Fusilatnews – Joko Widodo sudah habis langkah. Ia berjalan di antara bayang-bayang masa lalunya, menatap sisa-sisa citra yang dulu ia bangun dengan penuh keyakinan. Kini, citra itu tak lagi menjadi lentera, melainkan bara yang membakar dirinya perlahan.
Ada saat dalam hidup seorang manusia ketika keheningan menjadi musuh. Di sanalah Jokowi kini berdiri—di antara gema masa lalu yang terus menuntut jawaban, dan kenyataan bahwa waktu tak lagi bisa disogok oleh pencitraan.
Ketika ia berkata, “bila sudah dinyatakan oleh Ibu Rektor UGM bahwa ijazahnya asli, ya sudah,” terdengar bukan sebagai kepastian, melainkan sebagai keluh lirih seorang yang kehilangan daya nalar. Kalimat itu bagai daun kering di musim kemarau: rapuh, ringkih, dan mudah terbakar oleh logika.
Orang yang memiliki kebenaran tidak membutuhkan pelindung. Ia cukup berdiri di bawah cahaya, menampakkan dirinya sebagaimana adanya. Tetapi Jokowi memilih bersembunyi di balik tembok otoritas—di balik nama besar seorang rektor, seolah suara akademik bisa menutup lubang keraguan yang kian menganga. Di situlah letak kegetiran itu: ketika kebenaran diganti dengan legitimasi formal, dan bukti diganti dengan ucapan.
“Ya sudah,” katanya—dua kata yang seolah ingin menutup bab, padahal justru membuka lubang baru. Sebab kebenaran yang tak dihadirkan akan selalu hidup sebagai hantu: bergentayangan di ruang publik, mengganggu tidur siapa pun yang berutang kepadanya.
Sejak saat itu, Jokowi tampak kehilangan arah. Ia sering muncul di ruang-ruang yang bukan lagi miliknya, bertemu dengan kekuasaan yang dulu ia tinggalkan, seolah ingin memastikan bahwa bayang-bayangnya belum benar-benar padam. Tetapi justru di situlah tampak kepanikan yang halus: ketakutan untuk menjadi tidak penting.
Dan ketika kabar reuni Fakultas Kehutanan UGM mencuat, seolah-olah udara menjadi sedikit tebal oleh aroma politik lama. Di sana, mungkin ia ingin kembali merasakan tepuk tangan, nostalgia, dan kesetiaan. Tapi yang hadir kini bukan lagi semangat, melainkan kesunyian yang berisik—karena mereka yang datang membawa peluru tanpa mesiu, selongsong kosong yang hanya memantulkan suara, tapi tak punya daya ledak.
Reuni itu bukan perayaan persaudaraan, melainkan upaya pengelabuan. Ia seperti pertunjukan wayang yang dalangnya sudah tak lagi di panggung, namun masih ingin menggerakkan boneka dari kejauhan. Tapi tangan itu kini gemetar, dan tali-tali wayang sudah mulai putus satu per satu.
Kebohongan, sekecil apa pun, akan selalu menuntut tempat bersembunyi. Namun ruang sembunyi itu kini kian sempit. Di setiap pojok, bayangan kebenaran menunggu. Dan dalam kesempitan itu, Jokowi tampak gelisah—seperti seseorang yang tahu bahwa seluruh selubung telah menipis, dan waktu sebentar lagi akan menelanjangi semuanya.
Ia pernah menjadi simbol kesederhanaan, lambang kejujuran, bahkan harapan. Tapi kini simbol-simbol itu menjadi beban. Ia bukan lagi wajah dari rakyat kecil, melainkan cermin dari paradoks kekuasaan: yang semula tampak tulus, namun akhirnya tersesat oleh citra yang diciptakannya sendiri.
Mungkin, pada akhirnya, yang tersisa dari Jokowi bukanlah kekuasaan atau warisan, melainkan pelajaran: bahwa kekuasaan yang dibangun di atas citra adalah istana pasir yang runtuh oleh ombak kebenaran.
Dan di tengah reruntuhan itu, ia masih mencoba tertawa, masih ingin membuat panggung baru, mungkin dengan reuni, mungkin dengan pertemuan simbolik—seolah sejarah masih mau diajak bercanda. Tapi sejarah tak punya selera humor. Ia hanya mencatat, dengan tinta dingin, bahwa semua peluru yang dulu ia punya kini hanyalah selongsong kosong: nyaring bunyinya, tapi tak lagi mematikan apa-apa.





















