Malika Dwi Ana
Alih-alih memberikan klarifikasi tegas dan bukti atas tuduhan serius yang dilontarkan Amien Rais, publik justru disuguhi kemunculan kembali konflik lama rumah tangga antara Ahmad Dhani dan Maia Estianty. Timing yang sangat tepat ini memicu spekulasi adanya upaya pengalihan perhatian dari isu sensitif di lingkaran Istana.
Dalam video berjudul “Jauhkan Istana dari Skandal Moral” yang beredar sekitar 1 Mei 2026, Amien Rais menuding Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya terlibat penyimpangan seksual dan memiliki kedekatan yang “tidak wajar” dengan Presiden Prabowo Subianto. Amien menuntut agar Teddy segera diganti. Tak lama kemudian, video tersebut hilang dari peredaran, sementara pihak pemerintah melalui juru bicaranya menyebut tuduhan tersebut sebagai hoaks dan fitnah.
Namun, bukan penjelasan resmi, investigasi internal, atau konfrontasi fakta, yang muncul justru adalah gelombang pemberitaan ulang tentang perceraian Dhani dan Maia tahun 2008. Dokumen lama, tudingan perselingkuhan, hingga talak tiga lewat SMS kembali diungkit dan menjadi bahan pembicaraan hangat di media sosial.
Dalam studi retorika dan komunikasi politik, praktik semacam ini dikenal sebagai red herring—yakni teknik melempar isu baru yang emosional dan sensasional untuk mengalihkan fokus masyarakat dari masalah pokok yang sulit dijawab. Alih-alih membantah tuduhan dengan bukti, ruang publik malah dibanjiri isu yang lebih ringan namun provokatif hingga tuduhan awal soal orientasi seksual menyimpang di kalangan istana tenggelam.
Fenomena ini juga terkait dengan distraction politics (politik pengalihan perhatian) dan issue piling (penumpukan isu). Di era attention economy, di mana perhatian publik menjadi komoditas paling berharga, timing dan sensasionalisme sebuah isu jauh lebih menentukan daripada substansinya.
Drama lama yang dihidupkan kembali ini terlalu pas untuk disebut kebetulan. Isu selebriti memang jauh lebih mudah viral dan menguras energi publik dibandingkan membahas etika jabatan serta integritas pejabat negara.
Bukan kali pertama teknik ini terlihat di panggung politik Indonesia. Pola ini digunakan secara berulang-ulang. Tuduhan terhadap pejabat tinggi soal moral dan kedekatan pribadi dengan presiden merupakan isu serius yang berpotensi menyentuh integritas institusi. Namun respons yang muncul cenderung defensif: yakni pembungkaman narasi, tuduhan balik “hoaks”, dan munculnya isu lain sebagai pengalih.
Akibatnya, diskusi publik yang semestinya mendalam tentang transparansi kekuasaan, standar moral pemimpin, dan konflik kepentingan, berubah menjadi perdebatan gosip selebriti: Dhani yang salah atau Maia yang menjadi korban.
Amien Rais memang dikenal sebagai figur yang kontroversial. Tuduhannya sering kali dianggap kurang didukung bukti kuat. Namun, cara Istana dan pendukungnya menanggapi tuduhan tersebut justru menuai kritik. Alih-alih membuka ruang klarifikasi secara terbuka, muncul kesan upaya mengubur isu dengan drama yang lebih ringan.
Di sebuah negara demokrasi yang mengklaim telah memasuki era reformasi, masyarakat berhak mendapatkan transparansi dan penjelasan yang memadai, bukan sekadar pengalihan isu. Sebab, setiap kali isu krusial ditutupi dengan red herring, yang rusak bukan hanya kebenaran, melainkan juga kualitas demokrasi dan akal sehat publik.
Malika Dwi Ana



















