fisik dan hukum yakni mematuhi untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami isteri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Sungguh puasa bulan Ramadan telah melatih dan menyadarkan kita untuk menghargai waktu. Bukankah selama bulan ini kita telah dilatih untuk selalu tepat waktu, terutama pada saat makan sahur dan berbuka, karena jika tidak, maka hal itu akan merusak ibadah puasa kita.
Begitu juga selama satu bulan kita selalu mengisi hari-hari dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah, karena jika tidak, maka itu akan berakibat pada rusaknya ibadah puasa kita.
Dengan niat dan kemauan yang kuat, insya Allah masa latihan selama satu bulan sudah cukup untuk membiasakan kita menghargai waktu.























