• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik

Ali Syarief by Ali Syarief
April 17, 2026
in Feature, Politik
0
Indonesia Tidak Pernah Ajeg – Aneh Sendiri. Presidensial dalam Konstitusi, Parlementer dalam Praktik
Share on FacebookShare on Twitter

Indonesia adalah sebuah paradoks yang berjalan. Di atas kertas, ia tegas menyatakan diri sebagai negara dengan sistem presidensial. Presiden dipilih langsung oleh rakyat, tidak bergantung pada parlemen, dan memiliki mandat yang kuat serta tetap selama masa jabatan. Namun dalam praktiknya, wajah politik Indonesia justru sering menyerupai sistem parlementer—cair, kompromistis, dan sangat bergantung pada dinamika koalisi.

Di sinilah letak keanehan itu: Indonesia tidak pernah benar-benar ajeg pada sistem yang dipilihnya sendiri.

Dalam sistem presidensial murni, presiden adalah pusat eksekutif yang relatif independen. Ia tidak perlu “menyenangkan” parlemen untuk bertahan, karena legitimasi datang langsung dari rakyat. Kabinet pun idealnya diisi oleh profesional yang membantu presiden menjalankan visi kebijakan, bukan sekadar representasi politik.

Namun realitas Indonesia berkata lain.

Presiden, siapa pun orangnya, hampir selalu terjebak dalam logika parlementer: membangun dan merawat koalisi. Partai-partai politik menjadi aktor kunci yang harus dirangkul, bahkan sering kali dengan imbalan kursi kabinet. Menteri bukan semata pembantu presiden, tetapi juga representasi kepentingan partai. Akibatnya, kabinet berubah menjadi arena kompromi politik, bukan sekadar instrumen eksekusi kebijakan.

Lebih jauh lagi, stabilitas pemerintahan sering kali ditentukan oleh sejauh mana presiden mampu menjaga keseimbangan kepentingan partai di parlemen. Ini adalah ciri khas sistem parlementer, di mana eksekutif sangat bergantung pada dukungan legislatif. Bedanya, di Indonesia presiden tidak bisa dijatuhkan dengan mudah seperti dalam sistem parlementer, tetapi tekanan politiknya tetap terasa nyata.

Fenomena ini menciptakan situasi yang serba tanggung.

Di satu sisi, presiden memiliki kekuasaan besar secara konstitusional. Di sisi lain, secara politik ia harus terus bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan di parlemen. Keputusan strategis sering kali tidak sepenuhnya didasarkan pada kebutuhan publik, melainkan hasil tarik-menarik kepentingan elite politik.

Kondisi ini juga berdampak pada kualitas demokrasi. Alih-alih menghadirkan checks and balances yang sehat, relasi antara eksekutif dan legislatif justru sering berubah menjadi kolaborasi pragmatis. Oposisi melemah karena sebagian besar partai memilih masuk ke dalam lingkar kekuasaan. Kritik menjadi langka, bukan karena semuanya berjalan baik, tetapi karena terlalu banyak kepentingan yang terikat.

Dalam konteks ini, Indonesia tampak seperti menggabungkan dua sistem tanpa benar-benar menguasai salah satunya. Presidensial yang seharusnya tegas menjadi lentur, sementara praktik parlementer yang muncul tidak disertai mekanisme akuntabilitas yang kuat seperti di negara-negara parlementer.

Maka lahirlah sistem hibrida yang unik—atau jika ingin lebih jujur, ganjil.

Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah ini salah atau benar, tetapi apakah kondisi ini efektif bagi rakyat. Ketika sistem menjadi tidak ajeg, yang sering kali terjadi adalah kebijakan kehilangan arah. Pemerintahan sibuk menjaga keseimbangan politik, sementara kepentingan publik menjadi variabel yang dinegosiasikan.

Indonesia, dengan segala kompleksitasnya, memang tidak bisa disederhanakan. Namun ketidakajegan yang terus dibiarkan berisiko menjelma menjadi kebiasaan. Dan ketika keanehan sudah dianggap normal, di situlah masalah sesungguhnya dimulai.

Indonesia tidak hanya berbeda—ia sering kali berjalan sendiri, dengan logika yang bahkan tidak selalu ia pahami sendiri.

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Negara Kesatuan dengan Rasa Federal

Next Post

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ali Syarief

Ali Syarief

Related Posts

Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?
Feature

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara
Feature

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik
Birokrasi

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Next Post
Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Ini Bukan Dendam Biasa: Jejak Pembusukan Hukum di Balik Kasus Andrie Yunus

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Baru Dilantik, Ketua Ombudsman Langsung Berhadapan dengan Hukum

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
Feature

Pancasila: Lahir untuk Mati!

by Karyudi Sutajah Putra
June 2, 2026
0

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik Konsultan & Survei Indonesia (KSI) Jakarta - Baru pada 2016 lalu Bung Karno mendapat...

Read more
Evakuasi 380 WNI dari Iran Akan Lewat Jalur Darat, Pemerintah: Wilayah Udara Tidak Bisa Dilewati

Indonesia Kutuk Israel: Mengapa Kak Sugiono Kebakaran Jenggot?

May 25, 2026
Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

Tangsel Ngotot Bangun PSEL Sendiri Tanpa Aglomerasi, Proyek Terancam Gagal

May 24, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026
Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

Jokowi Turun Gunung: Ambisi Kekuasaan dan Bayang-Bayang Jeruji Penjara

June 3, 2026
Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

Nanik dan Tantangan Membangun Kembali Kepercayaan Publik

June 3, 2026
Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

Mengapa Jokowi Tak Diundang Prabowo?

June 3, 2026
Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

Prabowo Copot Kepala BGN Dadan Hindayana, Naniek Deyang Penggantinya

June 3, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

Ratna Sarumpaet Soroti Rekam Jejak Nanik Daeng Usai Ditunjuk Jadi Kepala BGN Baru

June 3, 2026
Siapa Pengganti Menpan RB, Nama Yg Dikantong Jokowi atau  Megawati?

Semua Parpol Akan Menjadi Lawan Jokowi

June 3, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Loading Comments...