• Login
ADVERTISEMENT
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content
No Result
View All Result
Fusilat News
No Result
View All Result
ADVERTISEMENT
Home Feature

Robohnya Pancasila Kami

Karyudi Sutajah Putra by Karyudi Sutajah Putra
March 1, 2023
in Feature
0
Indonesia Negeri Para Bedebah
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Karyudi Sutajah Putra, Analis Politik pada Konsultan dan Survei Indonesia (KSI)

Pancasila sesungguhnya telah roboh. Ups, nanti dulu!

Ya, yang roboh adalah nilai-nilai praksisnya, bukan Pancasila-nya itu sendiri. Kok bisa?

Ya bisalah. Pancasila sudah cukup lama hanya terucap di bibir saja. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya praktis sudah banyak yang tidak mengamalkannya lagi. Bahkan seolah nilai-nilainya sudah terpisah dari Pancasila-nya itu sendiri. Sebab itu, para pemimpin negara dan elite politik mau sehari berteriak Pancasila seribu kali pun tak akan berpengaruh. Pancasila tetap loyo. 

Kasus penganiayaan Cristalino David Ozora (17) oleh Mario Dandy Satriyo (20), yang disusul dengan terbongkarnya harta “karun” Rafael Alun Trisambodo, ayahanda Mario, adalah contoh mutakhir Pancasila telah kehilangan nilai-nilai praksisnya. 

Kalau masih mengamalkan Pancasila, terutama Sila I “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Sila II “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, tentu Mario tak akan melakukan penganiayaan kepada David, apalagi sampai koma. 

Kalau masih punya nilai tenggang rasa dan kepekaan sosial, terutama terhadap si miskin, sebagaimana terkandung dalam Pancasila terutama Sila V “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, maka Mario tak perlu bergaya hidup mewah, dan Rafael sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pun tak perlu menumpuk harta hingga Rp56,1 miliar, bahkan masih banyak yang disembunyikan. 

Gayus Tambunan dan Angin Prayitno Aji serta yang lainnya yang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan tak perlu menjadi mafia. 

Lebih parah lagi, gaya hidup mewah atau hedonis justru difasilitasi DJP dengan mengizinkan atau setidaknya membiarkan para pegawainya membuat klub moge (motor gede).

Di pihak lain, di luar sana masih banyak rakyat hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem. Bahkan untuk sekadar bisa makan pun sulitnya sudah minta ampun. 

Itu baru sekelumit. Itu baru fenomena gunung es di lautan. Sebab ternyata bukan hanya Rafael yang belum menyetorkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) 2022 ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ada lebih dari 13 ribu pegawai Kemenkeu, terbanyak dari DJP, yang belum menyetorkan LHKPN 2022 ke KPK saat kasus Mario-Rafael mencuat ke permukaan. 

Lihat pula para pejabat, baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif banyak yang terlibat korupsi. Kalau mereka mengamalkan Pancasila terutama Sila I “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Sila V “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, niscaya para penyelenggara negara itu tidak akan korupsi. Padahal hampir setiap hari mereka melafalkan Pancasila, dan di ruang-ruang kantor mereka pun terpajang teks Pancasila. 

Di eksekutif, sejak awal era Reformasi hingga kini sudah ada puluhan menteri yang ditangkap KPK karena korupsi.

Di level daerah, sejak pemilihan kepala daerah langsung digelar tahun 2004 hingga kini, sudah ada 400-an kepala daerah dan wakil kepala daerah terlibat korupsi. 

Di legislatif, sejak awal era Reformasi hingga kini sudah ada ratusan anggota DPR RI ditangkap KPK karena korupsi, dan sudah sekitar 3.700 anggota DPRD dipenjara karena korupsi.

Korupsi di legislatif bahkan menyentuh puncaknya, di mana Setya Novanto, Ketua DPR RI saat itu, dan Irman Gusman, Ketua DPD RI saat itu ditangkap KPK karena korupsi.

Di yudikatif, sudah puluhan hakim dan hakim agung dicokok KPK karena korupsi. Korupsi di ranah yudikatif juga menyentuh puncak, di mana Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar dan Hakim MK Patrialis Akbar ditangkap KPK karena korupsi.

Begitu pun di Mahkamah Agung (MA) di mana dua hakim agung, yakni Sudrajad Dimyati dan Gazalba Saleh baru-baru ini ditangkap KPK karena korupsi. 

Demikian sempurnanya korupsi di Indonesia, karena melibatkan para pejabat dari tiga lembaga yang merupakan Trias Politika, yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Korupsi juga terjadi di Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan yang mengurus soal akhlak dan moral, di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Kesehatan yang mengurus kesehatan raga dan jiwa, dan di Kementerian Sosial yang mengurus sosial kemasyarakatan. Begitu sempurnanya korupsi di Indonesia.

Di sisi lain, rakyat pun kerap alpa mengamalkan Pancasila. Lihat saja, masih banyak terjadi persekusi terhadap pemeluk agama minoritas di berbagai daerah di Indonesia. Kalau mereka mengamalkan Pancasila, terutama Sila I dan II serta Sila III “Persatuan Indonesia”, niscaya mereka tidak akan melakukan persekusi terhadap pemeluk lain agama. 

Pendek kata, Pancasila telah kehilangan nilai-nilai praksisnya. Pancasila hanya terucap di bibir saja. 

Kesaktian Pancasila

Setiap 1 Oktober bangsa ini memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Benarkah Pancasila telah sungguh-sungguh sakti? 

Di bawah kokangan senjata, mungkin saja. Tapi lambat laun bila Pancasila telah benar-benar kehilangan seluruh nilai praksisnya, robohnya Pancasila hanya soal waktu saja. 

