Oleh : Damai hari Lubis
Seperti fajar yang menyingkap kegelapan malam, kebenaran selalu muncul meski tersembunyi. Ia tidak pernah datang tergesa, namun pasti. Dalam keabadian siklus alam itu, kita menemukan sebuah prinsip luhur: quid pro quo—sesuatu untuk sesuatu, apa untuk apa.
Namun tak semua jiwa mampu menangkap makna dari tukar-menukar itu. Quid pro quo bukan transaksi murahan di meja kekuasaan, bukan pula sekadar dekorasi dalam rapat-rapat penuh basa-basi. Ia hanya bisa hadir pada jiwa yang memiliki seberkas modulasi—getaran moral dan intelektual yang jujur, bukan sekadar gema dari ruang hampa mentalitas hedonis yang kini menjangkiti zaman.
Lalu seperti cahaya yang menyengat kabut dini hari, quid pro quo sejati itu muncul dari empat pejuang bernalar jernih. Mereka bukan hasil pabrikan dari revolusi mental yang miring ke kiri atau kanan. Mereka tak menjadikan alat pikir sebagai senjata retorika untuk mencuri. Rizal Fadillah, Dr. Roy, Dr. Rismon, dan dr. Tifa—mereka hadir membawa api kecil yang cukup menyala di tengah gulita. Perempuan gagah di antara lelaki perkasa itu, dr. Tifa, membuktikan bahwa keberanian bukan milik satu gender, tapi milik mereka yang tak sudi tunduk pada kebodohan sistemik.
Namun zaman memang sedang bermegah dalam gemerlap emas palsu. Di era ketika popularitas mengalahkan integritas, kontribusi para pakar jernih ini tak mendapat sambutan karpet merah, melainkan kriminalisasi. Ilmu tak dibalas hormat, tapi fitnah. Niat baik disambut aparat. Maka jangan heran jika quid pro quo mereka—yang bukan bau terasi kekuasaan—justru dibalas dengan upaya pembungkaman.
TPUA hadir sebagai penyeimbang, mengantar nalar menuju pembebasan dari status quo. Bahwa hidup bukan sekadar untuk hidup, melainkan bekal untuk mati. Hidup yang bermakna adalah yang melawan, bukan tunduk pada sistem yang cacat dan timpang. Fajar tak pernah bertanya kepada malam, “bolehkah aku datang?” Maka kita pun tak perlu bertanya kepada sesama saudara sebangsa, quo vadis—ke mana kita melangkah. Karena arah telah terang: menuju terang.
Kita percaya, bahwa satu langkah kecil dalam integritas lebih bernilai dari seribu langkah dalam kepura-puraan. Semoga harkat dan derajat kita tetap tinggi—bukan karena harta, bukan karena jabatan—tapi karena moralitas dan mentilitas yang layak jadi role model. Dan kelak, ketika ajal menjemput, kita setidaknya tak datang tangan kosong, melainkan membawa seberkas cahaya kecil: bahwa pernah hidup dan menyala.
Salam hormat kepada para pejuang. Kepada Rizal Fadillah dan segenap rekan TPUA. Kepada Dr. Roy, Dr. Rismon, dan dr. Tifa. Fajar telah menyingsing, dan kalian telah menyalakan cahayanya.

Oleh : Damai hari Lubis
























