Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)
Jakarta – Judul di atas adalah kutipan ucapan Anwar Sanusi, anggota Politbiro Pusat Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang peristiwa Gerakan 30 September 1965 dalam film “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984) garapan sutradara Arifin C Noer.
Ibu Pertiwi Hamil Tua yang memicu Peristiwa G30S/PKI itulah yang mengantarkan lengsernya Soekarno dari kursi Presiden RI.
Ibu Pertiwi Hamil Tua kembali terjadi pada 1998 yang mengantarkan lengsernya Soeharto dari kursi Presiden RI pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun berkuasa.
Ibu Pertiwi Hamil Tua tahun 1998 ditandai dengan krisis moneter yang berlanjut ke krisis ekonomi dan krisis politik yang melahirkan gelombang aksi demonstrasi mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia yang berpuncak pada kerusuhan Mei 1998 yang memaksa Presiden Soeharto mundur pada 21 Mei 1998.
Saat krisis moneter, Siti Hardijanti Indra Rukmana, putri sulung Soeharto yang akrab disapa Mbak Tutut, yang saat itu menjabat Menteri Sosial mengimbau masyarakat menyumbangkan emasnya bagi negara untuk memulihkan perekonomian nasional.
Nah, situasi yang mirip 1998 itu kini kembali terjadi di Indonesia. Krisis ekonomi melanda. Inflasi mendera. Harga barang-barang mengangkasa. Nilai tukar rupiah pun terpuruk seperti 1998.
Seperti Mbak Tutut, kini Menteri BUMN Erick Thohir pun mengimbau masyarakat mengeluarkan emas yang mereka simpan. Bukan untuk disumbangkan ke negara, tapi untuk disimpan di Bank Emas yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto.
Namun, faktanya bisa jadi sama. Emas itu akan dipinjam pemerintah dulu untuk memulihkan perekonomian nasional yang saat ini sedang krisis. Kas negara habis. Bahkan APBN pun defisit Rp31,2 triliun dalam dua bulan pertama 2025.
Aksi-aksi demonstrasi pun terjadi di mana-mana. Salah satu tuntutannya pun sama dengan 1998: hapus Dwifungsi TNI (dulu ABRI).
Akankah aksi-aksi demo itu berpuncak pada lengsernya Prabowo?
Seperti Soeharto pada Maret 1998, kini Prabowo pun kelihatan percaya diri. Mungkin bekas menantu Soeharto itu hanya mendapatkan informasi sepihak dari orang-orang terdekatnya yang “ABS” (Asal Bapak Senang).
Seperti Harmoko, Ketua Umum Golkar yang juga Ketua DPR/MPR saat itu yang memberikan masukan kepada Soeharto bahwa Indonesia dalam kondisi baik-baik saja, sehingga penguasa rezim Orde Baru itu pun mau didorong oleh Harmoko menjadi Presiden RI untuk periode ke-7.
Namun hanya dua bulan berselang, Harmoko pula yang meminta Soeharto mundur karena rakyat sudah tidak menginginkannya.
Kini, siapa orang kepercayaan Prabowo yang akan meminta bekas Komandan Jenderal Kopassus itu mundur dari kursi RI-1?
Situasi sudah genting. Bumi Pertiwi dalam kondisi hamil tua. Kalau ada faktor pemicunya, bayi revolusi segera lahir.
Rakyat di akar rumput (grass roots) sudah dalam kondisi kering kerontang. Kalau ada percikan api sedikit saja, bisa langsung terbakar. Peristiwa 1998 akan terulang. Semacam siklus 30 tahunan. Dari 1966 ke 1998, dari 1998 ke 2025.
Pendek kata, Ibu Pertiwi kini dalam kondisi hamil tua. Seperti diisyaratkan Erick Thohir. Revolusi di ujung jari!


























