Jakarta-Fusilatnews–Pelantikan Prabowo Subianto sebagai Presiden Indonesia telah menarik perhatian dunia internasional, dengan respons yang bervariasi dari berbagai negara. Di kawasan Asia Tenggara, serta dari kekuatan besar global seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China, reaksi terhadap kepemimpinan Prabowo mencerminkan kepentingan strategis masing-masing negara.
Rusia dan China: Mitra Strategis
Rusia menyambut baik pelantikan Prabowo, melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat hubungan bilateral di bidang pertahanan dan geopolitik. Sebelumnya, Prabowo sudah melakukan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin pada 2024, membahas kerja sama pertahanan. Rusia berharap dapat memperdalam hubungan dengan Indonesia sebagai kekuatan penting di Asia Tenggara.
Sementara itu, China menaruh harapan besar terhadap keberlanjutan kemitraan ekonomi dan investasi. Indonesia adalah bagian penting dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative), dan Beijing melihat potensi untuk mempererat hubungan di bawah kepemimpinan Prabowo. Meski demikian, ada kekhawatiran tentang ketegangan di Laut China Selatan yang mungkin akan membutuhkan manuver diplomatik yang hati-hati
Amerika Serikat: Optimisme dan Kehati-hatian
Amerika Serikat memberikan respons positif namun berhati-hati terhadap Prabowo. Sebagai mantan Menteri Pertahanan, Prabowo dianggap bisa meningkatkan hubungan pertahanan antara kedua negara. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin sebelumnya telah bertemu dengan Prabowo, menunjukkan keinginan Washington untuk menjaga kemitraan strategis yang kuat di kawasan
Negara-negara Timur Tengah
Negara-negara di Timur Tengah, terutama yang terlibat dalam konflik Palestina-Israel, memandang Prabowo sebagai sosok yang akan memainkan peran penting dalam diplomasi internasional. Ia telah berkomitmen mendukung solusi dua negara dan menawarkan peran Indonesia dalam misi perdamaian.
Reaksi dari ASEAN
Negara-negara ASEAN menyambut Prabowo dengan hati-hati, mengingat posisinya sebagai pemimpin negara terbesar di kawasan ini. Singapura dan Malaysia melihat potensi kelanjutan hubungan ekonomi yang stabil, tetapi tetap memantau arah kebijakan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinannya. Singapura, misalnya, berharap kerja sama ekonomi dan keamanan tetap kuat, terutama dalam menghadapi tantangan regional seperti keamanan maritim dan perdagangan.
Vietnam dan Thailand, yang juga memiliki hubungan perdagangan signifikan dengan Indonesia, menantikan bagaimana kebijakan ekonomi Prabowo akan berdampak pada arus investasi dan kerja sama regional. Kedua negara ini tertarik untuk terus mempererat hubungan perdagangan dalam kerangka ASEAN.
Pasar Keuangan dan Kekhawatiran Ekonomi
Dari sisi pasar keuangan, tanggapan internasional beragam. Lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings dan Moody’s mencatat potensi beban fiskal dari program-program ambisius Prabowo, seperti makanan gratis dan pembangunan infrastruktur Ibu Kota Nusantara. Meski demikian, mereka tetap optimistis terhadap stabilitas jangka panjang ekonomi Indonesia.
Investor global tetap waspada terhadap kebijakan ekonomi di masa depan, terutama terkait anggaran negara 2025 yang akan menjadi yang pertama di bawah kepemimpinan Prabowo. Banyak yang menunggu bagaimana Prabowo akan menyeimbangkan antara belanja infrastruktur dan janji kampanye lainnya.
Pelantikan Prabowo menandai babak baru bagi Indonesia di kancah internasional, dengan banyak pihak menantikan arah kebijakan luar negeri dan dalam negerinya.
Berbagai Sumber Resmi