Kita sesungguhnya tak perlu khawatir akan tumbuh subur ideologi ekstrem kanan dan ekstrem kiri di Indonesia. Sepanjang nilai-nilai Pancasila benar-benar diamalkan, sehingga tidak ada lagi kesenjangan ekonomi, sosial,  hukum, terutama kesenjangan keadilan di mana palu hakim hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, niscaya tidak akan ada warga negara Indonesia mencari ideologi alternatif selain Pancasila. Tapi kalau Pancasila kehilangan nilai-nilai praksisnya, secara alamiah mereka akan mencari ideologi alternatif, apakah itu ekstrem kiri atau pun ekstrem kanan yang menghalalkan terorisme. 

Dan robohnya Pancasila hanya soal waktu saja. Akar dari semua persoalan di republik ini adalah tidak dilaksanakannya nilai-nilai Pancasila, baik oleh masyarakat biasa maupun terutama oleh para pejabat dan abdi negara. Itulah!

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
ADVERTISEMENT
Previous Post

Ketika Dosen Kehilangan Kodrat

Next Post

Demi Atasi Banjir, Akhirnya Program Sumur Resapan Mantan Gubernur Anies Diteruskan Juga Oleh Pj. Gubernur Heru

Karyudi Sutajah Putra

Karyudi Sutajah Putra

Related Posts

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan
Feature

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026
Economy

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI
Birokrasi

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026
Next Post
Demi Atasi Banjir, Akhirnya Program Sumur Resapan Mantan Gubernur Anies Diteruskan Juga Oleh Pj. Gubernur Heru

Demi Atasi Banjir, Akhirnya Program Sumur Resapan Mantan Gubernur Anies Diteruskan Juga Oleh Pj. Gubernur Heru

Sri Mulyani Indrawati Sang Jendral Ekonomi yang Diktaktor, Bekerja untuk Siapa?

Bubarkan Geng Moge Saat SMI punya Moge, Itu Kemunafikan!

Notifikasi Berita

Subscribe

STAY CONNECTED

ADVERTISEMENT

Reporters' Tweets

Pojok KSP

  • All
  • Pojok KSP
IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal
Komunitas

IPW Apresiasi Kapolda NTT Terkait Mafia BBM Ilegal

by Karyudi Sutajah Putra
April 30, 2026
0

FusilatNews - Indonesia Police Watch (IPW) mengapresiasi Kapolda Nusa Tenggara Timur (NTT) Irjen Rudi Darmoko yang tidak segan-segan untuk menangkap...

Read more
Presiden Prabowo, Waspada! Gejolak September Bisa Jadi Strategi Politik Tersembunyi

Prabowo Mulai Panik!

April 29, 2026
Reshuffle Kabinet “4L”

Reshuffle Kabinet “4L”

April 27, 2026
Prev Next
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

Pernyataan WAPRES Gibran Menjadi Bahan Tertawaan Para Ahli Pendidikan.

November 16, 2024
Zalimnya Nadiem Makarim

Zalimnya Nadiem Makarim

February 3, 2025
Beranikah Prabowo Melawan Aguan?

Akhirnya Pagar Laut Itu Tak Bertuan

January 29, 2025
Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

Borok Puan dan Pramono Meletup Lagi – Kasus E-KTP

January 6, 2025
Copot Kapuspenkum Kejagung!

Copot Kapuspenkum Kejagung!

March 13, 2025
Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

Setelah Beberapa Bulan Bungkam, FIFA Akhirnya Keluarkan Laporan Resmi Terkait Rumput JIS

May 19, 2024
Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

Salim Said: Kita Punya Presiden KKN-nya Terang-terangan

24
Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

Rahasia Istana Itu Dibuka  Zulkifli Hasan

19
Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

Regime Ini Kehilangan Pengunci Moral (Energi Ketuhanan) – “ Pemimpin itu Tak Berbohong”

8
Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

Menguliti : Kekayaan Gibran dan Kaesang

7
Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

Kemenag Bantah Isu Kongkalikong Atur 1 Ramadan

4
POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

POLITIKUS PELACUR – PARTAI KOALISI JOKOWI BUBAR

4
Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026
Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

Menghadang “Jalur Senyap” Remiliterisasi: Membedah Bahaya RPP Tugas TNI

May 1, 2026

Menyoal Paradoks Regulasi di Sektor Multinasional

May 1, 2026

Mengawal Asta Cita di KIT Batang: Transformasi Industri Berbasis Kedaulatan dan Pertahanan

May 1, 2026

Manajemen Risiko di Masa Perang (Fondasi Survival Economy: Pangan, Air, dan Energi)

May 1, 2026

Group Link

ADVERTISEMENT
Fusilat News

To Inform [ Berita-Pendidikan-Hiburan] dan To Warn [ Public Watchdog]. Proximity, Timely, Akurasi dan Needed.

Follow Us

About Us

  • About Us

Recent News

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

Ketika Iman Dijadikan Tujuan, Tapi Ilmu Menghilang dari Arah: Sebuah Paradoks Pendidikan

May 1, 2026

Memotret Insight, Meneropong Foresight: Berbasis Possibility vs Probability sebagai Produk Internal Auditor

May 1, 2026

Berantas Kezaliman

Sedeqahkan sedikit Rizki Anda Untuk Memberantas Korupsi, Penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan Yang Tumbuh Subur

BCA No 233 146 5587

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politik
    • Pemilu
    • Criminal
    • Economy
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Sport
    • Jobs
  • Feature
  • World
  • Japan
    • Atarashi Watch On
    • Japan Supesharu
    • Cross Cultural
    • Study
    • Alumni Japan
  • Science & Cultural
  • Consultants
    • Law Consultants
    • Spiritual Consultant
  • Indonesia at Glance
  • Sponsor Content

© 2021 Fusilat News - Impartial News and Warning

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist