Oleh: Irfan Wahidi
Setiap hari kita menyaksikan kematian di Gaza seolah hanya statistik. Jumlah korban meningkat tanpa jeda. Tangisan anak-anak, hancurnya rumah sakit, runtuhnya sekolah dan masjid—semua menjadi bagian dari realitas mengerikan yang seolah tak lagi membuat dunia tergugah. Yang paling menyesakkan: dunia tahu, tapi diam. Dunia bisa, tapi tak mau.
Perang antara Israel dan Hamas hanyalah wajah permukaan dari tragedi yang lebih besar: usaha sistematis pemusnahan bangsa Palestina. Kekerasan yang berkepanjangan dan tak seimbang ini membuat kita harus bertanya dengan jujur: adakah harapan yang tersisa untuk Palestina?
Selama Israel mendapat dukungan tak terbatas dari Amerika Serikat dan kekuatan besar dunia, sementara negara-negara mayoritas Muslim lebih banyak diam atau terbagi dalam kepentingan politik masing-masing, mustahil rasanya Palestina memenangkan perang ini secara militer. Maka gagasan ini muncul: bagaimana jika Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia, menawarkan sebuah pulau untuk bangsa Palestina membangun kehidupan baru?
Ini bukan retorika populis atau utopia murahan. Ini adalah wacana alternatif kemanusiaan yang patut dipertimbangkan secara serius.
Referendum untuk Kemanusiaan
Indonesia memiliki lebih dari 17 ribu pulau. Apakah tidak mungkin satu di antaranya dialokasikan untuk bangsa Palestina? Biarkan rakyat Indonesia menentukan melalui referendum. Jika suara mayoritas mendukung, maka kita tidak hanya menyelamatkan satu bangsa dari kepunahan, tapi juga mengukir sejarah baru solidaritas global.
Langkah monumental ini tentu tidak harus dibiayai oleh negara. Dunia akan bergerak. Lembaga-lembaga kemanusiaan, negara-negara simpatisan, donatur-donatur besar, bahkan jaringan diaspora Palestina akan bersatu dalam satu proyek besar: membangun Palestina baru di tanah yang aman, damai, dan bebas dari penjajahan.
Dengan teknologi konstruksi modern, negara ini dapat dibangun dalam hitungan bulan. Infrastruktur, sekolah, rumah sakit, perumahan, bahkan pusat-pusat budaya bisa diwujudkan dengan cepat. Indonesia hanya perlu menyediakan tanah dan niat baik.
Bukan Menyerah, Tapi Strategi Bertahan
Tentu saja, sebagian pihak akan menganggap gagasan ini sebagai bentuk menyerah pada Israel. Namun perlu diingat, ini bukan bentuk kekalahan, melainkan strategi bertahan untuk menyelamatkan nyawa dan masa depan generasi Palestina. Gaza dan Tepi Barat akan tetap menjadi simbol perjuangan. Masjidil Aqsa akan tetap menjadi pusat perhatian umat Islam. Tapi untuk saat ini, menyelamatkan nyawa lebih penting daripada mempertahankan simbol.
Dan sejarah telah memberi kita pelajaran berharga. Ketika pasukan Abrahah hendak menghancurkan Ka’bah, Abdul Muthalib tidak melawan dengan pedang. Ia menyerahkan urusan rumah Tuhan kepada Tuhan-Nya. Dan Tuhan pun menjawab dengan cara yang luar biasa. Sejarah tidak kekurangan mukjizat. Yang kurang hanya manusia yang mau bertindak dengan keberanian dan keyakinan.
Indonesia Bisa Menjadi Pelopor
Jika ide ini diwujudkan, Indonesia akan dikenang bukan hanya sebagai negara besar secara geografis dan populasi, tapi juga sebagai bangsa yang punya nyali moral dan kepemimpinan kemanusiaan. Dunia akan mencatat: di saat negara lain berpaling, Indonesia membuka pintu.
Gagasan ini tentu membutuhkan kajian teknis, diplomatik, dan politik. Tapi semuanya dimulai dari niat dan keberanian untuk membayangkannya. Dan jika kelak Indonesia menjadi tempat berlabuhnya bangsa Palestina yang terusir, maka negeri ini akan menjadi simbol kemanusiaan sejati di tengah dunia yang semakin dingin.
Kepada Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, kepada para pemimpin bangsa, dan seluruh rakyat Indonesia: mari mulai membuka ruang untuk gagasan ini. Jika kita benar-benar peduli pada Palestina, maka sudah saatnya kita berhenti sekadar mengutuk dan mulai memberi solusi.
























